TRIBUNGORONTALO.COM – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 2,2 mengguncang wilayah barat daya Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa (7/4/2026) sore.
Meski tergolong kecil, kejadian ini kembali mengingatkan bahwa kawasan selatan DIY merupakan salah satu wilayah yang aktif secara seismik.
Berdasarkan informasi awal yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada 7 April 2026 pukul 16.00.58 WIB.
Lokasi gempa berada di koordinat 8,86 Lintang Selatan dan 110,26 Bujur Timur, atau sekitar 103 kilometer barat daya Gunungkidul, DIY.
BMKG mencatat, pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer.
Dalam keterangannya, BMKG menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan data awal yang dipublikasikan dengan mengutamakan kecepatan.
Karena itu, parameter gempa seperti magnitudo, lokasi, maupun kedalaman masih dimungkinkan berubah setelah proses analisis lanjutan.
Wilayah selatan DIY, termasuk area lepas pantai Gunungkidul, memang dikenal rawan terhadap aktivitas gempa bumi.
Baca juga: ASN Kota Gorontalo WFH Tiap Selasa, Dihubungi Atasan Wajib Jawab 5 Menit”
Secara geologi, kawasan ini berada di dekat jalur subduksi aktif selatan Jawa, yakni zona pertemuan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia/Sunda.
BMKG juga menegaskan bahwa DIY memiliki ancaman dari sumber gempa subduksi lempeng atau megathrust di selatan Jawa yang masih aktif.
Selain pengaruh subduksi di selatan Jawa, wilayah DIY juga memiliki patahan aktif di daratan seperti Sesar Opak yang selama ini menjadi salah satu sumber gempa signifikan di Yogyakarta.
BMKG sebelumnya menyebut Sesar Opak merupakan sumber gempa aktif yang jalurnya membentang di wilayah DIY dan perlu terus dimitigasi.
Namun, untuk gempa M 2,2 kali ini, BMKG belum merilis analisis sumber gempa spesifik apakah berkaitan dengan subduksi atau sesar darat.
Dari sisi karakteristik, magnitudo 2,2 tergolong gempa kecil. Secara umum, gempa dengan kekuatan seperti ini tidak selalu menimbulkan dampak kerusakan, terutama jika lokasinya cukup jauh dari kawasan padat penduduk.
Meski begitu, kedalaman gempa yang tercatat 10 kilometer menunjukkan bahwa gempa ini termasuk kategori dangkal.
Gempa dangkal cenderung lebih mudah dirasakan di permukaan dibanding gempa yang lebih dalam, terutama bila pusatnya dekat dengan daratan atau permukiman.
Dalam kasus ini, karena lokasinya berada cukup jauh di barat daya Gunungkidul, potensi dampak yang dirasakan luas biasanya lebih terbatas dibanding gempa dangkal yang berpusat dekat wilayah daratan.
Dengan kata lain, dampak gempa tidak hanya ditentukan oleh besarnya magnitudo, tetapi juga oleh kedalaman, jarak pusat gempa ke permukiman, kondisi tanah, dan kualitas bangunan di sekitar wilayah terdampak.
Karena itu, meski magnitudonya kecil, setiap aktivitas seismik tetap penting untuk dipantau.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi informasi gempa awal, namun tetap waspada dan menunggu pembaruan data resmi.
Warga juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama yang beredar cepat di media sosial atau aplikasi percakapan.
Saat terjadi gempa, masyarakat disarankan segera melakukan langkah perlindungan dasar. Jika berada di dalam bangunan, lindungi kepala dan menjauh dari kaca, lemari, atau benda yang berpotensi jatuh. Bila memungkinkan, berlindung di bawah meja yang kokoh hingga guncangan berhenti.
Setelah guncangan mereda, segera keluar menuju area terbuka dengan tertib dan hindari berdiri di dekat tiang listrik, papan reklame, maupun bangunan yang rawan roboh.
Bagi pengendara, terutama pengendara sepeda motor, disarankan menepi dan berhenti di tempat aman sampai situasi benar-benar kondusif.
Masyarakat diminta tetap tenang, tidak terpancing isu yang belum jelas, dan terus memantau informasi resmi melalui kanal BMKG untuk mengetahui perkembangan terbaru terkait gempa tersebut.
(*)