Imbas Trump Ancam Mau Hancurkan Iran dalam Semalam, Jembatan King Fahd Causeway Ditutup Lebih Cepat
Musahadah April 07, 2026 02:50 PM

 

SURYA.CO.ID - Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menghancurkan Iran dalam semalam mendapat reaksi sejumlah pihak. 

Sejumlah negara ini bereaksi terkait kemungkinan terburuk Iran akan membalas serangan Amerika Serikat.

Terbaru,  Jembatan King Fahd Causeway yang menghubungkan Arab Saudi dengan kerajaan pulau Bahrain, ditutup lebih awal pada Selasa (7/4/2026).

Otoritas King Fahd Causeway membuat pengumuman tersebut dalam sebuah unggahan di X.

Pernyataan itu menyebutkan bahwa pergerakan kendaraan telah "dihentikan sebagai tindakan pencegahan" menyusul serangan Iran yang menargetkan Provinsi Timur Arab Saudi.

Baca juga: Ancaman Trump Mau Menghancurkan Iran dalam Semalam Dinilai Cuma Gertakan, Pakar: AS Pasti Berhitung

Jembatan sepanjang 25 kilometer (15,5 mil) ini adalah satu-satunya jalur penghubung darat bagi Bahrain, markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, ke Semenanjung Arab.

Penutupan lebih awal ini setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Senin (6/4/2026), Trump mengancam akan meluluhtantakkan Iran dalam waktu singkat, jika negara itu tidak memenuhi tuntutan Washington. 

Ia juga menepis tuduhan bahwa langkah tersebut bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.

“Seluruh negara itu bisa dilenyapkan dalam satu malam, dan itu bisa jadi besok malam,” ujar Trump, dikutip AFP.

Trump menegaskan bahwa Iran harus menyepakati perjanjian yang mencakup “kebebasan lalu lintas minyak” di Selat Hormuz.

Baca juga: Gara-gara Ambisi Trump Serang Iran, Anggaran Militer Amerika Membengkak, Pertama Kali dalam Sejarah

Jika tidak, ia memperingatkan akan ada “penghancuran total, dan itu akan terjadi dalam periode empat jam.”

“Setiap jembatan di Iran akan dihancurkan pada pukul 12 malam besok, di mana setiap pembangkit listrik di Iran akan berhenti beroperasi, terbakar, meledak, dan tidak akan pernah bisa digunakan lagi,” lanjutnya.

Menandingi langkah Iran, Trump juga mengungkapkan tengah mempertimbangkan rencana untuk mengenakan tarif bagi kapal yang melintas membawa minyak di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Pernyataan keras Trump muncul hanya beberapa jam setelah ia menyebut proposal gencatan senjata dengan Iran sebagai “langkah yang sangat signifikan.”

“Itu belum cukup baik, tetapi itu adalah langkah yang sangat signifikan,” kata Trump kepada wartawan.

Namun, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah menolak usulan gencatan senjata tersebut, yang mereka sebut sebagai “proposal Amerika.”

Sejumlah negara kini berupaya mencari solusi diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 38 hari.

Pakar HI Sebut Cuma Gertakan

RAGU - Dina Sulaeman, Pakar Hubungan Internasional Unpad yang ragu Israel akan disanksi meski serangannya ke Lebanon tewaskan 3 prajurit TNI.
RAGU - Dina Sulaeman, Pakar Hubungan Internasional Unpad yang ragu Israel akan disanksi meski serangannya ke Lebanon tewaskan 3 prajurit TNI. (kolase istimewa dan Tribunnews)

Menanggapi ultimatum Trump, Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran (Unpad) Dina Sulaeman mengatakan...

Dikatakan Dina, tanpa ada ultimatum itu pun sebenarnya Amerika Serikat dan Israel terus melancarkan serangan ke Iran sampai hari ini.

Dan yang menjadi sasaran adalah infrastruktur sipil, rumah-rumah dan juga kilang minyak.

Apakah akan tereskalasi atau serangannya jauh lebih besar?

Dina melihat Amerika Serikat sebenarnya cadangan bomnya sudah jauh berkurang.

Sementara dari pihak Iran sudah memberikan ancaman.

"Sebenarnya yang penting respon dari Iran ya. Ketika Iran merespons kalau diserang akan membalas dengan jauh lebih keras," kata Dina dikutip dari Kompas TV pada Selasa (7/4/2026). 

Hal ini diperkuat pernyataan dari juru bicara IRGC yang mengancam kalau diserang, kawasan akan menjadi neraka.

"Itu kalimat terakhirnya ya, kawasan akan menjadi neraka. Artinya ini ada tarik ulur nih, siapa yang lebih kuat, siapa yang lebih berani," katanya. 

Dan, lanjut Dina, Amerika tentu akan berhitung hal itu sebelum menyerang lebih keras lagi.

"Sekarang saja sudah balasannya sudah luar biasa, terutama ke Israel juga jauh lebih masif," katanya.

Karena hal itu lah, Dina menilai ultimatum Trumpyang akan menyerang secara besar-besaran, sebagai sebuah gertakan. 

"Kalau eskalasi besar-besaran saya pikir gertakan. Tapi kalau menyerang ya masih berlanjut sampai hari ini," tegasnya. 

Terkait ancaman Trump akan menyerang pembangkit listrik, menurut Dina hal itu juga sudah diantisipasi Iran. 

"Karena kalau dari sisi pembangkit listrik itu juga tersebar, jadi tidak hanya terpusat di satu titik saja.

Sehingga kalau betul-betul Iran diserang pembangkit listriknya, situasi secara keseluruhan di Iran masih bisa teratasi karena pembangkit listriknya ada di banyak titik," katanya. 

Di satu sisi, dengan serangan itu resiko yang ahrsu ditanggung Amerika, Iran akan membalas dengan serangan yang setara atau bahkan lebih.

"Berarti kan yang terancam negara-negara di kawasan ya, pembangkit listrik di Teluk juga terancam akan diserang juga sebagai serangan balasan oleh Iran.

Nah, sekarang Amerika Serikat tentu, dan saya meyakini bahwa di balik layar back channel diplomasi itu berjalan ya. Karena negara-negara itu pasti ketakutan kalau itu terjadi.

Sekarang saja ekonomi sudah sangat sulit, apalagi kalau harus menghadapi pembangkit listrik yang hancur jika mendapatkan serangan balasan dari Iran," tukasnya. (kompas.com/tribunnews)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.