Prof Dr Lukman Hakim A Wahab MAg, Dosen Teologi Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Segenap civitas akademika UINAR pastinya berharap agar terpilih sosok rektor terbaik yang akan membawa Universitas Islam ternama di Aceh ini ke arah kemajuan yang lebih baik. Sebagai perguruan tinggi yang mengidentifikasi diri sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pada pengembangan nilai-nilai keislaman pastinya kita berharap akan terpilih rektor profetik. Sosok rektor yang dipandang mampu membawa UINAR menuju kesuksesan dunia dan akhirat.
Karakteristik rektor profetik
Dalam diskursus kepemimpinan Islam dikenal istilah pemimpin profetik. Sebuah Istilah yang mereferensikan gaya kepemimpinan yang berbasiskan nilai-nilai kenabian (nubuwwah) dalam menahkodai sebuah organisasi dan masyarakat. Berpijak pada istilah leadership Islam inilah, maka dalam konteks universitas Islam dapat disebut rektor profetik.
Rektor Profetik ini tentunya rektor idaman segenap civitas akademika sebagaimana kita menginginkan kepemimpinan ala Rasulullah menjelma kembali dalam masyarakat kita di zaman modern ini. Memang terkesan bagaikan sebuah utopia, menginginkan kepemimpinan ala rasulullah sepenuhnya wujud di zaman sekarang. Namun sebagai pemimpin yang akan memimpin lembaga pendidikan Islam tentunya diharapkan kesadaran profetik. Sebuah kesadaran meneladani Rasulullah dalam setiap sendi kepemimpinannya.
Setidaknya ada beberapa karakter yang melekat dalam paradigma rektor profetik: Pertama Transendensi. Karakter transendensi merupakan basis teologis bahwa kepemimpinan itu adalah amanah yang perlu dipertanggungjawabkan. Sebuah kesadaran yang menukik pada kesadaran ketuhanan bahwa kepemimpinan itu mewakili pesan langit untuk membawa umat menuju kesalehan dan kesuksesan dunia akhirat.
Dalam konteks transendensi ini seorang rektor tentunya tidak hanya memimpin Lembaga untuk pengakuan-pengakuan imanen (duniawi), tetapi juga diharapkan mampu membawa kepada pencapaian spiritualitas yang kokoh. Karena masa depan yang sebenarnya adalah kesiapan bekal untuk masuk dalam alam transendensi eskatologis.
Karakter yang kedua adalah keteladanan. Rektor profetik itu harus menjadi teladan dalam segenap sikap dan perilakunya. Allah telah menghiasi keteladanan Rasulullah dalam empat sifat yang sangat padu yaitu; Siddiq yang mempresentasikan kejujuran integritas dalam bertutur dan perbuatan; Amanah yang mempresentasikan kepercayaan dan tanggung jawab; Tabligh yang mempresentasikan kemampuan komunikatif dan transparan; Fathanah yang mempresentasi kecerdasan intelektual dan emosional dalam pengambilan keputusan strategis. Dengan demikian rektor yang profetik adalah yang selalu dilingkupi kesadaran membekali diri dengan keteladan Rasulullah.
Karakter yang ketiga adalah humanis. Memandang manusia atas nilai dasar kemanusiaan dan selalu berupaya meningkatkan harkat dan martabat manusia secara proporsional. Karakter humanis ini adalah tentang kepekaan sosial melihat kondisi masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya agar tetap mendapatkan pengakuan dan perlakuan layak.
Kelanjutan dari karakter humanis ini adalah selalu bersikap adil, melihat komunitas yang dipimpinnya sebagai manusia seutuhnya tanpa dibayang-bayangi oleh kepentingan kelompok dan golongan tertentu. Ketika Allah amanatkan menjadi rektor harus menjadi pemimpin bagi semua civitas akademika UINAR secara keseluruhan. Bukan hanya rektor para pendukung, simpatisan dan timsesnya. Jika kemudian ada dari pendukung calon terpilih nantinya mendapatkan jabatan tentunya semata-mata karena keilmuan dan keahlian yang dimilikinya bukan sebagai “balas jasa”.
Pernah satu ketika Rasulullah membuat satu kebijakan pasca Perang Hunain, beliau tidak memberikan rampasan perang (ghanimah) kepada kaum Anshar yang merupakan loyalis setia. Rasulullah justru membagikan kepada kepada kaum mualaf Quraisy untuk melunakkan hati mereka agar tetap dalam keimanan barunya.
Keputusan Rasulullah memang sempat menimbulkan rasa tidak puas di kalangan Anshar karena merasa lebih berhak. Kemudian Rasulullah mengumpulkan kaum Anshar dan bersabda ”harta dunia hanya titipan, sedangkan Rasulullah adalah yang utama. Kalian memilih mana pulang membawa harta benda atau pulang membawa Rasulullah”. Semua kaum Anshar pun menangis dalam keridhaan dan kesetiaan. Dalam konteks ini, rektor profetik nantinya tentu akan membuat keputusan strategis dan apapun yang terjadi pendukung harus selalu setia dan ridha sebagai cerminan loyalis sejati.
Menuju universitas gemilang
Semua civitas akademika UINAR tentunya merasa bangga atas semua capaian yang telah diraih dan punya keinginan untuk terus berakselerasi untuk terus melanjutkan berbagai capaian kegemilangan lainnya. Ke depan kita juga berharap kesuksesan UINAR tidak hanya mendapatkan pengakuan penduduk bumi tetapi juga melampaui cakrawala pengakuan dari penduduk langit.
Untuk mempertahankan capaian gemilang yang telah diraih dan merengkuh visi yang lebih bermartabat tentunya UINAR mendambakan sosok rektor profetik yang mampu menahkodai lembaga besar ini dengan kepribadian nabawi. Sosok yang mampu membumikan model kepemimpinan Rasulullah di bumi Darussalam ini.
Menyatukan energi setiap komponen kampus menjadi daya dobrak untuk menyingkap kebodohan, ketertinggalan dan merajut masa depan dalam nuansa ukhuwah yang padu. Doa dan harapan kita, semoga Allah menganugerahkan rektor yang berkarakter profetik untuk memimpin UINAR menuju kegemilangan dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal Alamin.