Tanggapan Netanyahu Usai Ditinggal AS yang Pilih Gencatan Senjata dengan Iran
Desy Selviany April 08, 2026 01:29 PM

TRIBUNDEPOK-Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi gencatan senjata yang dipilih Amerika Serikat (AS) dalam perang bersama Iran. 

Pernyataan Netanyahu itu dimuat di akun X resmi PM Israel pada Rabu (8/4/2026) sesaat setelah pengumuman gencatan senjata. 

Diketahui Iran dan Amerika Serikat telah menerima rencana untuk mengakhiri permusuhan yang dapat mulai berlaku pada hari Senin (6/4/2026) dan membuka kembali Selat Hormuz.

Kerangka kerja untuk mengakhiri permusuhan telah disusun oleh Pakistan dan dipertukarkan dengan Iran dan AS dalam semalam.

Proposal perdamaian itu memakai pendekatan dua tingkat dengan gencatan senjata segera diikuti dengan perjanjian komprehensif.

“Semua elemen perlu disepakati hari ini,” kata sumber tersebut.

Diketahui sebelumnya AS menyerang Iran atas bujukan Israel yang mengaku khawatir dengan pusat penelitian nuklir Iran.

Dalam keterangannya, Netanyahu disebut mendukung keputusan Presiden Presiden AS Donald Trump untuk menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu dengan syarat Iran segera membuka selat dan menghentikan semua serangan terhadap AS, Israel, dan negara-negara di kawasan tersebut.

Israel juga mendukung upaya AS untuk memastikan bahwa Iran tidak lagi menimbulkan ancaman nuklir, rudal, dan teror bagi Amerika, Israel, negara-negara tetangga Arab Iran, dan dunia.

Israel juga menekankan sebelumnya Amerika Serikat telah menyatakan kepada Israel bahwa mereka berkomitmen untuk mencapai tujuan-tujuan ini, yang merupakan tujuan bersama AS, Israel, dan sekutu regional Israel, dalam negosiasi yang akan datang.

Namun Israel memastikan akan tetap menyerang Lebanon dalam peperangan Timur Tengah kali ini.

“Gencatan senjata selama dua minggu tersebut tidak termasuk Lebanon,” tulis PM Israel. 

Baca juga: Harga Emas Naik 1,75 Persen di Tengah Pengumuman Gencatan Senjata Iran Vs AS

Sebelumnya Iran mengatakan rencana 10 poinnya untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat akan mengharuskan Washington untuk menerima program pengayaan uraniumnya dan pencabutan semua sanksi.

Setelah mengklaim kemenangan, Republik Islam Iran dalam sebuah pernyataan yang dirilis bersamaan dengan daftar 10 poin yang diterbitkan oleh media pemerintah, mengatakan bahwa rencana tersebut akan membutuhkan “kontrol Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz, penerimaan pengayaan uranium, pencabutan semua sanksi primer dan sekunder.”

Tuntutan utama lainnya dalam rancangan tersebut, yang diajukan melalui mediator di Pakistan, mencakup penarikan militer AS dari Timur Tengah, penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, pembebasan aset Iran yang dibekukan, dan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menjadikan kesepakatan apa pun mengikat.

“Perlu dicatat bahwa pengesahan resolusi tersebut akan menjadikan semua perjanjian ini mengikat di bawah hukum internasional dan akan menjadi kemenangan diplomatik yang signifikan bagi bangsa Iran,” kata Dewan Keamanan Nasional Tertinggi negara itu dalam sebuah pernyataan, Selasa (7/4/2026), dilansir The Times of Israel.

Yang terpenting, rencana tersebut juga menyerukan perluasan kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur bagi sekitar seperlima minyak dunia yang secara efektif telah diblokir untuk lalu lintas maritim sejak dimulainya konflik pada Sabtu (28/2/2026).

Pengumuman ini disampaikan setelah Pakistan mengajukan proposal menit-menit terakhir untuk mencegah serangan besar-besaran AS terhadap Iran, dengan Trump memperingatkan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" kecuali kesepakatan tercapai.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.