BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sebuah inovasi tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari upaya untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada di sekitar kita.
Hal di atas adalah ungkapan dari ahli permesinan asal Banjarbaru yang sudah meraih prestasi tinggi hingga level internasional ini.
Apa dan bagaimana proses belajar serta karya apa saja yang ia hasilkan? Berikut petikan wawancara dengan pemuda yang juga meraih nilai kelulusan akademis memuaskan dan tertinggi ini.
Bagaimana perjalanan pendidikan Anda hingga tertarik mendalami bidang teknik mesin dan tertarik mechanical design dan analisis struktur?
Perjalanan pendidikan saya sebenarnya dimulai dan banyak dibentuk di kampung halaman tercinta, Banjarbaru, tempat saya dilahirkan. Saya menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota ini, tepatnya di SMP Negeri 1 Banjarbaru dan kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 2 Banjarbaru dengan mengambil jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).
Minat saya pada ilmu eksakta dan rasa ingin tahu tentang bagaimana suatu benda diciptakan dan bekerja itu mulai tumbuh sejak di bangku sekolah menengah.
Ketertarikan itu mendorong saya untuk merantau ke Yogyakarta guna menempuh pendidikan S1 Pendidikan Teknik Mesin dengan konsentrasi Mechanical Design di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Di masa S1 inilah, mata saya benar-benar terbuka terhadap dunia engineering. Saya sangat tertarik dengan inovasi material dan manufaktur, yang kemudian saya tuangkan dalam tugas akhir S1 saya rekayasa molding mask of car kereta cepat dari material komposit menggunakan metode 3D Printing dan Vacuum Infusion.
Dari sana, saya menyadari bahwa sebelum sebuah produk fisik dibuat, diperlukan analisis struktur yang matang agar desain tersebut aman dan efisien. Hal ini memicu ketertarikan mendalam saya pada bidang mekanika solid (Solid Mechanics) dan Finite Element Analysis (FEA).
Untuk mempertajam keahlian, saya tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga aktif mengambil berbagai sertifikasi internasional bergengsi dari Ansys, Inc. di bidang analisis struktur, deformasi, dan dinamika. Guna menyempurnakan keilmuan tersebut, saya memutuskan untuk melanjutkan studi S2 Teknik Mesin di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dengan fokus keahlian pada mekanika benda padat (Solid Mechanics) , di mana saya meneliti analisis numerik dan validasi eksperimental pada struktur lattice (Octet-Truss) berbahan PLA di bawah beban kompresi.
Dalam perjalanan pendidikan S1/S2 tantangan terbesar apa yang pernah dihadapi, bagaimana mengatasinya?
Tantangan terbesar yang saya hadapi selama menempuh S1 dan S2 adalah bagaimana menyeimbangkan antara standar akademis yang sangat tinggi, partisipasi dalam proyek riset/kompetisi berskala internasional, serta tanggung jawab organisasi.
Sebagai contoh, di masa S1, selain harus fokus pada perkuliahan teknis yang rumit, saya juga harus membagi waktu untuk mengikuti program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) di perusahaan manufaktur seperti CV C-Maxi Alloycast dan PT Arai Rubber Seal Indonesia.
Di saat yang bersamaan, saya juga aktif berorganisasi, salah satunya menjadi Sekretaris di Asrama Mahasiswa Kalimantan Selatan Lambung Mangkurat di Yogyakarta , serta mengikuti kompetisi karya tulis ilmiah internasional hingga Alhamdulillah berhasil meraih Medali Emas di ajang WYIIA 2021 dan WICE 2022 di Malaysia.
Tantangan serupa berlanjut di jenjang S2 di ITS, di mana saya dipercaya menjadi Koordinator Acara untuk konferensi internasional ICOME 2025 di tengah pengerjaan tesis numerikal yang menuntut fokus ekstra.
Cara saya mengatasinya adalah dengan menerapkan manajemen proyek (Project Management) dan manajemen waktu yang sangat disiplin di kehidupan sehari-hari. Saya membuat skala prioritas yang jelas, memecah target besar menjadi langkah-langkah kecil yang terukur, dan menanamkan pola pikir bahwa tekanan bukanlah beban, melainkan sarana untuk mengasah keterampilan berpikir kritis (critical thinking) dan pemecahan masalah (problem solving).
Selain itu, doa dari orangtua di Banjarbaru selalu menjadi pelita yang memampukan saya melewati masa-masa padat tersebut.
Anda lulus dengan predikat cumalaude dan IPK tinggi. Bagaimana strategi belajar paling efektif?
