Curi Buah Matoa Berujung Maut di Medan, Dodi Tewas Dianiaya Pemilik Kebun
Khistian Tauqid April 08, 2026 12:07 PM

TRIBUNBATAM.id - Tragedi memilukan menimpa seorang pria bernama Dodi Muhammad (30) yang tewas dianiaya setelah kepergok mencuri buah matoa.

Pengeroyokan yang menimpa Dodi dilakukan oleh pemilik rumah dan sekelompok orang.

Dodi dituduh mencuri buah matoa di Jalan Nahkoda Sulaiman, Lingkungan V, pada Senin (6/4/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.

Kepedihan dirasakan sang ayah bernama Zulkarnain (56) setelah mengetahui putra pertamanya tewas dianiaya.

Dengan suara bergetar, pria asal Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan tak menyangka Dodi tewas hanya gegara buah matoa.

"Hanya gara-gara buah sampai menghilangkan nyawa anak saya," ujar Zulkarnain dengan suara terisak saat ditemui di kediamannya, Selasa (7/4/2026).

Zulkarnain lantas membeberkan informasi yang didapatkannya terkait insiden pengeroyokan berujung kematian tersebut.

Awalnya Dodi bersama seorang temannya diduga masuk ke pekarangan rumah milik warga untuk mengambil buah matoa.

Kendati demikian, pemilik rumah memergoki hingga Dodi langsung disekap di lokasi.

Zulkarnain sebenarnya sempat mendatangi kantor polisi untuk mencari keberadaan anaknya.

Ternyata Zulkarnain mendapatkan kabar bahwa Dodi meninggal dunia karena dikeroyok sejumlah orang.

"Saat dikasih kabar, kami langsung ke kantor polisi. Kejadian ini tidak saya inginkan, hanya gara-gara mengambil buah sampai disiksa hingga meninggal dunia," tuturnya.

Baca juga: Pengakuan Keji Pelaku Pembunuhan LC di Bandar Lampung, Pemicunya Diduga Tak Bisa Bayar

Setelah itu, pihak keluarga diarahkan ke Rumah Sakit Bhayangkara II Medan untuk mengambil jenazah Dodi yang saat itu sudah menjalani proses autopsi.

"Saya lihat anak saya sudah diotopsi. Sebagai orang tua, saya tidak sanggup melihat kondisi anak saya seperti itu," ungkapnya.

Zulkarnain menggambarkan kondisi tubuh anaknya yang penuh luka. 

Ia menyebut terdapat pendarahan di hidung dan mulut, serta luka di bagian badan, tangan, dan kaki. Luka paling parah disebut berada di bagian kepala yang membiru.

"Waktu saya tengok, hidung dan mulutnya berdarah. Badan, tangan, kaki luka-luka. Yang paling parah di kepala sampai biru," ujarnya.

"Kalau pun ada rasa kemanusiaan, bawalah ke kantor polisi, jangan disiksa seperti itu. Kalau disiksa, itu namanya penganiayaan," katanya.

Zulkarnain berharap pihak kepolisian segera memproses kasus tersebut secara hukum.

"Kami sebagai orang tua tidak terima. Anak saya diperlakukan seperti binatang, tidak ada rasa kemanusiaan. Kami minta pelaku diproses sesuai hukum," tegasnya.

Ia menambahkan, dirinya dan anaknya sehari-hari bekerja sebagai sopir truk. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti jenis buah yang diduga dicuri oleh anaknya.

"Saya dan anak saya kerja sebagai sopir. Saya juga tidak tahu pasti buah apa yang diambil," ucapnya.

Zulkarnain juga menyebut seluruh proses pengambilan jenazah hingga pemakaman dilakukan oleh keluarga tanpa pendampingan pihak mana pun.

"Kami urus sendiri. Malam itu sekitar pukul 20.00 WIB kami ke rumah sakit, ambil anak saya, lalu bawa pulang. Saat dimandikan kami tidak diizinkan masuk, kami hanya menunggu di luar sampai anak saya sudah dibungkus," pungkasnya.

Jenazah Dodi telah dimakamkan di pemakaman umum yang tidak jauh dari kediamannya pada Selasa (7/4/2026) sekitar pukul 11.00 WIB.

Suasana rumah duka tampak sepi, hanya terlihat sejumlah tetangga yang datang menyampaikan belasungkawa atas kepergian anak pertama Zulkarnain dan Kamaliah tersebut.

(TribunBatam.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.