Oleh: Melki Deni, S. Fil.
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol.
POS-KUPANG.COM - Hampir tiap hari saya membaca dan mendengar kabar duka. Suatu hari saya membaca dan menonton video wawancara dari Noelia Castillo, gadis 25 tahun dari Barcelona, yang selama dua tahun berjuang mendapatkan hak untuk melakukan eutanasia.
Berdasarkan wawancara tersebut, Noelia sudah lama mengalami pelecehan dari mantan pasangannya dan beberapa kali mendapatkan pelecahan seksual.
Pada 4 Oktober 2022 Noelia mencoba bunuh diri dengan melompat dari jendela lantai lima setelah mengalami pemerkosaan beramai-ramai.
Sebelumnya Noelia pernah mencoba bunuh diri dengan mengonsumsi obat overdosis.
Baca juga: Opini: Menyalibkan Kebenaran
Akibat dari semua itu, Noelia menjadi lumpuh, harus menggunakan kursi roda, dan sakit-sakitan.
Noelia dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak tahan lagi dengan rasa sakit, semua yang menyiksa pikirannya dengan apa yang dia alami.
Dia tidak memiliki tujuan dan cita-cita hidupnya, bahkan setelah 13 tahun menjalani perawatan psikologis. Pengharapan terakhir tidak tersisa lagi.
Ia sudah menutup semua pintu kemungkinan lainnya. Ia tidak lagi percaya akan cinta, perhatian, kesabaran, pelayanan, dan pertolongan dari orang lain. . Tetapi pada Kamis, 26 Maret 2026 lalu, Noelia mengakhiri hidupnya.
Kalau saya membaca kabar duka di media sosial, saya buru-buru berpindah ke konten lainnya.
Tetapi saya tidak bisa hindar, ketika ada orang yang berbicara tentang kematian salah satu anggota keluarga, sahabat, kenalan, dll.
Pendengaran saya lebih mudah menusuk hati dan mempekerjakan pikiran daripada penglihatan; mungkin itu sebabnya saya lebih cepat menangkap penjelasan dari orang lain lewat pendengaran daripada menulis ringkasan.
Kabar kematian selalu membuat saya syok dan khawatir. Tidak seperti kematian berencana seperti yang Noelia lakukan atau Noelia-Noelia lainnya, tahun 2022 adalah tahun syok eksistensial bagi saya, karena kepergian kakak sulung pada Maret.
Dia pergi tanpa rencana, tanpa kesepakatan, tanpa pesan atau dialog, dan atas pilihan bebasnya sendiri.
Kalau cita-cita dan tujuan hidup tidak ada lagi, seperti kata Noelia, apakah alasan lain yang membuat kita bertahan hidup?
Kalau mereka tidak lagi menerima dan mengakui saya apa adanya, terutama ketika saya sendiri tidak lagi menerima, mengakui dan mengolah semua pengalaman berantakan dan kehancurleburan saya, apakah alasan dan tujuan yang membuat saya bertahan di sini?
Saya bertanya kepada diri sendiri; kalau saya berhenti berjalan, apakah semua masalah selesai seketika, dan pada akhirnya saya hidup bebas, tenang, dan damai?
Apakah hanya saya mengalami dan menderita seperti ini? Kalau ada yang lebih parah daripada yang saya alami, apakah alasan dasar sehingga mereka bertahan dan merayakan kehidupannya?
Terlepas dari perspektif Alkitabiah, teologis, dan filosofis tentang kematian, karya sastra juga tak kalah kuat menjelaskan, mendeskripsikan, mengakui dan menelusuri perjalanan kematian.
Kematian begitu jauh dari kita sampai kita tidak bisa menangkap dan menjangkaunya!
Kematian begitu dekat dengan kita sampai kita tidak bisa memeluknya erat-erat! Kematian begitu mengasihi kita sampai kita bisa menolaknya.
Kematian begitu magis sampai kita begitu takut kepadanya. Mary Jane Oliver menjelaskan kematian begitu indah dalam “When death comes”:
When death comes
like the hungry bear in autumn;
when death comes and takes all the bright coins from his purse
to buy me, and snaps the purse shut;
when death comes
like the measle-pox
when death comes
like an iceberg between the shoulder blades,
I want to step through the door full of curiosity, wondering:
what is it going to be like, that cottage of darkness?
And therefore I look upon everything
as a brotherhood and a sisterhood,
and I look upon time as no more than an idea,
and I consider eternity as another possibility,
and I think of each life as a flower, as common
as a field daisy, and as singular,
and each name a comfortable music in the mouth,
tending, as all music does, toward silence,
and each body a lion of courage, and something
precious to the earth.
When it's over, I want to say all my life
I was a bride married to amazement.
I was the bridegroom, taking the world into my arms.
