Iran Buka Selat Hormuz, Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata 2 Pekan
Muliadi Gani April 08, 2026 03:50 PM

 

PROHABA.CO - Kesepakatan penting akhirnya tercapai di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.

Pemerintah Iran menyatakan bersedia membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya diblokade selama 39 hari terakhir.

Pembukaan jalur strategis ini menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Pakistan.

Dengan ditengahi Pakistan, Presiden AS Donald Trump dan Iran setuju untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia, terutama bagi distribusi minyak dan energi global.

Selama diblokade, dampaknya terasa luas, termasuk lonjakan harga minyak dunia dan gangguan rantai pasok energi internasional.

Iran sebelumnya menutup akses selat tersebut sebagai respons atas serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat bersama sekutunya, Israel.

Kesepakatan gencatan senjata ini diumumkan langsung oleh Presiden AS, Donald Trump, melalui pernyataannya pada Selasa, 7 April 2026.

Ia menyebut bahwa keputusan tersebut diambil setelah komunikasi intensif dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menangguhkan serangan militer terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran segera membuka Selat Hormuz secara lengkap, aman dan penuh, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” tulis Trump di Truth Social, Selasa (7/4/2026), lapor IRNA.

“Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah! Alasannya adalah karena kita telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, dan sudah sangat jauh dalam mencapai kesepakatan pasti mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, dan perdamaian di Timur Tengah,” lanjut Trump.

Trump juga mengklaim bahwa pihaknya telah menerima proposal 10 poin dari Iran sebagai dasar negosiasi menuju perdamaian jangka panjang.

Hampir semua poin perselisihan di masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi jangka waktu dua minggu akan memungkinkan Perjanjian tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan,” tambahnya.

Ia menilai sebagian besar perbedaan antara kedua negara telah menemukan titik temu, dan masa gencatan senjata dua minggu ini akan dimanfaatkan untuk merampungkan kesepakatan final.

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan gencatan senjata akan dimulai setelah Iran membuka Selat Hormuz.

Sebelumnya, Presiden AS pada hari Minggu mengatakan tenggat waktu bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz adalah pada Selasa pukul delapan malam waktu setempat atau AS akan menghancurkan Iran dengan serangan dahsyat.

Israel, sekutu AS dalam agresinya terhadap Iran, dikabarkan juga menyepakati gencatan senjata selama dua minggu.

"Israel telah menyetujui gencatan senjata sementara sebagai bagian dari gencatan senjata dua minggu yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump," kata seorang pejabat senior Gedung Putih pada Rabu (8/4/2026) pagi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi 01
MENLU IRAN - Foto ini diambil dari laman Presiden Rusia pada Kamis (7/8/2025), memperlihatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (tidak terlihat dalam foto) di Moskow pada 23 Juni 2025. Pada 8 April 2026, Araghchi mengumumkan Iran akan membuka Selat Hormuz selama 2 minggu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan sementara setelah perundingan yang dimediasi Pakistan. (Foto: Sergei Karpukhin, TASS/Kremlin)

Baca juga: Iran Hujani Israel dengan Rudal, Tel Aviv Diguncang Ledakan Usai Pidato Donald Trump

Iran Buka Selat Hormuz 

Sejalan dengan itu, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan bahwa negaranya siap membuka jalur aman di Selat Hormuz selama periode gencatan senjata berlangsung. 

Ia menegaskan bahwa Iran akan menghentikan operasi militernya apabila serangan dari pihak lawan benar-benar dihentikan.

"Jalur aman melalui Selat Hormuz tersedia selama dua minggu dengan koordinasi bersama angkatan bersenjata Iran," kata Araghchi pada Rabu (8/4/2026).

"Iran akan menghentikan serangan, jika serangan terhadap kami berhenti," ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Pakistan Sharif dan Marsekal Lapangan Munir yang menjadi mediator dalam perundingan AS, Israel dan Iran.

"Menanggapi permintaan persaudaraan PM Sharif dalam cuitannya, dan mempertimbangkan permintaan AS untuk negosiasi berdasarkan proposal 15 poinnya serta pengumuman oleh Presiden AS tentang penerimaan kerangka umum proposal 10 poin Iran sebagai dasar negosiasi, dengan ini saya menyatakan atas nama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran: Jika serangan terhadap Iran dihentikan, Angkatan Bersenjata kami akan menghentikan operasi pertahanan mereka," tulisnya di platform X, Rabu.

Araqchi juga mengapresiasi peran Pakistan sebagai mediator dalam proses diplomasi ini.

Ia menyebut bahwa komunikasi yang dibangun membuka peluang bagi dimulainya kembali perundingan resmi antara Iran dan Amerika Serikat.

Rencananya, pembicaraan lanjutan akan digelar pada 10 April 2026 di Islamabad, ibu kota Pakistan.

Perundingan itu akan dilakukan setelah Teheran menyerahkan proposal 10 poin kepada Washington melalui Pakistan, dan menambahkan bahwa pembicaraan tersebut tidak berarti berakhirnya perang.

Iran menjelaskan pembicaraan tersebut, yang dapat berlangsung hingga 15 hari dan dapat diperpanjang  jika diperlukan.

Pembicaraan tersebut bertujuan untuk menyelesaikan rincian proposal tersebut, yang mencakup ketentuan mengenai penyeberangan Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap Iran, serta penarikan pasukan militer AS dari pangkalan regional.

Baca juga: Iran Tolak Proposal Gencatan Senjata AS, Eskalasi Konflik Timur Tengah Meningkat

Perang AS-Israel Vs Iran

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sendiri mulai memanas sejak 28 Februari 2026.

Saat itu, AS dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran, hanya beberapa hari setelah perundingan terkait program nuklir Iran kembali digelar di Jenewa.

Kedua negara menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang terus dibantah oleh Teheran dengan menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kebutuhan energi sipil.

Serangan tersebut memicu eskalasi besar yang menyebabkan lebih dari 1.900 korban jiwa di Iran.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS dan Israel di kawasan, sekaligus memutus jalur diplomasi dengan Washington.

Langkah paling signifikan yang diambil Iran adalah memblokade Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global.

Kini, dengan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara dan pembukaan kembali Selat Hormuz, harapan terhadap meredanya konflik mulai muncul. 

Baca juga: Misi Perdamaian PBB: Prajurit TNI Kodam Iskandar Muda Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon

Baca juga: Israel Serang Fasilitas Gas Utama Iran di Bushehr, Koordinasi dengan AS

Baca juga: Stasiun CIA Amerika Serikat di Riyadh Diserang Drone, Diduga dari Iran

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.