BANJARMASINPOST..CO.ID, BANJARMASIN - Kenaikan harga bahan bakar pesawat, avtur, mendapat perhatian pelaku usaha perjalanan, khususnya umrah dan haji, di Kalimantan Selatan. Meski dampaknya belum begitu terasa, sejumlah perusahaan travel mengakui adanya potensi penyesuaian tarif paket.
Direktur Utama PT Albis Indonesia Travel, Hj Utami Dewi, mengatakan kenaikan harga avtur hampir pasti membawa dampak terhadap biaya perjalanan. Namun, pihaknya berupaya menjaga agar penyesuaian tarif dalam batas wajar.
“Sedikit banyak pasti akan mempengaruhi. Akan ada penyesuaian harga paket jika melihat harga avtur. Tapi semoga saja tidak terlalu signifikan,” ujarnya, Selasa (7/4).
Ia berharap kenaikan harga avtur tidak merembet ke sektor lain seperti akomodasi. “Semoga harga tiket saja yang bergerak, sementara tarif hotel dan layanan lainnya tidak terpengaruh,” harap Utami
Baca juga: Tangis Tunangan Pecatan Polisi Pecah di Sidang Pembunuhan Mahasiswi ULM, Ungkap Soal Rencana Menikah
Baca juga: Poliban Segera Terapkan Kuliah Daring, UIN Antasari Rapatkan Edaran Mendiktisaintek
Sementara di travelnya minat masyarakat untuk menunaikan umrah dan haji tetap tinggi. Konsumen cenderung tetap memilih fasilitas terbaik demi kenyamanan ibadah.
Hal senada disampaikan Direktur Utama Ramasindo Tour, Boy Rahmadi Nafarin. Dia masih mengambil sikap “wait and see” terhadap perkembangan harga avtur.
Dia menyampaikan musim umrah 1447 Hijriah sudah berakhir dan memasuki awal musim 1448 Hijriah. "Kami masih terus memantau hingga Idulaha nanti,” katanya.
Untuk paket awal musim umrah 1448 Hijriah, Ramasindo Tour masih menawarkan tarif normal. "Kemungkinan penyesuaian tetap terbuka tergantung kondisi pasar dan biaya operasional," ujarnya.
Strategi menekan tarif disiapkan Boy, termasuk opsi penggunaan penerbangan transit, dibandingkan penerbangan langsung ke Jeddah. “Hingga kini minat pendaftar umrah normal saja, karena ini nilainya adalah ibadah,” tandasnya.
Ketua Forum Komunisi Penyelenggara Travel Umrah dan Haji (FK Patuh) Kalsel, Saridi, menilai lonjakan harga avtur pasti memicu kenaikan harga tiket pesawat. “Mau tidak mau, maskapai akan menyesuaikan harga tiket, di samping melakukan efisiensi di sektor lain,” ujarnya, Selasa.
Meski belum ada pengumuman dari maskapai, Saridi menyebutkan sudah beredar sinyal kenaikan harga tiket untuk rute Timur Tengah. “Ada informasi beberapa maskapai jurusan Timur Tengah siap menaikkan tarif 15 hingga 35 persen. Kita lihat saja dalam dua minggu ke depan,” katanya.
Menurutnya, dampak kenaikan ini tidak bisa dianggap sepele. Travel umrah saat ini berada dalam kondisi margin keuntungan yang sangat tipis. Bahkan, tidak sedikit yang sudah mengalami kerugian sejak awal tahun akibat kenaikan harga hotel pada periode Januari hingga Maret.
Situasi semakin rumit pada April 2026 seiring terbatasnya maskapai yang melayani rute Timur Tengah akibat perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat. Kondisi tersebut memaksa sejumlah travel melakukan refund tiket atau mengalihkan penerbangan ke maskapai lain dengan tarif lebih tinggi.
“Banyak travel yang terpukul. Mereka harus mengembalikan dana tiket karena maskapai tidak beroperasi, lalu membeli ulang dengan harga yang lebih mahal. Bahkan ada yang hanya bisa membeli tiket sekali jalan saat keberangkatan, sementara tiket pulang belum tersedia,” jelasnya.
Harga tiket pesawat domestik kembali mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintah menyebut, kenaikan ini tak terhindarkan karena dipicu melonjaknya harga avtur di pasar global hingga 38 persen.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pun memberikan izin kepada maskapai untuk menaikkan fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar hingga 38 persen. “Dalam menetapkan fuel surcharge, kami telah berkoordinasi dengan seluruh maskapai domestik. Sehingga dapat ditetapkan kenaikannya menjadi 38 persen,” ujar Dudy dalam konferensi pers, Senin (6/4).
Dengan biaya avtur yang kontribusinya mencapai sekitar 40 persen dari total biaya operasional, penyesuaian dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan operasional penerbangan nasional.
Sebagai gambaran, harga avtur di sejumlah negara pada awal April 2026 tercatat cukup tinggi. Thailand sekitar Rp 29.518 per liter, Filipina Rp 25.326 per liter, Indonesia (Bandara Soekarno-Hatta) sekitar Rp 23.551 per liter
Pemerintah memastikan kenaikan harga tiket pesawat domestik tetap terkendali. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan pemerintah menjaga kenaikan tarif hanya pada kisaran 9-13 persen.
Untuk meringankan beban masyarakat, pemerintah memberikan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen bagi tiket pesawat kelas ekonomi domestik. Insentif ini membutuhkan anggaran sekitar Rp 1,3 triliun per bulan atau Rp 2,6 triliun jika diterapkan selama dua bulan. “Tujuannya agar harga tiket tetap terjangkau meski ada tekanan global pada harga avtur,” ujar Airlangga. (dea/kompas)