Mencari Alternatif Impor Bahan Baku Plastik di Luar Timur Tengah: Tantangan di Depan Mata
Yoseph Hary W April 08, 2026 03:02 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Kenaikan harga bahan baku plastik yang dipicu penutupan Selat Hormuz membuat Indonesia mulai mencari sumber impor alternatif di luar kawasan Timur Tengah.

Beberapa wilayah yang dipertimbangkan sebagai pemasok antara lain Afrika, Asia Tengah, serta Amerika Serikat (AS).

"Di mana kita sudah mendapatkan beberapa kali pertemuan, baik itu dari Afrika, dari Asia Tengah, maupun dari Amerika. Tetapi tantangannya adalah waktu pengiriman," kata Sekjen Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas) Fajar Budiono dikutip dari Kontan, Selasa (7/4/2026).

Namun, upaya diversifikasi impor tersebut menghadapi kendala, terutama dari sisi durasi pengiriman yang jauh lebih lama dibandingkan rute dari Timur Tengah.

Waktu tempuh pengiriman dari kawasan baru bisa mencapai sekitar 50 hari, sedangkan dari Timur Tengah hanya memerlukan sekitar dua minggu.

"Di mana kalau kita pengiriman dari Middle East itu hanya 10 sampai 15 hari, nah ini kalau di luar kawasan tersebut, baik itu dari Afrika, Amerika, maupun dari Asia Tengah itu paling cepat 50 hari kedatangannya," jelasnya.

Uji skema rantai pasok baru

Sebagai langkah antisipasi, Inaplas mulai menguji skema rantai pasok baru guna menilai efektivitas diversifikasi sumber impor tersebut.

"Kita dari sekarang sampai 50 hari ke depan mencoba membuat supply chain baru, pola supply chain baru karena di samping lamanya waktu pengiriman, juga otomatis biaya-biaya yang lain juga pasti akan naik," beber Fajar.

Bahan dasar pembuatan biji plastik sendiri merupakan turunan minyak bumi yang dikenal sebagai produk petrokimia.

Sekitar 22 persen suplai petrokimia dunia berasal dari Timur Tengah yang distribusinya harus melewati Selat Hormuz.

"Terdapat 193 kompleks petrokimia aktif di Timur Tengah, yang menangani 22 persen pasokan global, dan semuanya bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman produk mereka," jelas CNBC, Sabtu (28/3/2026).

Tersendatnya arus kapal di Selat Hormuz menyebabkan harga bahan baku plastik dan produk turunannya mengalami kenaikan signifikan.

"Pemasok plastik kami di China telah menaikkan harga sekitar 15?ru-baru ini, dan mereka menyebutkan kenaikan biaya bahan baku dan ketidakpastian pasar secara umum sebagai alasannya," ujar Stanislav Krykun, CEO DST-Pack, sebuah perusahaan pengemasan yang berbasis di Polandia.

Harga plastik diperkirakan akan terus meningkat apabila konflik di kawasan Timur Tengah belum mereda.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.