Oleh: Pastor John Lewar SVD
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan Katolik hari Selasa 7 April 2026.
Tema renungan Katolik hari ini "Dari Air Mata Menjadi Sukacita".
Renungan Katolik hari ini ntuk hari Selasa dalam oktaf Paskah, Santo Yohanes de la Salle, Pangaku Iman, Beato Henry Walpole, Martir, dengan warna liturgi putih.
Adapun bacaan liturgi Katolik hari Selasa 7 April 2026 adalah sebagai berikut:
Baca juga: Renungan Katolik Selasa 7 April 2026, Aku Melihat Tuhan
"Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dirimu dibaptis dalam nama Yesus."
Pada hari Pentakosta, berkatalah Petrus kepada orang-orang Yahudi, “Seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”
Ketika mendengar hal itu, hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain, “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”
Jawab Petrus kepada mereka, “Bertobatlah, dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu; maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
Sebab bagi kamulah janji itu, bagi anak-anakmu dan bagi semua orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”
Dan dengan banyak perkataan lain lagi Petrus memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh, dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya, “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 33:4-5.18-19.20.22
Ref. Sabda-Mu adalah kebenaran, hukum-Mu kebebasan.
Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takwa, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya; Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita. Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
Bait Pengantar Injil Mzm 118:24
Ref. Alleluya, alleluya, alleluya.
Inilah hari yang dijadikan Tuhan, marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya.
Bacaan Injil Yohanes 20:11-18
"Aku telah melihat Tuhan, dan Dialah yang mengatakan hal-hal itu kepadaku."
Setelah makam Yesus kedapatan kosong, maka Maria Magdalena, berdiri dekat kubur dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu,
dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring.
Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang, dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.”
Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang, dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?
Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka bahwa orang itu adalah penunggu taman. Maka ia berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”
Kata Yesus kepada-Nya, “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!” artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa.
Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Tuhanlah yang mengatakan hal-hal itu kepadanya.
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
"Dari Air Mata Menjadi Sukacita"
Hari itu adalah hari yang paling gelap dalam hidup Maria Magdalena. Ia berdiri di luar kubur dengan hati yang hancur. Ia menangis karena kehilangan Yesus yang ia kasihi telah mati, dan kini tubuh-Nya pun tidak ada. Air matanya mencerminkan perasaan putus asa, kebingungan, dan duka yang mendalam. Dalam kondisi itu, ia bahkan tidak menyadari bahwa Yesus sendiri berdiri di dekatnya. Kesedihan sering kali membatasi pandangan kita, membuat kita sulit melihat bahwa Tuhan sebenarnya hadir.
Namun, segalanya berubah ketika Yesus memanggil namanya, “Maria!” Satu panggilan pribadi itu membuka matanya. Ia mengenali Sang Guru. Air mata kesedihan berubah menjadi sukacita yang melimpah dari kehilangan menjadi perjumpaan, dari keputusasaan menjadi pengharapan.
Suatu ketika, saya berjumpa dengan seorang teman yang sedang mengalami kesedihan mendalam karena kehilangan pekerjaan. Ia merasa terpuruk dan tidak tahu harus mulai dari mana. Beberapa minggu kemudian, ia menceritakan bagaimana ia mulai menemukan kembali sukacita dalam hidupnya. Ia menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya, bahkan di saat terberat sekalipun.
“Awalnya, aku merasa seperti Maria Magdalena hanya bisa menangis tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Tapi entah kenapa, suatu hari aku merasa Tuhan berbicara padaku, memberiku kekuatan baru,” katanya. Meskipun situasinya belum berubah, hatinya dipenuhi harapan. Ia mulai melihat peluang baru yang sebelumnya tidak ia sadari. Air mata kesedihan itu memang nyata, tetapi ketika ia membuka hati untuk merasakan kehadiran Tuhan, sukacita pun mulai datang menggantikan rasa kehilangan.
Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak jauh saat kita menangis Dia dekat, bahkan lebih dekat dari yang kita sadari. Yesus mengenal kita secara pribadi; Ia memanggil nama kita, sama seperti Ia memanggil Maria. Sukacita sejati lahir dari perjumpaan dengan Kristus yang bangkit, bukan semata-mata dari keadaan yang berubah.
Mungkin hari ini kita juga sedang “berdiri di depan kubur” kehidupan—menghadapi kehilangan, kegagalan, atau harapan yang pupus. Air mata itu nyata dan manusiawi. Namun, firman ini mengingatkan bahwa cerita tidak berhenti di air mata. Kebangkitan Yesus mengubah segalanya.
Saat kita membuka hati dan mendengar panggilan-Nya, kita akan mengalami perubahan yang sama dari air mata menjadi sukacita. Semoga renungan ini memberi inspirasi, terutama ketika kita menghadapi tantangan hidup.
Tuhan selalu memiliki cara untuk mengubah duka menjadi sukacita, seperti yang Ia lakukan bagi Maria Magdalena dan juga bagi kita dalam kehidupan sehari-hari.
Doa
Tuhan Yesus, di saat aku berduka dan merasa kehilangan, tolong aku menyadari kehadiran-Mu. Panggil namaku seperti Engkau memanggil Maria, agar aku dapat melihat bahwa Engkau hidup dan dekat denganku. Ubah air mataku menjadi sukacita di dalam-Mu. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Pesta Paskah. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. (Sumber the Katolik.com/kgg).