WARTAKOTALIVE.COM -- Di tengah ancaman penghancuran total yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, akhirnya memecah kesunyian.
Melalui pernyataan tertulis resminya pada Senin (6/4/2026) yang dilansir dari CNN, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei tersebut menegaskan bahwa rentetan pembunuhan terhadap komandan senior militer Iran dalam beberapa hari ini, tidak akan pernah meretakkan tekad jihadis Republik Islam Iran.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah Israel mengonfirmasi tewasnya dua tokoh kunci: Mayor Jenderal Majid Khademi (Kepala Intelijen IRGC) dan Asghar Bagheri (Komandan Operasi Khusus Pasukan Quds).
Baca juga: Ultimatum Terakhir Trump: Hancurkan Iran dalam Semalam Jika Selat Hormuz Tak Dibuka Selasa Malam
“Ia telah menghabiskan puluhan tahun dalam pengabdian yang tenang dan penuh dedikasi di bidang keamanan, intelijen, dan pertahanan,” kata Khamenei pada Senin, dalam pernyataan tertulis.
Khademi, disebut sebagai salah satu dari tiga orang paling berpengaruh di Garda Revolusi.
Ia gugur dalam serangan udara presisi oleh Israel di Teheran.
"Barisan pejuang dan komvatan di jalur kebenaran serta angkatan bersenjata yang berkorban, telah bersama membentuk front yang sangat dalam. Terorisme dan kejahatan tidak akan bisa retakkan resolusi kami," tegas Mojtaba.
Menurut Mojtaba para pejuang dan militer Iran sudsh membentuk front yang begitu kuat dan berakar dalam.
"Sehingga tidak dapat mematahkan tekad mereka untuk cita-cita jihad,” katanya.
Di sisi lain, respons Iran tak hanya datang dari militer, tetapi juga jalur diplomasi dan opini publik.
Politikus senior Iran Saeed Jalili justru menyarankan agar dunia membiarkan Trump terus berbicara.
“Tidak perlu membungkamnya. Pernyataannya justru membuka wajah asli Amerika,” ujarnya.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyerukan kepada rakyat Amerika untuk menuntut pertanggungjawaban pemerintah mereka atas apa yang ia sebut sebagai 'perang agresif yang tidak adil'.
Epic Fury vs Perang Psikologis
Sementara itu, suasana di Gedung Putih berubah mencekam sekaligus kacau.
Donald Trump, dalam konferensi pers yang disebut kritikus sebagai 'pertunjukan paling gila', memberikan ultimatum final hingga Selasa pukul 20.00 malam.
Trump mengancam akan mengebom seluruh infrastruktur sipil Iran—termasuk setiap jembatan dan pembangkit listrik—hingga membuat negara itu kembali ke 'zaman batu'.
Baca juga: Kepala Intelijen IRGC dan Komandan Pasukan Quds Iran Tewas Diserbu Militer Israel
"Seluruh negara bisa tamat dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," ujar Trump sesumbar.
Ia mengklaim warga sipil Iran justru 'memohon' AS untuk terus menjatuhkan bom demi menggulingkan rezim, sebuah klaim yang langsung menuai ejekan dari pengamat internasional.
Di balik retorika 'dominasi militer' Trump, data Pentagon menunjukkan ketidakkonsistenan.
Meski Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengeklaim volume serangan terus meningkat secara eksponensial, data komando pusat menunjukkan intensitas stabil di angka 250 serangan per hari.
Namun, dengan jatuhnya jet tempur AS dan evakuasi pilot yang dramatis baru-baru ini, ancaman serangan besar-besaran 'Operasi Epic Fury' pada Selasa malam diprediksi akan menjadi babak paling berdarah dalam sejarah modern Asia Barat.