- Unggahan terbaru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di media sosial pada hari Paskah telah memicu seruan baru untuk memberlakukan Amandemen ke-25.
Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump melontarkan kata-kata kasar dan menulis "Segala puji bagi Allah" sambil kembali mengancam Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz di tengah perang dengan Iran yang masih terus berkobar.
Senator AS Chris Murphy, seorang politisi Demokrat dari Connecticut, mendesak kabinet pemerintahan Trump untuk mempertimbangkan Amandemen ke-25, yang memungkinkan untuk memberhentikan presiden dari jabatannya dalam kondisi tertentu.
Dia menyebut presiden Trump "benar-benar sudah tidak waras" dengan unggahan terbarunya itu.
"Jika saya berada di Kabinet Trump, saya akan menghabiskan Paskah dengan menghubungi pengacara konstitusional tentang Amandemen ke-25," tulisnya.
"Dia (Trump) sudah membunuh ribuan orang. Dia akan membunuh ribuan orang lagi."
Angka "ribuan" kemungkinan merujuk pada warga sipil di seluruh Timur Tengah yang terjebak dalam baku tembak perang serta personel militer Iran.
Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, melaporkan bahwa 3.531 orang telah tewas, di antaranya 1.607 warga sipil, dan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah mengatakan setidaknya 1.900 orang telah tewas dan 20.000 terluka dalam serangan tersebut sejauh ini, menurut Reuters.
Belum lagi 13 anggota militer AS yang dilaporkan telah meninggal selama perang dengan Iran.
Amandemen ke-25 dirancang oleh Kongres AS setelah pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada tahun 1963 dan diratifikasi oleh 38 negara bagian pada tahun 1967.
Amandemen ini diberlakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan darurat medis dan ketidakmampuan Presiden AS menjalankan tugasnya secara normal.(*)