When it's over, I don't want to wonder
if I have made of my life something particular, and real.
I don't want to find myself sighing and frightened,
or full of argument.
I don't want to end up simply having visited this world.
Oliver menggambarkan kematian seperti “like the hungry bear in autumn… like the measle-pox… like an iceberg between the shoulder blades.”
Kematian datang dari luar kendali manusia, menyerang semua makhluk bertubuh, berair, dan tidak bisa ditawar.
Beruang lapar menandakan insting alam yang tak peduli pada moralitas; penyakit menunjukkan kerentanan tubuh; gunung es di punggung memberi kesan dingin, tiba-tiba, dan mematikan dari arah yang tak terlihat.
Kematian tidak diberi wajah spiritual terlebih dahulu. Kematian tetap brutal, konkret, punya bau dan wajahnya sendiri.
Namun justru setelah menghadirkan gambaran yang menggentarkan, Mary Oliver membuat pergeseran yang halus tapi radikal, “I want to step through the door full of curiosity…”.
“Pintu” menjadi simbol ambang antara yang diketahui dan yang tidak. Kematian tidak lagi sekadar perampok yang cekatan, tetapi sebuah peralihan.
Sikap “curiosity” (rasa ingin tahu) di sini sangat dalam: bukan rasa ingin tahu ringan, melainkan kesiapan eksistensial untuk memasuki sesuatu yang tidak bisa dipastikan.
Ketika Oliver bertanya, “what is it going to be like, that cottage of darkness?”, frasa “cottage” (pondok) di sini menjadi sangat penting.
Kegelapan tidak digambarkan sebagai jurang tanpa dasar, tetapi sebagai tempat tinggal yang kecil dan mungkin bahkan akrab.
Ini menggemakan gambaran di mana kematian bukan sekadar akhir, tetapi semacam perpindahan ke tempat yang disiapkan. Oliver membuka kemungkinan bahwa “kegelapan” tidak identik dengan ketiadaan.
Cara Oliver memandang dunia sekarang adalah konsekuensi langsung dari kesadarannya akan kematian, “And therefore I look upon everything as a brotherhood and a sisterhood…”.
Karena kematian akan datang dan mengambil segalanya, maka segala sesuatu yang ada sekarang dilihat sebagai sesuatu yang berharga dan setara. Ini bukan sekadar etika moral, tetapi cara melihat realitas.
Semua kehidupan menjadi “saudara” dan “saudari”, waktu menjadi relatif, dan keabadian menjadi “kemungkinan lain”.
Nama diibaratkan sebagai musik: “each name a comfortable music in the mouth, tending, as all music does, toward silence.” Tetapi semua musik, seindah apa pun, bergerak (dari dan) menuju keheningan.
Ini adalah gambaran kematian yang sangat puitis: bukan kehancuran mendadak, melainkan pelarutan perlahan ke dalam “silence”.
Kefanaan itu sendiri, bagi Oliver, memiliki keindahan, seperti musik yang justru bermakna karena ia berakhir dalam “silence”.
Di sinilah hidup dipahami sebagai relasi, bukan kepemilikan atau pencapaian pribadi.
“I was a bride married to amazement” berarti menjalani hidup dengan keterbukaan total terhadap keajaiban dunia: bahwa tubuh kecil ini tidak lebih dari seonggok debu yang ditegakkan oleh tulang, mengalirkan darah, bernapas kehidupan, dan berpikir secara kreatif tidak akan dapat memaksa semua orang, binatang, tumbuh-tumbuhan dan segala isi jagat raya ini agar mengikuti kemauannya —seperti juga tidak semua orang dan seluruh isi jagat raya ini harus mengikuti kemauan seorang pribadi.
Ini bukan sikap naif, melainkan pilihan sadar untuk terus terpesona meskipun tahu semuanya akan berakhir. Bahwa kita selalu berada dalam ketotalan jagat raya dan segala isinya.
Oliver menegaskan sangat tajam, “I don't want to end up simply having visited this world.”—seolah-olah seseorang bisa hidup puluhan tahun namun tetap hanya menjadi turis dalam eksistensinya sendiri: ia tidak tinggal dan mengenal siapa diri, dari mana berasal dan akan menuju ke mana, ke tempat abadi.
Kematian di sini berfungsi sebagai cermin: bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menguji apakah hidup sungguh dijalani atau hanya dilewati tanpa memaknai.
Kematian bukan hanya peralihan manusia sebagai makhluk spiritual melainkan juga eksistensialnya.
Dalam kaitannya dengan ini, Sapardi Djoko Damono dalam “Berjalan di Belakang Jenazah” membantu kita memahami kematian.
berjalan di belakang jenazah
angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas siang menepi,
melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
1967
Puisi Sapardi ini tampak sangat sunyi, nyaris seperti napas yang ditahan lantaran kehilangan abadi akibat kematian yang tidak terjelaskan.
