TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, menegaskan pihaknya tidak akan mentolerir segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah.
Pernyataan itu disampaikan menyusul viralnya video dugaan perundungan yang melibatkan siswa SMA Pertiwi 2 Padang dan menjadi perhatian publik.
“Tidak ada toleransi untuk perundungan di sekolah. Kami akan memantau kasus ini melalui mekanisme yang ada,” ujar Habibul Fuadi saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, penanganan kasus dilakukan secara berjenjang, dimulai dari pihak sekolah, kemudian dilanjutkan oleh pengawas satuan pendidikan guna memastikan penyelesaian berjalan objektif dan kejadian serupa tidak terulang.
Baca juga: Video Dugaan Perundungan di SMA Pertiwi 2 Padang Viral, Kepsek: Kami Masih Melakukan Penelusuran
“Ada mekanisme berjenjang. Sekolah terlebih dahulu melakukan penanganan, lalu diawasi oleh pengawas satuan pendidikan. Ini penting agar pembinaan berjalan maksimal,” katanya.
Menurutnya, peran guru dalam mendidik siswa sangat kompleks, sehingga diperlukan pembinaan berkelanjutan.
“Namanya mendidik tidak bisa sekali jadi. Orang dewasa saja masih banyak yang melakukan kesalahan, apalagi anak-anak. Di sinilah peran guru sangat berat,” ujarnya.
Habibul menambahkan, pihaknya akan terus meningkatkan pengawasan dan pembinaan di seluruh sekolah di Sumbar agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
Baca juga: Insiden Mobil Masuk Jurang di Gunung Padang Gegerkan Warga, Amin Sebut Baru Pertama
“Kami minta seluruh kepala sekolah meningkatkan pembinaan kepada siswa. Perundungan tidak boleh terjadi di mana pun karena dampaknya merugikan semua pihak,” tegasnya.
Sementara itu, terkait video yang beredar, pihak SMA Pertiwi 2 Padang menyatakan masih melakukan penelusuran untuk memastikan kebenaran dugaan perundungan tersebut.
Kepala SMA Pertiwi 2 Padang, Syafril, mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan adanya perundungan dan masih mengumpulkan fakta dari berbagai pihak.
“Kami masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.
Baca juga: Harga Plastik di Padang Melonjak, Pedagang Sebut Dampak Gangguan Pasokan Global
Hal senada disampaikan Wakil Kepala Sekolah, Desi Nofita Sari. Ia menegaskan sekolah berupaya bersikap objektif dan mengedepankan empati terhadap semua pihak, baik yang disebut sebagai korban maupun yang dituduh sebagai pelaku.
Saat ini, korban dikabarkan tengah menjalani observasi di salah satu rumah sakit jiwa di Kota Padang dan belum dapat ditemui.
Pihak sekolah menyatakan akan terus melakukan pendalaman guna memastikan fakta yang sebenarnya, serta menangani persoalan tersebut secara adil.(*)