Alhamdulillah, pencapaian predikat Cumlaude dengan IPK 3.75 di S1 UNY dengan lama pendidikan 3.5 Tahun dan juga IPK 3.75 yang berhasil saya raih selama masa S2 di ITS dengan lama pendidikan 1.5 Tahun adalah hasil dari kombinasi kerja keras, rasa ingin tahu yang tidak pernah padam, dan doa yang tak pernah putus dari orang tua saya.
Strategi belajar yang paling efektif bagi saya adalah learning by doing dan jangan membatasi ruang kelas sebagai satu-satunya tempat belajar.
Saya memiliki prinsip bahwa teori teknik mesin yang didapat dari dosen harus segera diaplikasikan atau disimulasikan. Ketika belajar Computer-Aided Engineering, saya akan langsung mencoba memecahkan masalahnya menggunakan software seperti Ansys atau Solidworks. Jika merasa kurang, saya proaktif mencari sertifikasi eksternal dan terlibat langsung dalam riset pengembangan produk di industri agar pemahaman saya tetap relevan dengan dunia kerja riil.
Strategi lain yang tak kalah penting adalah berbagi ilmu atau peer teaching. Latar belakang S1 saya di bidang pendidikan (education) sangat membantu saya. Saya pernah mempublikasikan riset tentang efektivitas tutor teman sebaya dalam meningkatkan pemahaman belajar.
Saya sangat percaya bahwa cara terbaik untuk benar-benar menguasai materi yang kompleks (seperti mekanika atau kalkulus) adalah dengan berusaha menjelaskannya kembali kepada teman diskusi. Ketika kita berhasil membuat orang lain paham, di situlah ilmu kita benar-benar matang.
Terakhir, menjaga konsistensi, membangun jejaring akademik, dan memperbanyak literasi publikasi ilmiah (Research Methodology) juga menjadi kunci penting dalam menjalani perkuliahan di level sarjana maupun pascasarjana.
Pengalaman apa yang berpengaruh selama mengikuti program MSIB dan magang di industri?
Pengalaman mengikuti Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) serta magang industri benar-benar menjadi titik balik yang menjembatani teori di atas kertas dengan realitas di lapangan.
Melalui program kampus merdeka ini, saya berkesempatan mengikuti MSIB Batch 3 berupa Studi Independen Finite Element Analysis (FEA) di PT Cadfem Simulation Technology Indonesia selama lima bulan. Pengalaman ini sangat berpengaruh karena membuka wawasan saya tentang bagaimana simulasi komputer tingkat lanjut digunakan oleh industri global untuk memprediksi kekuatan dan kelemahan suatu desain sebelum diproduksi.
Selain itu, saya juga terjun langsung sebagai Research Development Mechanical Engineer melalui program magang di CV C-Maxi Alloycast dan MSIB Batch 4 di PT Arai Rubber Seal Indonesia.
Pengalaman paling berharga di sini adalah belajar tentang problem-solving di dunia nyata. Di industri, sebuah desain tidak hanya dituntut untuk sekadar berfungsi, tetapi juga harus efisien dari segi biaya, mudah diproduksi (manufacturability), dan aman.
Lingkungan industri menuntut kolaborasi tim lintas divisi, kemampuan berpikir kritis yang cepat, dan ketelitian yang tinggi, yang semuanya sangat mematangkan kompetensi saya sebagai seorang engineer.
Apa kontribusi Anda dalam proyek research and development di perusahaan maupun laboratorium?
Sebagai bagian dari tim Research and Development (R&D), fokus utama saya selalu pada inovasi desain dan optimalisasi proses. Saat di CV C-Maxi Alloycast, saya mendapat tanggung jawab khusus dalam perancangan dan pengembangan desain produk tungku peleburan aluminium.
Proyek ini merupakan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk efisiensi energi pada tungku peleburan , di mana komponennya diproses melalui pemesinan, pengelasan, hingga perakitan.
Kemudian saat di PT Arai Rubber Seal Indonesia, kontribusi saya bergeser pada pemecahan studi kasus yang langsung menunjang kebutuhan lini produksi perusahaan.
Beberapa proyek yang saya kerjakan antara lain perancangan layout Trial Engineer Room menggunakan 3D CAD, optimalisasi proses Deflasher termasuk desain Cryogenic Deflasher Basket, perancangan perkakas mekanik (Tool Design), hingga desain Jig dan Fixture untuk membantu teknik produksi di sana.
