HARGA Plastik Melambung, Pedagang dari Gianyar, Klungkung Hingga Karangasem Kecil Kelimpungan
Anak Agung Seri Kusniarti April 08, 2026 11:03 PM

TRIBUN-BALI.COM - Sejumlah pedagang kecil di Kabupaten Gianyar, Klungkung hingga Karangasem kelimpungan dengan melambungnya harga plastik.

Para pedagang, seperti pedagang canang, pedagang es, atau bumbu dapur memang masih mengandalkan plastik sebagai pembungkus. Mereka mulai mengeluh merugi, dengan mahalnya harga plastik saat ini.

“Sebelumnya kresek (tas plastik) warna kuning yang biasa untuk bungkus canang ini harganya Rp 5.000, sekarang sudah Rp 7.000. Mahal-mahal sekali sekarang, beras minyak goreng juga naik harganya,” ungkap seorang pedagang canang di Kabupaten Klungkung, Ni Wayan Sriati, saat ditemui Tribun Bali, Selasa (7/4).

Meskipun harga plastik naik, ia mengaku tidak mau buru-buru menaikan harga canang, karena khawatir canangnya tidak laku. “Kalau langsung menaikan harga, nanti canang saya udu (tidak laku). Paling penting laku dulu, walau untung tipis bahkan bisa rugi kalau canangnya udu (tidak laku),” ungkapnya.

Baca juga: BOS MAFIA & Buronan Interpol Ternyata Ada di Bali, dan Sudah Dideportasi Imigrasi Ngurah Rai!

Baca juga: HARGA Plastik Melambung 50 Sampai 100 Persen, Pedagang di Klungkung dan Karangasem Kelimpungan!

SOSOK - Seorang pedagang di Karangasem menunjukan tas plastik, yang harganya melambung tinggi, Selasa (7/4/2026).
SOSOK - Seorang pedagang di Karangasem menunjukan tas plastik, yang harganya melambung tinggi, Selasa (7/4/2026). (Tribun Bali/EKA MITA)

Hal serupa diungkapkan pedagang toko kelontong di Kabupaten Karangasem, Ni Putu Dewi (30). Menurutnya harga plastik sudah mulai naik per awal April 2026.

Harga plastik ukuran kecil yang sebelumnya Rp 2.000 naik menjadi Rp 4.000 per bungkus (isi 100 pcs). Plastik ukuran tanggung dari Rp 5.000 naik 50 persen menjadi sekitar Rp 7.000 sampai Rp 8.000 per bungkus.

Meskipun harga plastik naik, menurut Dewi menaikan harga dagangan bukan solusi. Ia lebih memilih untuk mengurangi keuntungan dari hasil penjualan. “Saya kan jualan di desa, masyarakat belum terbiasa membawa tas belanja.

Apalagi kalau jual beras eceran, tidak bisa pakai tas belanja. Padahal jualan sembako untungnya tipis, ditambah harga plastik naik, semakin sulit situasi sekarang,” ungkapnya.

Ia akhirnya meminta pembeli membawa tas belanja. Sekaligus membiasakan masyarakat mengurangi penggunaan kantong plastik. “Sekarang saya tidak langsung kasi tas plastik, saya tanya dulu dan sarankan pakai tas belanja. Kalau sama sekali tidak bisa membawa (barang dibeli), baru saya kasih kantong plastik,” jelasnya.

Kondisi serupa juga dirasakan pedagang buah keliling, Vicky, saat ditemui berjualan di SPBU Teges, Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Selasa (7/4). Ia membenarkan harga plastik mengalami kenaikan signifikan sejak tiga hari terakhir ini.

“Paling terasa adalah harga cup, yang awalnya saya beli Rp 19 ribu untuk beberapa buah, kini dengan jumlah yang sama harganya sudah mencapai Rp 24 ribu. Belum lagi plastik-plastik kecil dan kresek, harganya naik kisaran Rp 1.000 sampai Rp 2.000 bergantung besar kecilnya,” ujarnya. 

Vicky semakin tercekik karena saat ini harga buah juga mengalami kenaikan. Meski demikian, ia tetap memilih untuk tidak menaikkan harga. Sebab menurut dia, harga jualannya sudah tidak bisa untuk dinaikkan lagi.  

Pedagang lainnya, Ni Putu Asri Utami Dewi, merupakan pedagang rusak dan tipat santok di Jalan Raya Sayan, Ubud juga merasakan hal serupa. Ia juga tidak menaikkan harga jual, meskipun harga plastik dirasanya sudah mulai mahal. Hal yang bisa dilakukannya adalah meminimalisir penggunaan plastik, terutama untuk pembeli yang pesanannya ingin dibungkus.

“Kalau yang makan pakai piring. Sementara yang bungkus, minimal belanja Rp 10 ribu baru dapat plastik,” ujar pedagang yang menjual rujak dan tipat santok di harga Rp 7.000 itu.

Kenaikan harga plastik juga dirasakan para pedagang pasar di Bali dalam beberapa hari terakhir ini. Kondisi ini dipantau Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Bali yang mencatat lonjakan harga cukup signifikan.

Ketua DPW IKAPPI Bali, Sudadi Murtadho mengungkapkan, para pedagang pasar yang sehari-hari menggunakan plastik untuk membungkus dagangan sudah mulai mengeluhkan kondisi tersebut. Kenaikan harga plastik dinilai bisa berdampak pada harga barang yang dijual kepada konsumen.

“Emak-emak yang menggunakan plastik untuk dagangannya tentu sudah teriak-teriak, ini akan membuat harga di pasaran juga berpotensi mengalami kenaikan,” kata dia, Rabu (8/4).

Harga plastik melonjak hingga 50-100 persen per April 2026 ini merupakan dampak gangguan pasokan bahan baku (nafta) dari Timur Tengah karena konflik geopolitik. Ia menyebutkan kenaikan harga tersebut dipicu oleh ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku plastik impor. Akibatnya, ketika terjadi gejolak global, harga di dalam negeri ikut terdampak. 

“Kami pantau sudah cukup lama, pada saat memasuki bulan Ramadan harga plastik sudah mulai ada kenaikan. Puncaknya ini harganya yang kami sudah hitung kenaikannya mencapai 50 persen,” jelasnya. 

Ia menjelaskan, lonjakan harga terlihat pada berbagai jenis plastik yang umum dipakai pedagang. Salah satunya plastik kresek yang sebelumnya dijual Rp 10.000 per pack kini naik menjadi Rp 15.000. Selain itu, ada juga jenis plastik lain yang mengalami kenaikan dari Rp 20.000 menjadi Rp 25.000 per pack.

“Memang ini risiko jika kita masih mengalami ketergantungan impor, sehingga dampak dari perang yang ada di Timur Tengah ini implikasi secara serius ke dalam negeri, sehingga kenaikannya akan terus terjadi. Kami pantau memang signifikan sekali harga plastik ini kenaikannya,” tandasnya. (mit/weg/sar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.