Renungan Harian Kristen 8 April 2026 - Kesedihan yang Membutakan
Bacaan ayat: Yohanes 20:14 (TB) Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus.
Oleh Pdt Feri Nugroho
Kesedihan dapat dipahami sebagai keadaan dimana seseorang mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan.
Peristiwanya dapat berupa kekecewaan, kegagalan atau ditinggalkan oleh seseorang yang dikasihi. Kesedihan dapat membuat seseorang menyendiri.
Dalam kesendirian, yang bersangkutan mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Beberapa orang bisa mengatasi kesedihan dengan cara demikian. Namun tidak jarang orang gagal. Dalam beberapa kasus seseorang bisa saja mempunyai keinginan kuat untuk mengakhiri hidup.
Sementara yang lain justru menciptakan 'dunia lain', dimana kesedihan tidak ada lagi. Inilah salah satu penyebab ODGJ, orang dengan gangguan jiwa!
Maria sedih ketika Sang Guru telah tiada. Kesedihan menumpuk bahwa kepergian-Nya melalui cara yang tragis; mati dengan tergantung di kayu salib.
Orang-orang percaya bahwa mati dengan di salib adalah terkutuk bagi Allah.
Romawi memang memakai penyaliban sebagai hukuman bagi penjahat kelas kakap. Inilah yang dimanfaatkan para imam dan ahli Taurat untuk memberikan hukuman pada Yesus, yang didakwa sebagai penyesat.
Sementara Pilatus pun sebenarnya tidak menemukan persoalan kejahatan serius; hanya masalah agama.
Meskipun demikian Pilatus justru menyerahkan Yesus untuk disalibkan, sambil ia sendiri cuci tangan tanda tak bersalah.
Sebuah kesedihan yang menumpuk bagi Maria. Bukan hanya tentang kemanusiaan yang dilanggar, bahkan nilai keadilan dan kebenaran pun terinjak-injak, tanpa kemampuan untuk melawan.
Itu sebabnya pagi-pagi benar ia telah hadir ke kubur Yesus untuk sekedar memuaskan kesedihannya.
Untuk kesekian kalinya Maria harus dibuat kaget, ketika mendapatkan mayat Yesus tidak ada lagi dalam makam.
Dugaan terbaik ialah mayat Yesus dicuri. Semakin lengkaplah kesedihan yang ia alami. Belum rampung satu kesedihan, ternyata harus ditimpa oleh kesedihan yang lain.
Menjadi sangat masuk akal jika kehadiran malaikat Tuhan, tidak terlalu menarik perhatiannya. Bahkan Yesus yang tampil setelahnyapun, ia duga sebagai penunggu taman yang mungkin mencuri mayat Yesus.
Tidak berani menuduh secara langsung, Maria hanya berharap mayat-Nya dapat dikembalikan untuk dimakamkan secara layak.
Kali ini Maria buta meskipun masih bisa melihat. Ia dibutakan oleh kesedihan yang bertumpuk sehingga tidak mampu melihat Yesus yang ada di belakangnya.
Waspada dengan kesedihan. Sebab kesedihan dapat membutakan mata iman untuk melihat karya Tuhan yang dinyatakan. Sedih secukupnya.
Sedih seperlunya. Kemudian berlanjut pada kerelaan untuk menerima apa yang terjadi sebagai kenyataan.
Selanjutnya perlu langkah iman untuk menemukan makna atas peristiwa yang terjadi. Penting untuk menemukan pekerjaan Allah yang sedang dinyatakan. Mulai hapus air mata, dongakkan kepala dan pandang masa depan dengan harapan yang baru. Amin
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang