TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Kenaikan harga bahan baku seperti kedelai, minyak goreng, hingga plastik berdampak langsung pada pelaku usaha kecil, termasuk perajin tahu dan tempe di Desa Bumiroso, Kabupaten Wonosobo.
Desa Bumiroso menjadi salah satu sentra produksi tahu dan tempe di Wonosobo. Setidaknya ada sekira 80 perajin tahu dan tempe.
Kaitannya dengan kenaikan bahan produksi, para produsen terpaksa menyesuaikan harga jual demi menjaga kelangsungan usaha.
Elis Triana, perajin tahu yang telah beroperasi 10 tahun mengatakan, kenaikan harga bahan baku terjadi secara bertahap namun signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Dia membenarkan bahwa lonjakan harga bahan baku sangat terasa, terutama pada kedelai yang menjadi komponen utama produksi tahu.
Baca juga: Kelola 32 Sumber Mata Air, PDAM Wonosobo Ajak Warga Lihat Langsung Distribusi Air Bersih
• Plt Bupati Pekalongan Minta 63 ASN Kooperatif, Jangan Menghindar saat Diperiksa KPK
• Alasan Pemkab Pati Belum Terapkan WFH, Chandra: Kami Fokus Kejar PAD
“Kenaikan dari harga kedelai, minyak, juga plastik naiknya sangat drastis,” katanya kepada Tribunjateng.com, Selasa (7/4/2026).
Harga kedelai yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.300 hingga Rp9.500 per kilogram kini terus merangkak naik hingga menyentuh Rp11.000 per kilogram.
Kenaikan tersebut mulai terasa sejak akhir Ramadan.
Tidak hanya kedelai, harga minyak curah juga mengalami lonjakan.
Tidak hanya tahu biasa, Elis juga menjual tahu yang sudah digoreng sehingga kenaikan minyak begitu dirasakannya.
“Dari Rp18.500 per kilogram ke Rp20.500 per kilogram itu sudah naik Rp2.000. Sekarang menuju Rp20.800 per kilogram,” jelas Elis.
Sementara itu, harga plastik sebagai bahan kemasan bahkan melonjak hingga hampir 50 persen.
“Dari yang biasa beli bal-balan (grosir) itu cuma Rp600 ribu, sekarang sampai Rp1 juta per bal,” ujarnya.
Untuk menyiasati kenaikan biaya produksi, Elis memilih menaikkan harga jual tahu yang dibuatnya.
Harga per masak tahu (satu papan ukuran besar) kini naik dari Rp100 ribu menjadi Rp110 ribu.
Sementara tahu putih (ukuran papan yang lebih kecil) naik dari Rp40.000 menjadi Rp45.000.
“Yang jelas harga jualnya harus dinaikkan,” katanya.
Meski sempat terjadi penurunan jumlah pembeli di awal kenaikan harga, kondisi pasar perlahan mulai stabil seiring penyesuaian konsumen.
“Untuk awal-awal sebetulnya mengurangi, tapi sekarang lambat laun berjalan seperti biasa,” ujar Elis.
Produksi harian yang biasanya mencapai dua kuintal sempat turun hingga satu kuintal, sebelum akhirnya kembali normal.
Elis juga menyoroti ketergantungan perajin tahu pada kedelai impor.
Menurutnya, kualitas kedelai impor lebih baik dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan kedelai lokal.
“Kalau ada kenaikan kedelai impor sangat terasa soalnya kami mengandalkan kedelai impor,” katanya.
Dia memperkirakan tren kenaikan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
Baca juga: Beberapa Daerah di Jateng KLB Campak, Bagaimana Dengan Wonosobo? Dinkes Beri Penjelasan
• Pemuda Sopir SPPG Tanam Ganja di Rumah Laweyan Solo, Polisi: Beli Online
• Viral Siswa SMK Minta Dana MBG untuk Kesejahteraan Guru, Wabup Kudus: Siapapun Boleh Usul
Hal serupa diungkapkan Muhaemin, perajin tahu-tempe di Bumiroso.
Dia menyebut harga kedelai sempat naik dari Rp9.800 menjadi Rp11.400 per kilogram.
Dalam menghadapi kondisi ini, pelaku usaha memiliki dua pilihan menaikkan harga atau mengurangi ukuran produk.
“Kalau harga naik, dinaikkan. Kalau dikecilkan pasti banyak komplain,” ujarnya.
Muhaemin memilih menaikkan harga jual sembari menjaga kualitas produk.
Dia juga melakukan pendekatan kepada konsumen dan distributor untuk mempertahankan pasar.
“Kami menyesuaikan harga pasar. Melobi-lobi konsumen, distributor,” katanya.
Dalam produksi tempe, di tengah naiknya harga plastik, sebagian tempe yang diproduksi Muhaemin lebih banyak menggunakan daun.
“Tempe ada yang pakai plastik dan daun. Tapi saya dari dulu memang sering pakai daun,” ujarnya.
Produksi hariannya kini turun dari 2,5 kuintal menjadi sekira dua kuintal.
Dia juga mengakui beban modal semakin berat.
“Misalnya modal Rp1 juta, buat beli lagi sudah Rp1.500.000,” ujarnya.
Meski menghadapi tekanan biaya, distribusi tahu dari Bumiroso masih menjangkau sejumlah pasar di Wonosobo dan sekitarnya seperti Pasar Induk Wonosobo, Pasar Kertek, hingga Parakan, Banjarnegara dan Dieng.
Para perajin berharap kondisi harga bahan baku dapat segera stabil.
"Semoga harga kembali turun agar biaya modal tidak naik," pungkasnya. (*)