TRIBUNMANADO.CO.ID - Paskah Nasional Gereja-gereja Sulawesi Utara menyuarakan seruan perdamaian bagi bangsa Indonesia.
Paskah Nasional 2026 yang dipusatkan di Kawasan Megamas, Rabu 8 April 2026 dihadiri ribuan orang.
Jemaat dari berbagai denominasi gereja di Sulawesi Utara.
Rangkaian ibadah dibuka lakon penyaliban Yesus.
Via Dolorosa (Jalan Sengsara) Yesus menjadi pembuka.
Kematian Yesus di salib lalu dikuburkan membuka ibadah.
Ketua BPMS GMIM, Pdt Dr Adolf Katuuk MTh memimpin ibadah didampingi liturgots, Pdt Eva Karamoy MTh.
Pembacaan Alkitab diambil dari Matius 28:1-10 tentang kebangkitan Yesus.
Perikop ini berkisah kebangkitan Yesus.
Maria Magdalena dan Maria yang lain mendatangi kubur pada hari Minggu pagi.
Saat tiba, terjadi gempa bumi dan batu penutup kubur terguling. Makam kosong.
Peristiwa ajaib di Galilea pada dua millenium lampau merupakan karya dan amanat agung Allah bagi manusia.
"Kebangkitan Kristus adalah bukti nubuatan. Sekaligus menepis keraguan para murid akan keilahian dan kemanusiaannya," kata Pendeta Adolf.
Ia berpesan, peristiwa Paskah menjadi pengingat akan kemahakuasaan Allah.
"Dunia boleh ada dalam berbagai kemelut, krisis ekonomi, global warming, bencana alam, kejahatan, distkriminasi, intoleransi dan lain-lain tapi itu semua tidak boleh menafikan kasih Allah akan dunia ini," katanya.
Jemaat diingatkan akan senantiasa mengingat kasih Allah sebagai pemilik kehidupan.
"Ingatlah selalu, Allah masih pemilik dunia ini. Ia penguasa tunggal. Segala sesuatu dalam kontrolnya. Kekuasannya melebihi apapun," katanya.
Lebih dari itu, kata Pendeta Adolf, Paskah mengingatkan umat untuk percaya kepada sumber keselamatan dunia.
Terkait tema Paskah Nasional Sulawesi Utara, Supaya mereka menjadi satu, menjadi momen orang percaya memperkuat iman.
"Ajaran Gereja kita boleh berbeda tapi jangan itu jadi alasan untuk terpecah belah dan mempertentangkan," kata Adolf.
Jemaat diajak belajar dari perempuan-perempuan murid Yesus tentang kesetiaan, ketaatan dan keteguhan Iman mereka yang mencari Yesus.
Katanya, gereja ada karena misi dan misinya untuk Allah.
Jemaat boleh berbeda dari segi agama dan kepercayaan tapi jangan itu dijadikan alasan untuk bermusuhan.
"Paskah mengingatkan kita pernah berjuang sama-sama sebagai anak bangsa merebut kemerdekaan. Ingat semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika. Slogan perjuangan kita bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh," pesannya.
Lanjut dia dalam khotbahnya, Paskah menjadi momen gereja untuk bersatu.
Warga gereja diajak membangun persaudaraan yang rukun dan hidup yang saling menghormati.
"Ingat, kita boleh berbeda agama tapi kita satu dalam Indonesia. NKRI Harga Mati," tegasnya.
Selanjutnya, doa syukur agung dipanjatkan secara berantai oleh perwakilan pimpinan denominasi gereja di Sulawesi Utara.
Doa syukur dibawakan secara bergantian Ketua MD GPdI Sulut, Pdt Yvonne Awuy Lantu; Ketua Pucuk Pimpinan KGPM, Pdt Francky Londa; Gembala Sidang Gereja Bethany Wanea Plaza Manado, Pdt Lenny Matoke dan Sekretaris Eksekutif GMAHK Uni Konferens Indonesia Timur, Pdt Thedd Windewani.
Paskah Nasional ini menjadi momentum menyampaikan seruan persatuan kesatuan bangsa negara Indonesia.
Uskup Manado, Mgr Estefanus Rolly Untu MSc menyampaikan pesan Paskah.
Ia bilang, kiranya semangat Paskah menjiwai kehidupan umat beragama di Sulawesi Utara.
"Kita senantiasa merawat kerukunan, menghargai perbedaan dan kemajemukan. Sulawesi Utara yang rukun damai kita jaga sehingga bisa membawa damai sejahtera bagi masyarakat," ujarnya.
Para pimpinan pemuka agama di Sulawesi Utara menyampaikan doa dan tekad bersama.
Mereka bersama mendoakan seluruh elemen bangsa.
Berdoa bagi Indonesia yang rukun damai dan sejahtera.
(Tribunmanado.co.id/Fernando Lumowa)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK