TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Amerika Serikat dan Iran akhirnya sepakat untuk melaksanakan gencatan senjata selama dua pekan pada Rabu (8/4/2026).
Terkait kesepakatan gencatan senjata tersebut, China kabarnya diam-diam memainkan perang terselubung dalam mendorong Iran untuk menempuh jalur negosiasi.
Hal ini turut dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump dalam sebuah wawancara dengan AFP, Rabu.
"Saya dengar ya," kata Trump ketika ditanya apakah Beijing terlibat dalam upaya membujuk sekutu utamanya, Teheran, untuk bernegosiasi soal gencatan senjata.
Dikutip dari The Week, dua pejabat China yang berbicara secara anonim, mengatakan kepada Associated Press bahwa Beijing telah menjalin kontak dengan Teheran selama negosiasi yang sedang berlangsung.
Meskipun China belum secara terbuka mengomentari keterlibatannya, seorang pejabat mengungkapkan, pihaknya telah bekerja melalui perantara, termasuk Pakistan, Turkiye, dan Mesir, untuk memanfaatkan pengaruhnya terhadap Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, pada Selasa (7/4/2026) menyerukan semua pihak untuk menunjukkan ketulusan dan segera mengakhiri perang yang seharusnya tidak terjadi sejak awal.
Ning mengatakan, Beijing sangat prihatin tentang dampak konflik tersebut terhadap ekonomi dunia dan keamanan energi.
Baca juga: UEA Ambil Langkah Tegas, Warga Iran Dilarang Masuk di Tengah Konflik Timur Tengah
Pada Selasa, China dan Rusia memveto resolusi PBB yang mendesak negara-negara untuk mengoordinasikan upaya melindungi pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Utusan China untuk PBB, Fu Cong, berpendapat, mengadopsi resolusi tersebut sementara AS mengancam kelangsungan peradaban, akan mengirimkan pesan yang salah.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu hanya satu jam sebelum batas waktu bagi Teheran untuk menyelesaikan kesepakatan berakhir.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah mengundang perwakilan dari kedua negara ke Islamabad dan negosiasi kemungkinan akan diadakan di sana pada Jumat (10/4/2026.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan, Iran akan menangguhkan operasi militernya selama dua minggu dan mengizinkan lalu lintas aman melalui Selat Hormuz selama periode ini
Sumber: Kompas.com