Tak Ada "Neraka Selasa Malam" di Iran, AS Malah Setujui 10 Poin Proposal Gencatan Senjata
Ryan Nong April 08, 2026 10:40 PM

POS-KUPANG.COM, TEHERAN -- Tidak ada "neraka Selasa malam" di Iran sebagaimana ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Teheran pada Minggu pekan ini. 

Alih-alih membumihanguskan negara yang dikenal sebelumnya dengan Persia tersebut, Presiden Trump bahkan menyanggupi proposal gencatan senjata yang diajukan dan sangat merugikan AS.

Iran pun memastikan Amerika Serikat menyepakati 10 poin tuntutan mereka untuk menurunkan eskalasi perang yang memanas sejak agresi gasbungan AS dan Israel ke negara teluk itu.  

Kedua negara itusepakat untuk memulai gencatan selama dua pekan pada Selasa (7/4), sejak perang berkecamuk selama lebih dari sebulan, sejak 28 Februari lalu.

Baca juga: 10 Poin Tuntutan Iran yang disepakati Trump dalam Proposal Gencatan Senjata Dua Pekan

Bagi Iran, gencatan senjata ini adalah kemenangan sebab Amerika Serikat menyepakati 10 tuntutan yang diajukan Teheran untuk gencatan dan memulai perundingan.

"Selama periode ini [gencatan dua pekan], penting untuk menjaga persatuan nasional secara penuh serta melanjutkan perayaan kemenangan dengan kuat," demikian pernyataan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Selasa (7/4).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengeluarkan pernyataan soal gencatan senjata.

Dalam rilis itu, dia turut menyinggung pembukaan Selat Hormuz. Selat ini ditutup sejak AS dan Israel meluncurkan operasi ke Iran.

"Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis," kata dia di X pada Selasa (7/4) malam.

Sementara itu, Presiden Donald Trump tetap mengklaim kemenangan atas Iran dan menyatakan bahwa Teheran telah mengajukan proposal gencatan senjata yang layak.

"Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah," tulis Trump di media sosialnya.

"Alasan kami melakukan ini adalah karena kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan kesepakatan definitif terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran, dan menilai itu sebagai dasar yang dapat digunakan untuk bernegosiasi," ujarnya menambahkan.

Trump menjelaskan bahwa dua minggu ke depan akan digunakan untuk merampungkan kesepakatan dengan Iran. Ia juga menyampaikan optimisme bahwa berbagai perbedaan yang ada sebelumnya telah berhasil dijembatani.

"Hampir semua poin perbedaan antara Amerika Serikat dan Iran telah disepakati," kata Trump.

Berikut 10 poin tuntutan Iran ke AS yang akhirnya diterima Trump dan menghasilkan gencatan senjata dua pekan, dikutip media semi pemerintah Iran Tasnim News Agency.

1. AS pada prinsipnya harus berkomitmen untuk menjamin non-agresi

2. Kontrol Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz

3. Hak pengayaan uranium Iran harus diterima

4. Pencabutan semua sanksi primer

5. Pencabutan semua sanksi sekunder

6. Pembatalan semua resolusi Dewan Keamanan PBB

7. Pembatalan semua resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA)

8. Pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan terhadap Iran

9. Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan

10. Penghentian perang di semua front, termasuk melawan perlawanan Islam yang heroik di Lebanon.

Ancaman "Neraka" Trump

Sebelumnya ancaman keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandai hubungan yang panas antara Amerika Serikat dan Iran. Ancaman Trump itu pun menandai pergeseran terget perang negara adidaya tersebut. 

Presiden Trump sebelumnya telah mengeluarkan ancaman bahwa pada Selasa 7 April 2026 akan menjadi momentum penghancuran infrastruktur energi dan transportasi di Iran.

Ancaman ini disampaikan di tengah berkecamuknya perang gabungan AS-Israel melawan Teheran.

Melalui platform Truth Social pada Minggu, 5 April, Trump mengatakan bahwa serangan tersebut akan menyasar pembangkit listrik dan jembatan secara serentak.

"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu di Iran. Belum pernah ada yang seperti ini!" tulis Trump, seperti dikutip Anadolu, Senin, 6 April 2026.

Trump menegaskan bahwa Teheran harus segera membuka kembali Selat Hormuz jika ingin menghindari kehancuran total.

Jalur maritim tersebut merupakan urat nadi energi dunia yang saat ini dibatasi aksesnya oleh otoritas Iran.

"Buka Selat Hormuz atau kalian akan hidup dalam 'neraka'. Lihat saja!" tegas Trump dalam unggahannya.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam sejak AS dan Israel meluncurkan ofensif bersama ke Iran pada 28 Februari 2026. Hingga saat ini, konflik tersebut telah membawa dampak signifikan.

Lebih dari 1.340 orang dilaporkan tewas, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.

Iran memperketat pergerakan kapal di Selat Hormuz sebagai strategi pertahanan, yang memicu reaksi keras dari Washington.

Adapun pernyataan ini menandakan pergeseran target militer AS dari pangkalan pertahanan menuju infrastruktur sipil strategis, yang diprediksi akan memperburuk krisis kemanusiaan dan ekonomi di wilayah tersebut.

Iran mengejek ultimatum Trump, sekaligus menyebut pernyataan Trump "tidak berdaya, gugup, dan bodoh".

Ancaman baru Trump mengemuka setelah dia mengumumkan bahwa awak kedua dari pesawat jet tempur AS yang ditembak jatuh di Iran telah berhasil diselamatkan dalam operasi di wilayah negara tersebut.
 
Menurut Trump, pilot F-15 itu telah diselamatkan tak lama setelah pesawat yang diawakinya ditembak jatuh pada Jumat (03/04). Insiden ini terjadi setelah lebih dari sebulan perang.

Iran terus membalas gempuran udara AS dan Israel dengan serangan terhadap berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk yang bersekutu dengan kedua negara tersebut.

Iran juga menghambat arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang biasanya dilalui kapal-kapal yang mengangkut sekitar seperlima minyak dan gas dunia. Hal ini memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi di seluruh dunia.

Gangguan tersebut mendorong Trump untuk mengultimatum Iran untuk membuka kembali selat tersebut.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.