Abdur Rozaki Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Yoseph Hary W April 09, 2026 12:14 AM

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN- Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Islam dan Etnisitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Mengusung topik "Islam, Etnisitas dan Dinamika Keindonesiaan Kita: Problema, Tantangan dan Proyeksi Membangun Indonesia Emas”, Prof Rozaki menyebut Indonesia sebagai laboratorium peradaban yang unik. Indonesia mampu bertahan melalui imajinasi kolektif sebagai satu kesatuan di tengah keberagaman.

Menurut dia, model kewarganegaraan inklusif lebih cocok untuk Indonesia yang memiliki keragaman etnik dan agama, karena mampu merepresentasikan keadilan, dan akses yang setara bagi semua kelompok sosial di masyarakat.

"Indonesia tidak melihat asal usul etnik, agama, ras dan indentitas apapun sebagai prioritas. Indonesia melihat dengan cara pandang yang inklusif atas warga untuk memperoleh akses yang setara di dalam meraih keadilan, kesejahteraan dan perlindungan hukum lainnya," katanya melalui keterangan tertulis, Rabu (8/4/2026).

Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu melanjutkan model kewarganegaraan inklusif dapat mengobati luka-luka ketidakadilan masyarakat di masa lalu. 

Dengan formula institusi dan prinsip kenegaraan inklusif, berbagai anasir sektarian, prasangka etnik dan diskriminasi etnik, sudah semestinya tidak mendapatkan tempat di Indonesia. 

Identitas keislaman tidak lagi dipertentangkan dengan identitas etnis dan identitas kebangsaan, namun kekuatan resiliensi yang menjaga etnisitas dari sapuan arus globalisasi yang menghancurkan jati diri sebagai komunitas bangsa.

“Seorang muslim Madura, muslim Bugis, muslim Minang, muslim Melayu atau muslim Aceh dan kekuatan keberagamaan berbasis etnisitas lainnya sangatlah penting untuk saling membangun jembatan dialog, saling memahami satu sama lain untuk menumbuhkan budaya multikultur dan pergaulan inklusif di lingkungan masyarakat,” terangnya.

Ia menekankan Islam masuk ke Nusantara melalui jalan damai, yakni perdagangan, perkawinan, dan tasawuf yang membuatnya mampu beradaptasi dengan budaya lokal. Karakter inilah yang membentuk wajah Islam Indonesia sebagai Islam yang moderat, inklusif, dan toleran.

Namun, ada ancaman kohesi sosial. Kehadiran media sosial dapat melahirkan ruang gema yang memperkuat prasangka dan mempersempit dialog. Kondisi ini perparah ketika agama dan etnisitas dijadikan alat politik.

Untuk itu, literasi digital serta etika bermedia sosial, dan penguatan dialog lintas identitas menjadi fondasi penting. Ia juga menekankan pentingnya membangun resiliensi identitas. (maw)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.