Saat di jenjang S2, saya tergabung sebagai anggota Laboratorium Solid Mechanics ITS. Di lab ini, riset saya lebih mendalam ke ranah akademis dan teknologi mutakhir, berfokus pada analisis numerik dan validasi eksperimental struktur lattice (Octet-Truss) yang dicetak dengan teknologi 3D printing untuk menguji kemampuannya dalam menahan beban kompresi.
Apa kunci keberhasilan Anda bisa meraih medali emas di kompetisi internasional seperti WYIIA dan WICE?
Alhamdulillah, bisa membawa pulang Medali Emas dari World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA) 2021 dan World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2022 di Malaysia adalah kebanggaan tersendiri.
Jika ditanya kuncinya, saya rasa ada tiga hal utama. Pertama adalah kepekaan terhadap masalah. Sebuah inovasi tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari upaya untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada di sekitar kita. Juri di tingkat internasional sangat menghargai ide yang relevan dan solutif.
Kedua adalah metodologi riset yang kuat. Sebuah ide brilian harus didukung oleh pengujian yang terukur dan data yang valid. Pemahaman saya di bidang mechanical research and development sangat membantu dalam memvalidasi desain atau konsep yang kami ajukan di kompetisi tersebut, sehingga presentasi kami memiliki landasan ilmiah yang sangat kokoh.
Ketiga, dan mungkin yang paling penting, adalah kerja sama tim (teamwork).
Memenangkan kompetisi internasional tidak mungkin dilakukan sendirian. Dibutuhkan tim yang solid, pembagian tugas yang jelas, dan komunikasi yang efektif untuk meramu berbagai sudut pandang menjadi satu karya tulis atau inovasi yang komprehensif.
Semangat untuk terus mencoba, tidak takut gagal, dan disiplin dalam manajemen waktu juga menjadi bahan bakar utama kami saat itu.
* Bagaimana Andq mengembangkan keahlian di bidang FEA dan dapat sertifikasi internasional?
Untuk mengembangkan keahlian di bidang Finite Element Analysis (FEA), saya menyadari bahwa pemahaman matematis dari dosen saja tidak cukup; harus dibarengi dengan jam terbang menggunakan software standar industri secara langsung.
Langkah nyata pertama saya adalah mengikuti program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) di CADFEM SEA Pte. Ltd., sebuah perusahaan yang memang berfokus pada simulasi engineering.
Dari pengalaman intensif tersebut, ketertarikan saya semakin mendalam. Saya mulai menghabiskan banyak waktu di luar jam kuliah untuk mengeksplorasi perangkat lunak Ansys secara mandiri.
Saya proaktif mengambil berbagai modul pelatihan dan ujian sertifikasi langsung dari platform Ansys. Alhamdulillah, dedikasi dan konsistensi tersebut berbuah hasil. Saya berhasil meraih berbagai sertifikasi kompetensi internasional resmi, seperti Structural Nonlinearity, Stress Analysis in Solid Mechanics, Modal Analysis, Structural Dynamics, Contact Mechanics, hingga Stresses in Pressure Vessels (yang bekerja sama dengan Cornell University).
Kuncinya bagi saya adalah rasa penasaran yang konsisten dan kemauan untuk melampaui batas kurikulum standar kampus.
Bagaimana pengalaman mengajar di SMK bisa membentuk kemampuan komunikasi dan leadership Anda?
Sangat membentuk. Pengalaman menjadi Guru Teknik Mesin di SMK Negeri 1 Magelang adalah salah satu fase yang paling mendewasakan karakter saya. Di dunia engineering, kita terbiasa berinteraksi dengan angka, mesin, dan data yang pasti. Namun, saat berdiri di depan kelas, kita berhadapan dengan manusia, para siswa dengan berbagai macam karakter dan tingkat pemahaman.
Di titik itulah kemampuan komunikasi saya benar-benar diuji dan dilatih. Saya ditantang untuk bisa menerjemahkan konsep teknis yang rumit menjadi bahasa yang membumi, sederhana, dan relevan dengan dunia anak-anak belasan tahun.
Selain itu, seorang guru pada hakikatnya adalah seorang leader. Saya belajar banyak tentang kepemimpinan praktis: bagaimana mengelola dinamika kelas, mengambil keputusan dengan cepat, menunjukkan empati, dan yang terpenting, bagaimana memotivasi generasi yang lebih muda untuk berani bermimpi besar.
Proses mengajar telah mengajarkan saya bahwa leadership sejati bukanlah tentang seberapa keras kita memberi perintah, melainkan seberapa baik kita bisa memfasilitasi dan menginspirasi orang lain.
