TRIBUNKALTIM.CO - Harga tiket pesawat domestik mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.
Lonjakan ini terutama dipicu oleh meningkatnya harga avtur, yakni bahan bakar khusus pesawat terbang yang porsinya mencapai sekitar 40 persen dari total biaya operasional maskapai.
Karena avtur tidak disubsidi dan mengikuti harga pasar global, kenaikan harga tidak bisa dihindari di tengah gejolak geopolitik dunia.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah berupaya agar penyesuaian tarif tidak terlalu membebani masyarakat.
Baca juga: Harga Tiket Pesawat Naik 2026 karna Avtur, Ini Kebijakan Pemerintah
“Untuk menjaga kenaikan harga tiket domestik agar tetap terjangkau oleh masyarakat, pemerintah menjaga kenaikan harga tiket hanya di kisaran 9 persen sampai 13 persen,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Artinya, meskipun tiket pesawat naik, pemerintah berusaha memastikan kenaikannya tetap terkendali.
Salah satu penyebab utama kenapa harga tiket pesawat naik adalah lonjakan harga avtur.
Bahan bakar ini merupakan komponen terbesar dalam biaya operasional maskapai, bahkan porsinya mencapai sekitar 40 persen.
“Kenaikan harga avtur ini tentu memengaruhi struktur biaya operasional maskapai nasional, di mana kontribusinya mencapai sekitar 40 persen,” ujar Airlangga.
Karena sifatnya nonsubsidi dan mengikuti harga pasar global, avtur naik tidak bisa dihindari di tengah dinamika geopolitik dunia.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak Mulai 1 April 2026, Tarif Tiket Pesawat Terancam Naik
Kondisi ini juga terjadi di berbagai negara.
Di Thailand, harga avtur per liter tercatat sekitar Rp 29.518. Sementara di Filipina berada di kisaran Rp 25.326 per liter.
Adapun harga avtur di Indonesia, khususnya di Bandara Soekarno-Hatta, pada awal April 2026 sekitar Rp 23.551 per liter.
Kebijakan pemerintah untuk menahan harga tiket pesawat Melihat kondisi tersebut, pemerintah menilai penyesuaian tarif menjadi langkah yang tak terelakkan.
Jika tidak mengikuti mekanisme pasar, maskapai asing berpotensi memanfaatkan perbedaan harga, yang pada akhirnya bisa mengganggu persaingan industri penerbangan nasional.
Meski begitu, pemerintah tetap menyiapkan berbagai langkah mitigasi agar harga tiket pesawat mahal tidak semakin memberatkan masyarakat.
Salah satunya melalui penyesuaian fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar.
Batas atas fuel surcharge kini ditetapkan hingga 38 persen untuk seluruh jenis pesawat, baik jet maupun baling-baling.
Selain itu, pemerintah juga memberikan insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen untuk tiket pesawat kelas ekonomi domestik.
Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp 1,3 triliun per bulan atau total Rp 2,6 triliun selama dua bulan.
Baca juga: Harga Tiket Pesawat di Asia Naik Imbas Lonjakan Bahan Bakar Jet, Ini Daftarnya
Kebijakan ini nantinya akan dievaluasi mengikuti perkembangan kondisi global.
Tidak hanya jangka pendek, pemerintah juga menyiapkan langkah struktural agar biaya operasional maskapai bisa ditekan.
Salah satunya melalui pemberian insentif bea masuk nol persen untuk suku cadang pesawat.
Dengan berbagai kebijakan tersebut, pemerintah berharap keseimbangan antara keberlanjutan industri penerbangan dan keterjangkauan tarif tetap terjaga, meski harga tiket pesawat naik akibat tekanan global.
Pada akhirnya, kenapa harga tiket pesawat mahal saat ini tidak lepas dari faktor global, terutama harga avtur naik.
Namun, pemerintah menegaskan kenaikan tarif masih dijaga agar tidak melampaui batas yang ditetapkan.
AirAsia X mengumumkan rencana kenaikan harga tiket pesawat hingga 40 persen, imbas konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Chief Commercial Officer AirAsia X, Amanda Woo menjelaskan bahwa kenaikan harga tiket pesawat merupakan kondisi yang tidak dapat dihindari, tetapi pihaknya berkomitmen menjaga tarif tetap terjangkau sebagai prioritas utama selama periode sulit ini.
