Laporan Wartawan TribunJatim.com, Anggit Pujie Widodo
TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Sejak Selat Hormuz ditutup pada 28 Februari 2026 akibat konflik di Timur Tengah, dampaknya mulai terasa pada berbagai sektor industri di Indonesia.
Salah satu yang paling terasa adalah lonjakan harga bahan baku yang berkaitan dengan minyak bumi.
Baca juga: Gagal Nikahi Perempuan Asal Pacitan, WNA Malaysia Ketahuan Sudah Overstay & Palsukan Dokumen Kawin
Kondisi tersebut dipicu oleh terganggunya distribusi minyak global, sehingga harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan.
Situasi ini kemudian merembet ke berbagai sektor turunan, termasuk industri petrokimia.
Dalam industri ini, nafta menjadi salah satu bahan baku utama yang sangat bergantung pada minyak bumi.
Nafta digunakan untuk memproduksi senyawa kimia seperti etilena, propilena, dan butadiena.
Berbagai senyawa tersebut selanjutnya diolah menjadi produk-produk yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Di antaranya adalah plastik, karet, bahan bakar, hingga pelarut industri.
Kenaikan harga nafta yang dipicu mahalnya minyak dunia membuat biaya produksi plastik ikut melonjak.
Dampaknya, harga plastik di pasaran dalam negeri mengalami kenaikan cukup tajam.
Seorang pedagang sembako di Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Akmal (23), mengungkapkan bahwa harga plastik kemasan mengalami lonjakan hingga sekitar 100 persen dibandingkan sebelumnya.
Kenaikan ini terjadi dalam waktu relatif singkat.
"Harga plastik bungkus naik rata-rata Rp3.000 sampai Rp5.000," ucap Akmal saat dikonfirmasi TribunJatim.com pada Rabu (8/4/2026).
"Untuk kantong kresek, dari sebelumnya Rp29.000 sekarang menjadi Rp50.000 per pak," imbuhnya.
Menurutnya, kenaikan harga tersebut turut memengaruhi pola belanja konsumen.
Meski kebutuhan plastik tidak bisa dihindari, jumlah pembelian cenderung mengalami penurunan.
"Pembeli tetap membutuhkan, tapi sekarang membeli dalam jumlah lebih sedikit dari biasanya," ujarnya melanjutkan.
Keluhan serupa disampaikan pedagang es sinom keliling, Anas, yang merasakan dampak langsung dari kenaikan harga plastik terhadap usahanya.
Ia mengaku biaya operasional meningkat.
Anas memang sangat membutuhkan plastik sebagai wadah utama.
Terlebih, banyak pelanggannya yang ingin membungkus.
"Kalau es saya ini jelas sangat butuh plastik. Saya biasanya nyetok 50-100 plastik ukuran sedang. Kadang habis, kadang masih sisa sedikit," ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, harga plastik pun ikut melonjak.
Hal itulah yang kemudian disadari oleh Anas.
"Saya sadar itu pas mau nyetok plastiknya, lah kok harganya sudah naik drastis."
"Biasanya murah sekarang mahal. Ya mau tidak mau saya beli," ungkapnya.
Terlebih, keuntungan yang ia dapat dari berjualan es sinom tidak seberapa.
Hal itulah yang kemudian membuat ia pusing dan memutar otak.
"Dulu plastik jadi kemasan paling murah. Sekarang harganya naik, otomatis keuntungan jadi makin tipis," pungkas Anas.