Batik Siger Lampung Berdayakan Pengrajin Disabilitas, Gunakan 70 Persen Bahan Alami
Robertus Didik Budiawan Cahyono April 07, 2026 04:40 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Di balik deretan kain batik indah dan terpajang rapi di sebuah galeri bernuansa hangat di Galeri Batik Siger yang berlokasi di Kemiling Bandar Lampung pada Senin (6/4/2026). 

Tersimpan kisah ketangguhan seorang ibu dan visinya memberdayakan masyarakat dan meneruskan usaha dari keluarga.

Sapuan Bukowo (35) selaku penanggung jawab Batik Siger, berbagi kisah haru sekaligus bangga tentang perjalanan usaha keluarganya yang kini menjadi salah satu kiblat batik tulis di Sang Bumi Ruwa Jurai.

Sejarah Batik Siger tidak dimulai dengan instan. Pada era 90-an, industri batik di Jawa termasuk bisnis keluarga ibunda Sapuan yaitu Laila Alhusna (Ibu Una) di Solo hancur dan mengalami kebangkrutan.

Serbuan kain motif batik hasil printing asal Cina yang harganya 10 kali lipat lebih murah membuat banyak pengusaha gulung tikar.

Baca juga: Awalnya Tak PD Rintis Usaha, Kini Sulastri Punya As-Syafa Batik Beromzet Puluhan Juta

"Tanah dan pabrik sampai harus dijual. Saat itu batik printing menang telak karena motifnya lebih rapi dan warnanya lebih cerah ditambah harganya yang lebih murah,"ungkap Sapuan Senin (6/4/2026). 

Tak menyerah pada keadaan, Ibu Una memutuskan untuk pindah ke Lampung dan memulai babak baru.

Tahun 2008 menjadi titik balik. Melihat Lampung belum memiliki lembaga formal untuk pelestarian batik, ibu Una mendirikan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP). 

Sasarannya mulia, yaitu ibu rumah tangga, anak putus sekolah, hingga penyandang disabilitas.

"Ibu punya ilmunya sejak kecil, jadi tidak sulit mengajarkan. Namun, setelah dua tahun belajar, mereka bingung mau menjual ke mana. Akhirnya tahun 2010 kami mendirikan galeri sebagai wadah untuk menampung karya-karya mereka," jelas Sapuan.

“Kami juga bekerjasama dengan SLB, jadi anak-anak disabilitas kami ajarkan juga caranya membatik,” tambahnya.

Kini, Batik Siger memisahkan operasionalnya. LKP sebagai yayasan pendidikan non-profit, dan galeri sebagai CV yang mengelola aspek bisnis secara profesional.

Keunggulan utama Batik Siger terletak pada komitmennya terhadap lingkungan dan memberdayakan masyarakat. Sebanyak 70 persen produk mereka menggunakan pewarna alami. 

Sapuan menjelaskan proses rumit di balik satu lembar kain batik tulis yang bisa memakan waktu hingga 3 bulan.

"Kami menggunakan Indigofera untuk biru, kulit kayu mahoni dan sabut kelapa untuk cokelat, hingga warna Soga yang merupakan perpaduan tiga bahan alam,” jelasnya.

“Warna Soga ini khas Jawa, namun kami adaptasikan dengan motif Lampung. Hingga kini, itu masih jadi best-seller kami," tambahnya.

Tak main-main, Batik Siger juga memiliki lini Batik Premium yang dikerjakan oleh tangan-tangan pengrajin paling ahli. 

Menggunakan katun Kereta Kencana dengan kerapatan motif yang tinggi, kain ini dibanderol mulai dari Rp.2,5 juta hingga Rp.8 juta.

“Ciri khas kami yaitu batik premium, di galeri yang lain belum ada yang punya. Jadi kalau ada yang cari batik premium pasti ke Batik Siger,” tuturnya.

Kemudian ada pula batik tulis yang biasa menggunakan pewarna sintesis dan pewarna alam.

“Untuk pewarna kimia itu dari Rp. 400 ribu sampai yang paling mahal itu Rp. 800 ribu kalau yang warna alam mulai dari Rp. 1,2- Rp. 8 juta,” ucapnya.

Batik Siger telah dikenal dan memasarkan produknya hingga mancanegara saat ikut event fashion show di luar negara.

“Kita sering ikut fashion show, dalam setahun kita ada target berapa fashion show bahkan sampai ke luar negeri.

Sebelum pandemi, Batik Siger rutin tampil di panggung fashion show internasional, mulai dari Berlin, New York, Los Angeles, hingga yang terbaru di Dubai dan Afrika Selatan.

Saat kegiatan itulah produk mereka banyak disukai dan dibeli oleh orang dari mancanegara.

“Ada yang beli berupa kain, ada juga yang beli setelah dijadikan outer dan produk lainnya,” jelasnya.

Dalam sebulan kain yang terjual sampai 100-200. Dengan omzet rata-rata yaitu Rp.50-100 juta.

Sapuan menegaskan bahwa Batik Siger sengaja tidak membuka cabang karena ingin menjaga konsep "Galeri dan Workshop".

"Membeli batik itu seperti mencari jodoh. Setiap kain hanya ada satu di dunia. Orang harus datang, mencoba, dan merasa nyaman di sini karena tidak ada yang akan menyamai motifnya di jalanan,” ucapnya.

Sapuan juga mengungkapnya tantangannya dalam meneruskan usaha milik sang ibu.

“Jika dulu tantangannya adalah mengedukasi masyarakat tentang bedanya batik tulis dan printing, kini tantangannya adalah inovasi,” jelasnya.

Sapuan kini giat mempromosikan produk Ready to Wear seperti outer, rompi, hingga aksesori agar batik tidak hanya dipandang sebagai pakaian formal.

"Kami ingin orang tahu bahwa batik tulis itu bukan sekadar kain meteran. Ini adalah karya seni yang bisa menjadi fashionunik dan modern," tutupnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.