TRIBUNNEWS.COM - Subdit Gakkum Ditpolairud Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus peredaran obat keras ilegal yang menyasar kalangan nelayan dan anak buah kapal (ABK) di wilayah Muara Angke, Jakarta Utara.
Dalam operasi tersebut, polisi menangkap satu orang tersangka berinisial A di sebuah kios mencurigakan di kawasan pesisir.
Direktur Polairud Polda Metro Jaya Kombes Pol Mustafa menyampaikan bahwa pengungkapan ini berawal dari laporan masyarakat terkait maraknya peredaran obat keras tanpa izin di lingkungan nelayan.
Ia menegaskan pihaknya berkomitmen memberantas praktik ilegal tersebut karena berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat pesisir.
“Kami berkomitmen memberantas peredaran obat keras tanpa izin karena berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat, khususnya terhadap masyarakat pesisir dan nelayan,” ujarnya di Jakarta, Rabu.
Kasubdit Gakkum Ditpolairud AKBP Ardhie Demastyo menjelaskan, setelah dilakukan penyelidikan, tim langsung melakukan penindakan di sebuah kios di kawasan Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, dan mengamankan tersangka.
Dari tangan pelaku, polisi menyita ribuan butir obat keras ilegal berbagai jenis, di antaranya tramadol, hexymer, alprazolam, trihexyphenidyl, lorazepam, hingga clonazepam. Selain itu, diamankan pula uang hasil penjualan dan satu unit telepon genggam yang digunakan untuk transaksi.
Saat ini, tersangka beserta barang bukti telah diamankan di Subdit Gakkum Ditpolairud untuk proses penyidikan lebih lanjut.
Polisi juga masih melakukan pengembangan guna mengungkap kemungkinan adanya jaringan lain yang terlibat dalam peredaran obat ilegal tersebut.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 436 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan terkait praktik kefarmasian tanpa kewenangan serta peredaran sediaan farmasi yang tidak memenuhi standar.
Baca juga: Sosok AKBP Ayub dan AKBP Wikha, 2 Kapolres Pilih DM Akun IG demi Bongkar Obat Keras
Wajah Kampung Nelayan di Muara Angke kini berubah drastis.
Kawasan yang dulu identik dengan kekumuhan dan banjir rob, kini menjelma menjadi permukiman yang lebih tertata, nyaman, dan layak huni bagi masyarakat pesisir.
Perubahan signifikan ini membuat warga tak lagi dihantui rasa was-was saat air laut pasang. Pemerintah menghadirkan solusi berupa rumah panggung dan rumah apung, sehingga masyarakat tetap aman meski banjir rob datang.
“Sekarang sudah enak. Rumahnya sudah panggung semua, dibantu Pak Prabowo. Dulu banjirnya besar, rumah kebanjiran. Sekarang lebih nyaman,” ujar Sunenti, pengupas kerang yang telah puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut.
Transformasi ini merupakan bagian dari program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto. Program ini melibatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman dalam menata kawasan pesisir agar lebih layak huni.
Tak hanya hunian, infrastruktur juga mengalami peningkatan pesat. Jika sebelumnya akses jalan hanya beralaskan kulit kerang, kini sudah dibeton sehingga memudahkan mobilitas warga. Kendaraan roda empat kini bisa masuk hingga ke permukiman untuk mengangkut hasil tangkapan nelayan.
Feri Setyawan, seorang pedagang ikan, merasakan langsung dampaknya. Ia kini mampu mengangkut hingga satu ton ikan menggunakan mobil, dibanding sebelumnya yang hanya sekitar 50 kilogram dengan sepeda motor.
Dari sisi ekonomi, perubahan juga terasa signifikan. Harga kerang hijau yang dulu hanya Rp3.500 per kilogram kini melonjak hingga Rp30 ribu–Rp35 ribu per kilogram. Hal ini turut meningkatkan pendapatan para nelayan.
“Saya beruntung dengan adanya kampung nelayan ini. Hidup saya berubah jadi lebih baik,” kata Warya, nelayan pencari kerang hijau.
Selain itu, fasilitas umum seperti area bermain anak juga kini tersedia. Anak-anak yang sebelumnya kesulitan mencari tempat bermain kini memiliki taman dan lapangan futsal yang luas.
Dimas Rangga Saputra, salah satu anak nelayan, mengaku senang dengan perubahan tersebut. “Sekarang lebih bagus. Dulu nggak ada tempat bermain, sekarang ada taman dan lapangan,” ujarnya.
Dengan berbagai pembenahan tersebut, Kampung Nelayan Muara Angke kini menjadi contoh nyata bagaimana penataan kawasan pesisir mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus membuka akses ekonomi yang lebih luas.