TRIBUNKALTIM.CO - Ancaman krisis air di Indonesia menjadi sorotan setelah Presiden Prabowo Subianto mengingatkan dampak serius kerusakan lingkungan terhadap ketersediaan air bersih.
Ia menilai, meskipun Indonesia memiliki curah hujan tinggi, persoalan utama justru terletak pada pengelolaan ekosistem yang belum optimal.
Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya berada dalam posisi yang sangat menguntungkan dibandingkan negara lain.
Ia mencontohkan tingginya curah hujan di wilayah seperti Bogor yang dalam sehari bisa menyamai total curah hujan tahunan di wilayah tertentu di dunia.
Baca juga: Harga Avtur Naik, Prabowo Tetap Turunkan Biaya Haji 2026 Rp 2 Juta
Namun, keunggulan tersebut tidak akan berarti jika tidak diimbangi dengan pengelolaan sumber daya alam yang baik.
Menurut Prabowo, Indonesia sebenarnya berada di posisi yang sangat beruntung dibandingkan negara lain.
Ia mencontohkan bagaimana intensitas hujan di wilayah Bogor dalam sehari saja bisa menyamai total curah hujan tahunan di wilayah lain di dunia.
"Alhamdulillah negara kita masalah air tidak sebenarnya menjadi masalahnya kadang-kadang kita kelebihan air. Kita ketawa kelebihan air, ini karunia, satu hari air turun di Bogor satu hari air turun di Bogor sama dengan 1 tahun air turun di Australia Barat, satu hari air turun di Bogor sama dengan 1 tahun air turun di Australia Barat demikian berkah yang kita terima dari Maha Kuasa," ujar Prabowo di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Respons Mahfud MD soal Saiful Mujani Bicara Jatuhkan Prabowo
Namun, Prabowo tidak menampik bahwa distribusi air bersih di tanah air belum merata.
Beberapa wilayah, khususnya di bagian timur Indonesia, masih harus berjuang melawan keterbatasan akses air bersih.
Ia optimistis tantangan tersebut bisa diselesaikan asalkan manajemen sumber daya dan alamnya dijaga dengan benar.
"Ya di bagian-bagian tertentu Negara kita Indonesia timur pulau-pulau tertentu masih ada kesulitan air tapi kita dapat mengatasi karena airnya ada tinggal mampu atau tidak Kita mendapatkannya dan menjaganya," ucapnya.
Lebih lanjut, Ketua Umum Partai Gerindra itu menyoroti aktivitas penggundulan hutan yang masih marak terjadi di pegunungan.
Hal inilah yang membuat tanah kehilangan kemampuan alaminya dalam menyerap dan menahan air, sehingga bencana kekeringan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.
"Karena kadang-kadang kita sendiri yang tidak dapat menjaga alam kita, hutan kita babat, pohon-pohon di Gunung kita babat akhirnya air tidak dapat ditahan, terjadi kekeringan tapi hal ini dapat kita atasi," tegasnya.
Baca juga: Klarifikasi Pernyataan Jatuhkan Prabowo, Saiful Mujani: Bukan Upaya Makar
Prabowo meminta jajarannya dan masyarakat luas untuk tidak menyepelekan isu lingkungan.
Ia membandingkan Indonesia dengan negara-negara kaya energi namun krisis air.
"Ada negara-negara yang kaya dengan minyak dan gas tidak punya air apa yang saya ingin sampaikan saudara-saudara? Hal-hal ini begitu penting, hal-hal ini begitu mendasar dan hal ini telah digarisbawahi oleh pendiri bangsa kita," ucap Prabowo. (*)