SERAMBINEWS.COM, ACEH JAYA – Kabar duka menyelimuti Bumi Serambi Mekkah.
Tokoh legendaris sekaligus simbol kedermawanan rakyat Aceh, Nyak Sandang, dilaporkan meninggal dunia pada Selasa (7/4/2026).
Ia menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 12.20 WIB di kediamannya, Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya (Lamno), Kabupaten Aceh Jaya.
Kepergian sosok yang berjasa besar bagi tegaknya kedaulatan udara Republik Indonesia ini dibenarkan oleh Camat Jaya, Syamsuddin.
"Iya benar, beliau sudah meninggalkan kita semua," ujarnya saat dikonfirmasi oleh Serambinews.com.
Kepergian Nyak Sandang meninggalkan duka mendalam bagi keluarga serta masyarakat setempat.
Sosoknya dikenal luas sebagai tokoh yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Aceh, khususnya di wilayah Aceh Jaya.
Lebih dari itu, Nyak Sandang juga dikenal sebagai pahlawan ekonomi di masa awal kemerdekaan.
Baca juga: BREAKING NEWS - Nyak Sandang Meninggal Dunia, Aceh Jaya Berduka
Dilansir dari berbagai sumber, Nyak Sandang merupakan pria asal Aceh Jaya.
Ia lahir di Mukhan, Indra Jaya, Aceh Jaya pada 4 Februari 1927 dengan nama lengkap Teungku Nyak Sandang bin Lamudin
Sosok Nyak Sandang abadi dalam lembaran sejarah Indonesia berkat aksi patriotik yang dilakukannya pada tahun 1948.
Kala itu, Indonesia tengah berada di bawah tekanan agresi militer Belanda, yang memicu Presiden Soekarno berkunjung ke Aceh untuk meminta dukungan rakyat agar negara memiliki armada transportasi udara sendiri.
Mendengar seruan sang proklamator, Nyak Sandang yang saat itu baru berusia 23 tahun tidak tinggal diam.
Bersama orang tuanya, Ibrahim, ia memutuskan untuk menjual harta berharga milik keluarga demi membantu kedaulatan negara.
Nyak Sandang menjual sepetak tanah yang berisi 40 pohon kelapa serta emas seberat 10 gram.
Dari hasil penjualan tersebut, ia mengantongi uang sebesar Rp100, sebuah nominal yang sangat besar pada masa itu, dan menyerahkan seluruhnya kepada negara.
Berkat kegigihan dan kedermawanan masyarakat Aceh lainnya, terkumpullah dana total sebesar SGD 120.000 serta 20 kilogram emas murni.
Dana luar biasa inilah yang kemudian digunakan Bung Karno untuk membeli dua pesawat Dakota, yakni Seulawah RI-001 dan Seulawah RI-002, yang menjadi cikal bakal lahirnya maskapai nasional Garuda Indonesia.
Sebagai bukti nyata kontribusinya, Nyak Sandang menerima obligasi (surat utang negara) tertanggal 9 Oktober 1950.
Selain bukti tertulis tersebut, Gubernur Aceh sekaligus Gubernur Militer saat itu, Teungku Muhammad Daud Beureueh, sempat menjanjikan bahwa pengorbanan masyarakat yang turut menyumbang akan selalu dikenang oleh negara.
Baca juga: Momen Haru, Ketika Nyak Sandang Elus Badan Presiden Prabowo
Kisah Nyak Sandang sempat kembali viral pada Maret 2018 ketika ia diundang oleh Presiden RI ke-7 Joko Widodo ke Istana Merdeka.
Di hari tuanya, Nyak Sandang hidup dengan sangat sederhana dan menderita katarak.
Dalam pertemuan bersejarah tersebut, ia hanya mengajukan tiga permohonan kepada Jokowi:
Ketiga janji tersebut dipenuhi oleh Presiden.
Nyak Sandang menjalani operasi mata, diberangkatkan umrah pada 2019, dan sebuah rumah ibadah megah bernama Masjid Baitussalam Nyak Sandang kini berdiri kokoh di Gampong Lhuet sebagai penghargaan atas jasanya.
Masjid bernuansa putih-biru tersebut diresmikan pada 26 Maret 2022.
Baca juga: Prabowo Anugerahkan Penghargaan untuk Nyak Sandang, Keuchik: Kami Sangat Bangga
Dedikasi Nyak Sandang terus mendapatkan pengakuan dari generasi pemimpin selanjutnya.
Pada Senin, 25 Agustus 2025, Presiden RI Prabowo Subianto menganugerahkan tanda kehormatan negara kepada Nyak Sandang di Istana Negara.
Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 73-78/TK Tahun 2025, nama Teungku Nyak Sandang bin Lamudin tersemat pada nomor urut 104.
Penghargaan ini menjadi pengakuan tertinggi negara atas kedermawanan luar biasa yang ditunjukkan Nyak Sandang dalam mendukung pertahanan negara melalui pembelian armada udara pertama.
Warisan Kedermawanan dan Pesan untuk Generasi Muda
Meski telah tiada, pesan Nyak Sandang akan terus bergema. Dalam kunjungan relawan ACT dan MRI pada peringatan HUT RI tahun 2019 lalu, ia berpesan agar generasi muda menjaga kemerdekaan dengan baik.
“Semoga kemerdekaan ini bisa dijaga, diteruskan, dan diisi dengan baik,” ucapnya kala itu.
Nyak Sandang adalah potret nyata bahwa mencintai tanah air tidak selalu melalui angkat senjata, tetapi juga melalui pengorbanan harta dan ketulusan niat.
Kini, sang "Pemilik Pesawat Pertama RI" itu telah berpulang, namun namanya akan tetap harum setiap kali sayap pesawat Garuda terbang melintasi langit Nusantara.
(Serambinews.com/Yeni Hardika)