PROHABA.CO - Kabar duka datang dari keluarga Nyak Sandang, tokoh yang turut menyumbangkan dana untuk pembelian pesawat pertama Indonesia, mengembuskan napas terakhir di tempat tinggalnya di Kabupaten Aceh Jaya.
Kepergian Nyak Sandang pada Selasa, 7 April 2026, menjadi duka mendalam tidak hanya bagi masyarakat Aceh, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia.
Sosok yang dikenal luas karena pengorbanannya dalam masa awal kemerdekaan ini menghembuskan napas terakhir pada pukul 12.20 WIB di kediamannya di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya.
Ia meninggal dunia dalam usia sekitar 100 tahun, setelah kondisi fisiknya semakin melemah akibat faktor usia.
Menurut keterangan keluarganya, Nyak Sandang tidak menderita penyakit serius sebelum meninggal dunia.
Sang cucu, Ataillah, menyampaikan bahwa kondisi almarhum memang telah menurun secara alami seiring bertambahnya usia, namun tidak sampai memerlukan perawatan intensif di rumah sakit.
Kepergiannya pun menjadi kehilangan besar, mengingat jasa dan pengabdiannya yang begitu berarti dalam sejarah bangsa.
Nama Nyak Sandang tercatat sebagai salah satu tokoh rakyat yang berperan penting dalam mendukung perjuangan Indonesia pasca kemerdekaan.
Kisah pengorbanannya bermula pada tahun 1948, ketika Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, melakukan kunjungan ke Aceh untuk menggalang dukungan dalam mempertahankan kedaulatan negara yang masih sangat muda saat itu.
Baca juga: Kabar Duka, Nyak Sandang Meninggal Dunia, Sosok Penyumbang Pesawat RI
Dalam momentum tersebut, rakyat Aceh menunjukkan solidaritas luar biasa, termasuk Nyak Sandang yang kala itu masih berusia 23 tahun.
Dengan penuh keikhlasan, ia menjual sepetak tanah dan emas seberat 10 gram miliknya.
Dari hasil penjualan tersebut, ia memperoleh uang sebesar Rp100, jumlah yang sangat besar pada masa itu, dan seluruhnya disumbangkan kepada negara.
Aksi ini menjadi bagian dari gelombang besar kontribusi masyarakat Aceh yang secara kolektif menyumbangkan sekitar 120.000 dolar Singapura dan 20 kilogram emas murni.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli dua pesawat, yaitu Seulawah RI-001 dan Seulawah RI-002.
Kedua pesawat ini memiliki arti penting karena menjadi cikal bakal berdirinya maskapai nasional Garuda Indonesia.
Kontribusi Nyak Sandang pun diakui secara resmi melalui pemberian obligasi pembelian pesawat Seulawah RI-001 tertanggal 9 Oktober 1950.
Meski memiliki jasa besar, Nyak Sandang menjalani kehidupan yang sangat sederhana.
Ia dikenal sebagai pribadi yang pendiam, religius, dan jauh dari sikap mencari pengakuan.
Ia tetap tinggal di kampung halamannya dan tidak pernah menonjolkan peran penting yang pernah ia lakukan.
Baca juga: Innalilahi wa innailaihi rajiun, Aceh Kembali Berduka, Ulama Aceh Aba Asnawi Meninggal Dunia
Bagi masyarakat Aceh, ia menjadi simbol ketulusan, kesetiaan, dan pengorbanan tanpa pamrih.
Perjalanan hidupnya kembali mendapat perhatian publik secara nasional ketika Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, mengunjunginya pada tahun 2018.
Dalam pertemuan tersebut, Nyak Sandang tidak menuntut hak finansial atas obligasi yang dimilikinya.
Sebaliknya, ia hanya menyampaikan tiga permohonan sederhana: bantuan operasi katarak, pembangunan masjid di kampungnya di kawasan Lamno, Aceh Jaya, serta keinginan untuk menunaikan ibadah haji.
Permintaan tersebut kemudian diwujudkan secara bertahap.
Masjid yang diharapkannya akhirnya berdiri dengan nama Masjid Baitussalam Nyak Sandang dan diresmikan pada tahun 2022.
Sementara keinginan untuk berhaji, karena keterbatasan kondisi kesehatan, dialihkan menjadi ibadah umrah yang berhasil ia laksanakan pada tahun 2019.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya, Nyak Sandang dianugerahi tanda kehormatan Bintang Jasa Utama oleh Presiden Prabowo Subianto.
Penghargaan ini menjadi simbol pengakuan negara terhadap kontribusi besar seorang rakyat kecil dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Kepergian Nyak Sandang bukan sekadar kehilangan seorang individu, melainkan juga hilangnya salah satu saksi hidup dari masa-masa penting perjuangan bangsa. Namun demikian, nilai-nilai yang ia wariskan --keikhlasan, pengorbanan, dan cinta tanah air-- akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
Baca juga: Pria di Deliserdang Ditangkap Polisi di Bener Meriah Usai Tusuk Kerabat hingga Tewas
Baca juga: Kejari Banda Aceh Eksekusi 6 Terpidana Pelanggar Qanun Jinayat, Dua Pelaku Zina Dicambuk 100 Kali
Baca juga: Tujuh Keuchik Diberhentikan, Rp10,7 M Dana Desa di Aceh Barat Bermasalah