Saiful Mujani Sebut Menurunkan Prabowo, Feri Amsari Jelaskan Beda Pemakzulan dengan Makar
Amalia Husnul A April 08, 2026 06:19 AM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Pernyataan Saiful Mujani, pendiri lembaga survei dan riset bernama Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) yang meminta Presiden Prabowo Subianto agar dijatuhkan lantaran dinilai tidak bisa dinasihati menjadi sorotan.

Pernyataan Saiful Mujani ini memicu polemik bahkan dinilai sebagian orang sebagai dugaan makar atau upaya menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Peneliti Poshdem (Pusat Studi Politik Hukum Pemilu dan Demokrasi) Universitas Andalas Feri Amsari buka suara terkait pernyataan Saiful Mujani yang menjadi perhatian dengan menjelaskan perbedaan pemakzulan dan makar.

Sebelumnya, pernyataan Saiful Mujani yang jadi ramai tersebut disampaikan dalam forum halal bihalal yang mengusung tema “Sebelum Pengamat Ditertipkan” dan digelar di Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (31/3/2026).

Baca juga: Saiful Mujani Serukan Gulingkan Prabowo, Seskab Teddy: Presiden Fokus Urus Hal Strategis

“Hanya itu. Kalau menasihati Prabowo, enggak bisa juga. Bisanya hanya dijatuhkan.

Itu bukan menyelamatkan Prabowo, Itu menyelamatkan diri kita dan bangsa ini. Terima kasih,” kata Saiful Mujani.

Pernyataan inilah yang kemudian memicu polemik, bahkan oleh beberapa orang dinilai sebagai dugaan makar atau upaya menjatuhkan pemerintahan yang sah.

Terkait pernyataan Saiful Mujani, Feri Amsari yang juga Pakar Hukum Tata Negara menjelaskan memberhentikan presiden di tengah masa jabatannya berbeda dengan makar.

"Ini problem demokrasi kita. Orang di lingkup elite tidak memahami isi konstitusinya. Kalau dibaca pasal 7A, 7B, 7C, dan pasal 8 Undang-Undang Dasar 1945, upaya memberhentikan presiden di tengah masa jabatannya itu diperkenankan oleh konstitusi.

"Yang kemudian diributkan malah sebaliknya yang bicara soal makar, makar itu menggulingkan pemerintahan yang sah,"" ujar Feri dalam tayangan di YouTube Kompas TV, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, pemakzulan atau pemberhentian adalah hal yang berbeda dengan makar. Ia menyebut bahwa makar ialah upaya untuk membunuh hingga menggulingkan presiden.

"Kalau dilihat dari pernyataan itu sama sekali tidak ada tindakan-tindakan untuk bertindak makar."

"Tidak ada proses mengumpulkan orang, mengumpulkan senjata, mengatur strategi bahwa besok akan menculik presiden, besok akan menahan presiden, besok kemudian akan membunuh presiden, itu gak ada," ungkapnya.

Saiful Mujani Minta Prabowo digulingkan

Dalam forum halal bihalal, Saiful mengkritik Prabowo dan menginginkan sang kepala negara diturunkan. Dia menilai Prabowo sudah tidak bisa diberi masukan agar pemerintahannya menjadi lebih baik.

"Presiden ini betul-betul sudah tidak presidensial. Jadi, jangan berharap kita memberi masukan-masukan untuk dia agar lebih baik. Dan itu tidak baik juga. Cuman, untungnya, orang ini nggak akan denger gitu,” ujarnya, Selasa.

“Tidak ada alternatif yang lain. Apalagi seperti yang sudah saya katakan tadi. Presiden itu sudah tidak presiden, gitu, loh,” kata Saiful.

Menurut Saiful, menggulingkan kepala negara lewat pemakzulan atau impeachment akan susah lantaran proses itu dilakukan oleh MPR. Dia merasa para anggota dewan tidak bisa diharapkan.

“Oleh karena itu, bukan impeachment yang membesar forum seperti ini. Tidak ada alternatif yang lain. Apalagi seperti yang saya katakan tadi. Presiden itu sudah tidak presiden, gitu, loh,” ujarnya.

Menurut dia, alternatifnya bukan pada prosedur pemakzulan secara formal karena hal seperti itu tidak akan berjalan.

“Yang jalan hanya ini. Bisa nggak kita mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo?” tanya Saiful yang kemudian mendapat tepuk tangan dari peserta forum.

Lalu, Saiful kembali mengatakan keinginannya agar Prabowo digulingkan lantaran, menurut dia, mantan Danjen Kopassus itu memang sudah tidak bisa dinasihati.

“Hanya itu. Kalau menasihati Prabowo, enggak bisa juga. Bisanya hanya dijatuhkan. Itu bukan menyelamatkan Prabowo, Itu menyelamatkan diri kita dan bangsa ini. Terima kasih,” kata dia.

Baca juga: Viral Ajakan Jatuhkan Presiden Sebelum 2029, Direktur Median: Bahayakan Demokrasi

(Tribunnews.com/Deni/Febri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.