TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Anggaran penataan Jalan Hasanuddin, Jalan Thamrin, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Sulawesi Denpasar, Bali, dipangkas.
Hasil pemangkasan tersebut dialihkan untuk penanganan sampah yang saat ini lebih mendesak.
Adapun anggaran penataan kawasan pusat kota tersebut sebelumnya Rp 137 miliar.
Dari pemangkasan itu, kini tersisa Rp 83 miliar.
Baca juga: TELAN Anggaran Rp100 Miliar, PDAM Rampungkan Pembangunan Pipa ke Badung Selatan
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Bagus Airawata, mengatakan pemangkasan anggaran berdampak pada cakupan pengerjaan yang tidak lagi menyeluruh seperti rencana awal.
"Kemungkinan hanya Jalan Hasanudin, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Sulawesi yang ditangani lebih dulu. Untuk Jalan Thamrin kemungkinan menyusul sesuai ketersediaan anggaran," paparnya.
Nantinya, anggaran yang tersisa akan dimaksimalkan untuk penataan prioritas.
Hal ini termasuk perbaikan senderan bantaran Tukad Badung serta pedestrian di kawasan Jalan Sulawesi yang sebelumnya mengalami longsor.
Airawata mengakui, idealnya penataan bantaran Tukad Badung dilakukan secara menyeluruh dengan konsep bangunan mundur sejauh tiga meter dari sempadan sungai.
Namun, pelaksanaan di lapangan masih bergantung pada kesepakatan dengan pemilik bangunan di sekitar lokasi.
Apabila belum ada kesepakatan, penanganan difokuskan pada titik yang sudah amblas dengan panjang sekitar 32 meter dan lebar 3 meter.
Saat ini, proyek penataan tersebut masih dalam tahap tender pengawasan.
Sementara tender fisik ditargetkan mulai pertengahan April, dengan pengerjaan fisik dimulai Mei.
Penataan ini ditargetkan bisa rampung pada Desember 2026.
Penataan kawasan ini tidak hanya sebatas perbaikan jalan, tetapi mencakup pembenahan menyeluruh.
Mulai dari sistem drainase, pelebaran dan perbaikan pedestrian, penataan lampu penerangan jalan, hingga penataan fasad pertokoan di sepanjang koridor.
Kawasan Jalan Gajah Mada menjadi fokus utama revitalisasi karena memiliki nilai historis sebagai kawasan heritage Kota Denpasar.
Konsep penataan diarahkan untuk memperkuat karakter kawasan lama tanpa menghilangkan identitas arsitektur yang sudah ada.
Penataan dirancang menggunakan elemen dekoratif seperti rotan sintetis yang disesuaikan dengan karakter bangunan eksisting.
Selain itu, penataan pencahayaan juga disiapkan untuk menciptakan suasana kawasan yang lebih hidup, aman, dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
Konsep serupa turut diterapkan di Jalan Sulawesi sebagai koridor perdagangan tradisional yang terintegrasi dengan kawasan Gajah Mada.
Sementara di Jalan Hasanudin dan Thamrin, pembenahan difokuskan pada peningkatan kualitas badan jalan, sistem drainase guna mengantisipasi genangan saat musim hujan, serta penataan trotoar agar lebih ramah bagi pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas. (*)