RSUD Anuntaloko Parigi Genjot Sosialisasi Sisrute, Koordinasi Dokter Spesialis Kadang Lambat
Fadhila Amalia April 08, 2026 01:23 PM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz

TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG – Manajemen RSUD Anuntaloko mendorong sosialisasi lebih luas mengenai sistem rujukan terintegrasi atau Sisrute kepada masyarakat dan tenaga kesehatan.

Hal tersebut disampaikan Plt Direktur RSUD Anuntaloko, Irwan, saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPRD Parigi Moutong membahas pelayanan kesehatan daerah, Senin (6/4/2026).

Irwan mengatakan Sisrute sebenarnya memiliki tujuan baik untuk mempercepat proses rujukan pasien antar fasilitas kesehatan.

Baca juga: Rakor SDM Transportasi 2026, Sigi Perkuat Kolaborasi Pusat-Daerah untuk Pelayanan Publik

Namun dalam pelaksanaannya masih terdapat sejumlah kendala yang perlu dipahami bersama oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat.

“Kedepannya bagaimana kita memberikan pemahaman bahwa tujuan Sisrute ini sebenarnya bagus,” kata Irwan.

Ia menjelaskan kendala-kendala yang muncul di lapangan perlu disosialisasikan agar masyarakat memahami mekanisme rujukan dalam sistem pelayanan kesehatan.

Menurutnya sosialisasi tidak hanya dilakukan oleh rumah sakit, tetapi juga oleh puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Karena itu tenaga kesehatan di puskesmas diharapkan dapat menjelaskan kepada masyarakat terkait alur rujukan melalui sistem Sisrute.

Baca juga: Bupati Sigi Dorong Penguatan SDM Transportasi Darat, Fokus pada Kebutuhan Daerah

Irwan menambahkan pihak rumah sakit juga terus melakukan sosialisasi agar pemahaman mengenai sistem rujukan semakin baik.

Ia juga menjelaskan bahwa rujukan pasien tidak hanya terjadi dari puskesmas menuju RSUD Anuntaloko.

Dalam banyak kasus, rumah sakit daerah tersebut juga merujuk pasien ke rumah sakit yang memiliki fasilitas lebih lengkap di Kota Palu.

Menurutnya sebagian besar rujukan pasien terjadi dalam kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat.

Pasien dengan kondisi gawat darurat biasanya langsung diarahkan menuju Instalasi Gawat Darurat atau IGD rumah sakit.

Di IGD, petugas medis akan melakukan penanganan awal sebelum menentukan langkah medis selanjutnya.

Namun dalam proses tersebut, petugas IGD tetap harus berkoordinasi dengan dokter spesialis sesuai dengan kondisi pasien.

Baca juga: Kejari Sigi Gencar Edukasi Hukum Cukai Libatkan Masyarakat dan Pelajar, Sinergi dengan Bea Cukai

Irwan mengakui koordinasi dengan dokter spesialis terkadang membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan kondisi pada jam kerja normal.

Hal itu karena banyak rujukan pasien terjadi pada malam hari ketika sebagian dokter spesialis sedang beristirahat.

Meski demikian, ia memastikan pelayanan di IGD tetap berjalan selama 24 jam untuk merespon pasien yang membutuhkan penanganan darurat.

Menurutnya setiap rujukan yang masuk akan segera ditangani oleh petugas IGD selama kendala jaringan dapat diatasi dan kapasitas rumah sakit masih tersedia.

Menurutnya setiap informasi rujukan yang masuk akan segera ditanggapi oleh petugas IGD yang sedang bertugas.

Selanjutnya petugas medis akan melakukan koordinasi lanjutan untuk memastikan kesiapan pelayanan pasien.

Irwan menambahkan selama kendala jaringan dapat diatasi dan fasilitas rumah sakit masih tersedia, proses rujukan pasien akan tetap dilayani.

Baca juga: Imunisasi Campak hingga 18 April 2026, Anak 9–59 Bulan Jadi Sasaran Utama

Ia memastikan prinsip utama pelayanan di rumah sakit adalah memberikan respon secepat mungkin terhadap setiap pasien yang membutuhkan penanganan medis darurat.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.