TRIBUNNEWS.COM - Sosok Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules kembali jadi sorotan publik setelah terlibat perdebatan dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara).
Perdebatan Hercules dan Ara ini diketahui terkait proses penggunaan lahan untuk pembangunan rumah susun (rusun) di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Lantas bagaimana kronologi dan duduk perkara perdebatan Hercules dengan Maruarar Sirait tersebut?
Sebelumnya pada 26 Maret 2026, Presiden Prabowo Subianto sempat melakukan blusukan ke kawasan pinggir rel kereta api di Senen, Jakarta Pusat.
Disana Prabowo melihat banyak permukiman warga yang berada di bantaran rel. Kepada mereka Prabowo pun berjanji untuk membangun rumah hunian yang layak.
"Mendengar aspirasi masyarakat di sana, Insyaallah kita akan segera membangun hunian yang layak untuk masyarakat di daerah tersebut dengan cepat," ujar Prabowo, dilansir Kompas.com, Selasa (7/4/2026).
Untuk mewujudkan janji Prabowo kepada masyarakat di bantaran rel di Senen tersebut, Menteri PKP Maruarar Sirait pun mulai bergerak mencari dan meninjau lahan negara untuk membangun rusun.
Salah satu lahan yang ditinjau Ara adalah lahan negara di kawasan Senen.
Ada juga lahan di sejumlah daerah yang ditinjau, kemudian diketahui bahwa lahan negara tersebut dikuasai oleh organisasi masyarakat (ormas).
Di antarannya adalah lahan negara yang berada di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Saat mengecek lahan, Ara juga sempat berdebat dengan Ketua GRIB Jaya Rosario de Marshall alias Hercules.
Baca juga: Sosok Hercules yang Debat dengan Maruarar Sirait karena Lahan Dikuasai Ormas di Tanah Abang
Diketahui, GRIB memang menguasai beberapa lahan di kawasan Tanah Abang.
Dalam video yang diunggah oleh Ara di akun Instagram pribadinya @maruararsirat, pada Senin (7/4/2026), terlihat Ara berbicara dengan Hercules.
Ara menegaskan bahwa tanah milik negara tersebut akan digunakan untuk pembangunan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR.
"Tujuan saya mau membangun untuk rumah rakyat di sini. Jadi bukan untuk pengembang, dan sebagainya," ucap Ara saat bertemu Hercules dan beberapa orang perwakilan ormas, dikutip dari video unggahan Instagram @maruararsirat, Senin (6/4/2026).
Menanggapi Ara, Hercules menuturkan lahan yang dikelola ormasnya memang lahan milik negara, namun statusnya adalah HPL (Hak Pengelolaan Lahan).
Untuk itu Hercules menekankan bila memang negara menginginkan lahan di Tanah Abang, ia maupun ormasnya tak keberatan jika lahan tersebut dilepaskan untuk dibangun hunian.
"HPL itu untuk mengelola lahan tapi bukan untuk memiliki, kalau ini negara punya, hari ini pun saya serahkan," tegas Hercules.
Baca juga: Profil Maruarar Sirait, Menteri PKP Debat dengan Hercules soal Penguasaan Lahan di Tanah Abang
Hercules adalah seorang pria yang berasal dari Timor Timur. Ia memiliki nama asli yakni Rosario de Marshall.
Di Timor Timur, Hercules banyak bekerja sebagai tenaga bantuan untuk operasi militer TNI.
Kini Hercules pun menjadi preman paling ditakuti di Jakarta.
Perjalanan hidup Hercules dari malang melintang di dunia preman sangat panjang.
Ia mengaku pernah dibacok sebanyak 16 kali tapi tetap ia tetap selamat.
Pengakuan tersebut Hercules ungkapkan dalam acara Kick Andy tahun 2007.
Baca juga: Profil Hercules, Ketua GRIB Jaya yang Temui Seskab Teddy, Pernah Disebut Pahlawan Oleh Hendropriyono
Separuh dari tangan kanan Hercules dari bagian siku ke bawah, menggunakan tangan palsu.
Selain tangannya yang palsu, satu dari dua bola matanya juga buatan manusia.
Hercules juga pernah ditembak pada bagian matanya dan pelurunya tembus ke belakang kepala.
Lantaran rentetan peristiwa itu, ia dijuluki sebagai sosok preman yang tidak bisa mati.
Kendati demikian, Hercules sudah lama absen dari dunia preman.
Dia meninggalkan dunia kelam itu tepatnya setelah menerima vonis 8 bulan atas kasus penguasaan lahan pada Maret 2019.
Setelah itu Hercules diketahui memulai peruntungannya dalam dunia bisnis.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Rakli Almughni)(Kompas.com/Adhyasta Dirgantara)