Publikasi ilmiah apa yang paling membanggakan?
Dari beberapa tulisan yang telah saya hasilkan, karya ilmiah yang paling membuat saya bangga adalah paper berjudul Numerical and Experimental Investigation of Scaling Laws in PLA Octet-Truss Lattice Structures Under Compression Load, yang diterbitkan di Jurnal Polimesin.
Ada alasan kuat mengapa riset ini sangat berkesan bagi saya. Pertama, penelitian ini meng-combine ilmu desain mekanik mutakhir dengan teknologi manufaktur masa depan, yaitu mencetak struktur geometris yang sangat kompleks (Octet-Truss Lattice) menggunakan teknologi 3D Printing berbahan dasar PLA.
Kedua, saya tidak hanya berhenti pada simulasi angka-angka di komputer (numerik/FEA), tetapi saya juga harus memvalidasi hasil komputer tersebut dengan pengujian mesin kompresi secara nyata (eksperimental) di laboratorium.
Riset ini menjadi pembuktian nyata bahwa kita bisa menciptakan desain material yang volumenya sangat ringan namun memiliki kekuatan menahan beban yang luar biasa. Publikasi ini semacam "karya monumental" yang merangkum passion, keahlian analisis, dan dedikasi saya di bidang solid mechanics.
Adakah visi dan tujuan karier Anda ke depan?
Visi jangka pendek saya saat ini adalah terjun langsung sebagai profesional di sektor energi maupun industri manufaktur. Saya ingin mendedikasikan beberapa tahun ke depan untuk menyerap sebanyak mungkin pengalaman praktis di lapangan dan melihat langsung dinamika industri skala besar.
Di fase ini, saya juga menargetkan untuk terus memperkaya diri dengan mengambil lebih banyak kompetensi dan sertifikasi keahlian tingkat lanjut berstandar internasional.
Sedangkan untuk visi jangka panjang, mimpi besar saya adalah meramu seluruh pengalaman industri dan kompetensi tersebut untuk kembali ke dunia pendidikan.
Saya bercita-cita menjadi seorang akademisi sekaligus konsultan engineering. Saya ingin menginspirasi generasi muda, khususnya di kampung halaman saya di Kalimantan Selatan, untuk tidak takut bermimpi besar.
Saya ingin mengambil peran aktif dalam meningkatkan literasi sains dan teknologi di daerah kita, membuktikan bahwa anak daerah memiliki potensi yang luar biasa untuk menciptakan inovasi teknologi yang berdampak luas bagi masyarakat. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Masuk Garasi, Diagnosa Dan Utak-Atik
Walaupun kesehariannya sering berkutat dengan data, simulasi numerik, dan mesin, namun Yusri juga masih mementingkan work-life balance.
"Saya adalah penikmat olahraga luar ruangan antara lain mendaki atau hiking. Semasa kuliah, saya juga aktif dan gemar bermain baseball, bahkan pernah menjadi bendahara di UKM Baseball-Softball UNY," ujarnya.
Di luar itu, Yusri memiliki ketertarikan yang sangat mendalam pada dunia otomotif dan juga ajang balap Formula 1, karena di sanalah ia bisa melihat penerapan ilmu aerodinamika dan mekanika di level yang paling ekstrem.
"Di waktu luang, saya sering mencari ketenangan dengan mempraktikan hobi fotografi, atau sekadar masuk ke garasi untuk mendiagnosis dan mengutak-atik mesin mobil klasik, seperti mobil BMW E46 318i," tukasnya.
Kegiatan-kegiatan inilah yang menjadi sarana refreshing agar pikiran Yusri kembali segar dan kreatif saat kembali berhadapan dengan kerumitan desain engineering. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
Biodata
Nama: Muhammad Yusri Dzal Yahya
Lahir: 22 April 2002
Usia: 24 tahun
Email: dzalyusri@gmail.com
Status: Belum Menikah
Agama: Islam
Alamat: Banjarbaru
Pendidikan :
- Master of Mechanical Engineering (M.Eng.) Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 2024-2026
- Bachelor of Mechanical Engineering Education (B.Ed.) Universitas Negeri Yogyakarta, Indonesia, 2020-2024
Riwayat Kerja:
- Laboratory Member, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 2024-2026
- Research Development Mechanical Engineer, Solid Mechanics Laboratory ITS, 2023
- PT Arai Rubber Seal Indonesia, Tangerang
- Guru Mechanical Engineering SMK Negeri 1 Magelang 2023