Tidak ada ledakan emosi dan tidak ada ratapan, tetapi yang terasa adalah kekosongan yang pelan tetapi menekan.
Kematian tidak dihadirkan sebagai tragedi besar, tetapi sebagai peristiwa sunyi mengubah seluruh cara kita merasakan waktu dan dunia dalam totalitasnya.
Sapardi menciptakan suasana yang tertahan:“berjalan di belakang jenazah angin pun reda”.
Angin yang biasanya bergerak tetapi kini “reda,” seolah-olah alam pun ikut menyesuaikan diri dengan kehadiran kematian.
Kematian seakan membawa semacam penghentian kosmik kecil —ritme dunia tidak lagi berjalan seperti biasa.
Waktu tidak lagi stabil,“jam mengerdip”. “Mengerdip” memberi kesan sekejap, tidak mantap, bahkan rapuh. Seolah-olah waktu kehilangan kontinuitasnya ketika berhadapan dengan kematian.
Ini diperdalam oleh baris berikutnya: “tak terduga betapa lekas siang menepi…”—siang, lambang kehidupan dan terang, tiba-tiba “menepi”, memberi jalan bagi sesuatu yang lain.
Di sini kita merasakan pengalaman eksistensial yang sangat akrab: ketika seseorang meninggal, waktu terasa aneh, bisa sangat cepat, tetapi sekaligus kosong.
Dunia seakan “memberi jalan” bagi jenazah, tetapi juga bisa dibaca sebaliknya: kematian justru membuka ruang bagi dunia untuk terus berjalan tanpa orang yang telah pergi atau meninggal dunia.
Ada ironi sunyi di sini: kepergian seseorang tidak menghentikan dunia; justru dunia tetap berjalan dengan tenang, bahkan terasa lebih “melapangkan jalan dunia”.
Sapardi memperluas,“di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/ di atas: matahari kita, matahari itu juga”.
Pohon-pohon yang “menundukkan kepala” memberi kesan penghormatan terhadap jenazah, seperti pelayat diam kontemplatif.
Alam tidak berbicara, tetapi berpartisipasi dalam suasana duka. Namun di atas, matahari tetap sama—“matahari kita, matahari itu juga”. Matahari tetap bersinar, tidak peduli siapa yang mati.
Waktu tidak lagi “berjalan”, tetapi “mengambang di antaranya”. Waktu tidak punya arah, tidak terikat pada ritme biasa.
Ini adalah pengalaman batin ketika berhadapan dengan kematian: kita berada di antara dua dunia sekaligus —yang masih hidup dan yang sudah pergi— dan waktu terasa seperti kehilangan gravitasi.
“Menghirup waktu” seolah-olah waktu menjadi sesuatu yang bisa dihirup, seperti udara.
Tetapi yang dihirup itu ternyata “kosong”. Ini menggambarkan pengalaman duka yang sangat halus: bukan ledakan kesedihan, melainkan kehampaan yang masuk perlahan ke dalam diri.
Kematian tidak selalu terasa sebagai tangisan, tetapi hadir sebagai kekosongan yang menyusup diam-diam ke dalam relung kerentanan manusia.
Karena begitu trauma dengan kematian, dan bagaimana rasanya berada dalam suasana duka itu, saya tidak berani (seolah-olah tidak punya tenaga, kata, kalimat) untuk mengatakan belasungkawa kepada sahabat atau teman yang sedang dalam situasi duka.
Saya pernah alami bahwa semua ucapan belasungkawa tidak berguna sama sekali, lebih tepatnya, tidak pengaruh sama sekali terhadap kedukaan saya akan kehilangan abadi kakak sulung.
Kesedihan eksistensial saat perkabungan mempunyai jalannya sendiri, situasinya sendiri, dan karena itu memiliki kosakatanya sendiri yakni tindakan. Kata-kata kosakata sehari-hari tidak menyembuhkan derita kehilangan.
Noelia dalam wawancaranya yang direkam dan disiarkan memberikan kata-kata terakhirnya: “Saya tidak ingin menjadi teladan bagi siapa pun, ini hanya hidup saya dan hanya itu”.
Kematian tidak pernah menjadi teladan bagi siapapun, tetapi ia (bisa jadi) adalah jalan satu-satunya tanpa diskusi panjang dan perdebatan.
Kematian adalah urusan dan kesibukan personal antara seseorang dengan kematiannya, dan Tuhan yang menghidupkannya.
Akan tetapi bunuh diri dan/atau eutanasia (dalam situasi dan kondisi tertentu) bukanlah jalan satu-satunya, apalagi menjadi teladan tunggal menuju kematian. (*)