TRIBUNTRENDS.COM - Gelombang kemarahan publik bermula dari sebuah percakapan sederhana yang berubah menjadi polemik besar.
Di tengah rutinitas kerja yang padat, seorang karyawan di gerai Mie Gacoan Medan Marelan justru dihadapkan pada situasi sulit: memilih antara pekerjaan atau mendampingi orang tua yang sedang sakit.
Keputusan yang diharapkan penuh empati itu justru berujung kontroversi, hingga akhirnya menyeret nama perusahaan dan manajemennya ke sorotan luas.
Baca juga: Modal Franchise Mie Gacoan Tahun 2025 di Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya, Catat Syaratnya
Kasus ini mencuat setelah beredar tangkapan layar percakapan antara karyawan dan supervisor store yang viral di media sosial.
Dalam percakapan tersebut, sang karyawan memohon izin untuk menemani orang tuanya yang tengah sakit. Namun respons yang diterima jauh dari harapan.
Alih-alih mendapatkan izin atau dukungan, supervisor justru meminta karyawan tersebut untuk segera membuat surat pengunduran diri. Sikap yang dinilai publik minim empati ini pun memicu reaksi keras dan menjadi perbincangan luas.
Menanggapi polemik yang berkembang, pihak manajemen melalui PT Mitra Bali Sukses akhirnya angkat bicara.
Dalam pernyataan resminya, perusahaan mengakui adanya tindakan yang tidak sesuai dengan kebijakan internal.
Disebutkan bahwa langkah yang diambil supervisor tersebut tidak mencerminkan standar operasional maupun nilai-nilai yang dijunjung perusahaan. Dengan kata lain, tindakan tersebut dilakukan di luar kewenangan yang seharusnya.
Perusahaan juga memberikan penegasan penting terkait nasib karyawan yang menjadi korban dalam kasus ini. Hingga saat ini, karyawan tersebut dipastikan masih berstatus aktif dan tetap terdaftar secara resmi di perusahaan.
Selain itu, manajemen menegaskan bahwa setiap proses pemutusan hubungan kerja (PHK) wajib melalui prosedur yang ketat, sesuai aturan perusahaan dan perundang-undangan, serta harus mendapatkan persetujuan dari divisi Human Capital.
Baca juga: Viral Momen Jokowi Ajak Rombongan Makan di Mie Gacoan di Lombok, Warganet Penasaran: Antre Gak?
Sebagai bentuk tanggung jawab, perusahaan tidak tinggal diam. Supervisor store yang terbukti melakukan pelanggaran telah dijatuhi sanksi tegas sesuai ketentuan internal.
“Manajemen telah memberikan sanksi tegas kepada supervisor store yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan internal perusahaan” tulis pengumuman tersebut, dikutip TribunTrends, Rabu, 8 April 2026.
Di tengah tekanan publik yang terus menguat, supervisor yang bersangkutan akhirnya muncul memberikan klarifikasi melalui sebuah video. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan penyesalan atas tindakannya.
"Berkaitan dengan chat WA saya, saya meminta maaf kepada pihak yang bersangkutan, dan meminta maaf kepada seluruh pihak yang dirugikan," terangnya sebagaimana dilansir dari postingan yang sama.
"Saya menyadari melakukan hal yang tidak sepatutnya dalam hal ini, yaitu memaksa tim saya untuk mengundurkan diri, dan bertindak melebihi batas kewenangan saya sebagai supervisor," tandasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa relasi kerja bukan sekadar soal target dan disiplin, tetapi juga menyangkut empati dan kemanusiaan.
Di era media sosial, satu keputusan yang keliru dapat dengan cepat berubah menjadi krisis reputasi besar.
Kasus di Medan Marelan ini pun menjadi cermin bagi banyak perusahaan untuk kembali menegaskan nilai-nilai dasar dalam manajemen sumber daya manusia bahwa kebijakan harus berjalan beriringan dengan rasa kemanusiaan.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)