TRIBUNNEWS.COM - PSBS Biak semakin terpuruk di dasar klasemen Super League 2025/2026.
Setelah menelan kekalahan telak 1-6 dari Bali United pada pekan ke-26 (6 April 2026), tim berjuluk Badai Pasifik ini kini makin dekat dengan jurang degradasi.
PSBS Biak saat ini menduduki peringkat ke-18 (paling bawah) dengan hanya 18 poin dari 26 pertandingan.
Mereka tanpa kemenangan dalam 9 laga terakhir (7 kekalahan dan 2 imbang).
Kemenangan terakhir PSBS diraih jauh pada 12 Januari 2026 melawan Bhayangkara FC (4-1).
Catatan ini menjadi indikator krisis performa yang serius.
Masalah terbesar ada di lini belakang. Hingga pekan ke-26, mereka sudah kebobolan 59 gol.
Jumlah ini menjadi yang terburuk di liga. Tidak ada tim lain yang kebobolan lebih dari 50 gol.
Situasi ini membuat PSBS sulit bersaing. Setiap kesalahan kecil berujung pada hukuman besar.
Tanpa perbaikan signifikan, peluang bertahan akan semakin kecil. Waktu mereka semakin terbatas.
Dalam laga melawan Bali United, PSBS sempat unggul lebih dulu lewat penalti Mohcine Hassan di menit ke-30.
Namun, Bali United membalas dengan 6 gol dari Teppei Yachida, Joao Ferrari (2 gol), Diego Campos, Jordy Bruijn, dan Boris Kopitovic.
Baca juga: Hitung-hitungan Poin Persib Juara Super League 2025/2026: Jalan Menuju Hattrick Penuh Tantangan
Jika dilihat dari persaingan zona degradasi Liga 1 saat ini memang sangatlah sengit.
Sebanyak 6 tim terjerat ancaman turun kasta ke Liga 2, dengan selisih poin yang tipis.
Meski ada 8 pertandingan tersisa, situasi PSBS Biak semakin suram.
Selain performa buruk di lapangan, tim juga sempat dihantui masalah internal seperti tunggakan gaji pemain.
Nama PSBS muncul dalam daftar FIFA Registration Ban. Bahkan, mereka terlibat dalam lebih dari satu kasus.
Situasi ini berpotensi mengganggu stabilitas tim. Fokus pemain dan manajemen bisa terpecah.
Di saat yang sama, rival di papan bawah mulai bangkit. Persis Solo dan Persijap Jepara terus mengumpulkan poin.
Kedua tim perlahan menjauh dari zona degradasi. Ini membuat tekanan pada PSBS semakin besar.
Semen Padang juga melakukan langkah cepat. Mereka mengganti pelatih demi menyelamatkan musim.
Langkah tersebut menunjukkan keseriusan pesaing. PSBS justru terlihat stagnan tanpa perubahan signifikan.
Jika situasi ini terus berlanjut, degradasi bukan lagi ancaman. Itu bisa menjadi kenyataan pahit bagi Badai Pasifik.
Dengan sisa laga yang semakin sedikit, setiap poin menjadi sangat krusial bagi kelangsungan tim asal Papua ini di Liga 1 musim depan.
Semua mata kini tertuju pada pertandingan-pertandingan sisa PSBS Biak.
Akankah Badai Pasifik mampu bertahan, atau harus rela turun kasta?


















(Tribunnews.com/Hafidh Rizky Pratama)