“Sebagai maskapai penerbangan dengan kapasitas terbesar di pasar ASEAN, terutama di dalam negeri, kami mampu mendistribusikan biaya tambahan bahan bakar ini dengan sangat hati-hati ke berbagai rute yang menurut kami benar-benar dapat menutup biaya tambahan bahan bakar yang tinggi saat ini,” kata Amanda, dikutip dari Malay Mail, Selasa (7/4/2026).
Maskapai penerbangan berbiaya rendah (low cost carrier) asal Malaysia ini juga bakal menaikkan biaya tambahan bahan bakar sebesar 20 persen dari sebelumnya.
Menurut CEO AirAsia Aviation Group Bo Lingam, biaya rata-rata avtur melonjak menjadi 200 dolar AS atau sekitar Rp 3,4 jutaan per barel dari sekitar 90 dolar AS atau sekitar Rp 1,5 jutaan per barel, seperti dikutip The Business Times.
Kondisi ini menjadi pukulan sangat keras bagi anak perusahaan AirAsia yang melayani rute penerbangan jauh tersebut.
Belum lagi, lanjut Bo Lingam, grup maskapai penerbangan ini juga menghadapi ancaman kelangkaan pasokan bahan bakar pesawat di seluruh kawasan, mulai dari Vietnam hingga Filipina, termasuk di pasar asalnya, Malaysia.
“Kita sudah melewati banyak hal, ini bukan hal baru bagi kita. Ukraina pernah mengalaminya beberapa tahun yang lalu, harga minyak kemudian naik hingga 120 dolar AS per barel, ditambah Covid-19 pada waktu yang bersamaan, dan kita berhasil melewatinya,” tutur pendiri sekaligus CEO AirAsia, Tony Fernandes.
Amanda menuturkan salah satu langkah mengurangi dampak kenaikan tarif dasar pesawat adalah pengurangan biaya bagasi yang dipesan sebelumnya oleh maskapai.
Saat ini, lanjutnya, permintaan penerbangan domestik dan internasional AirAsia X tetap kuat, dan menekankan bahwa maskapai tetap berkomitmen untuk mendukung kampanye Visit.
Pihak manajemen bersiap memotong kapasitas hingga mengurangi biaya bila diperlukan, seperti disampaikan Tony.
Maskapai ini telah memangkas sekitar 10 persen penerbangan grup setelah libur Idul Fitri dan mengurangi rute-rute penerbangan yang dianggap tidak menguntungkan.
Pengurangan beberapa rute penerbangan bersifat sementara, sementara sebagian lainnya permanen.
Lingam menambahkan, perusahaan juga tengah menyesuaikan penempatan pesawat dan memajukan jadwal pemeriksaan pemeliharaan untuk mengelola biaya.
AirAsia x tidak melakukan hedging atas biaya bahan bakarnya, sekaligus sedang menunggu rincian lebih lanjut dari pemerintah mengenai ketersediaan bahan bakar dalam beberapa bulan mendatang.
Sementara itu, Amanda mengungkapkan bahwa tiket pesawat dari Eropa dan wilayah lain ke Asia terus meningkat.
AirAsia Group pun berencana meningkatkan frekuensi penerbangan ke Asia Tengah, termasuk Istanbul, sekaligus tengah menjajaki kemitraan dengan maskapai lain seiring pergeseran permintaan perjalanan.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim telah memberi sinyal bahwa negaranya mungkin menghadapi ketidakpastian pasokan bahan bakar paling cepat pada Juni 2026 mendatang.
Respons ini menyusul kerentanan krisis energi global di Malaysia, meskipun pasokan jangka pendek saat ini masih aman.
Gejolak ini telah mempersulit rencana ekspansi ambisiusnya ke Timur Tengah, meskipun AirAsia X menyatakan tetap berniat untuk terus maju.
Maskapai ini telah berencana meluncurkan hub di Bahrain dan memulai rute Kuala Lumpur-Bahrain-London pada 26 Juni 2026 mendatang bila kondisi membaik tepat waktu. (*)