SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Pengamat politik, Haekal Al Haffafah menilai pemerintah Indonesia harus menyikapi ketahanan pangan secara komprehensif dalam menghadapi fenomena El Nino “Godzilla”.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan tidak hanya ketersediaan beras, tetapi juga stabilitas seluruh bahan pokok lainnya.
“Pemerintah harus meyakinkan publik bahwa stok pangan kita benar-benar aman. Namun, bicara bahan pokok tidak hanya soal beras. Variabel lain harus dipikirkan secara komprehensif,” ujar Haekal, Kamis (9/4/2026).
Direktur Eksekutif Teras Indonesia ini menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan yang menyebut ketahanan pangan Indonesia tetap terjaga meski ada gangguan logistik global.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga memastikan stok beras nasional aman hingga 11 bulan ke depan.
Haekal menilai, meskipun stok pangan dinyatakan aman, hal tersebut belum tentu menjamin stabilitas harga di pasaran.
Ia menyoroti adanya kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama setelah kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai berjalan.
“Pasca kebijakan MBG, banyak konektivitas pangan lokal yang terserap ke sana. Hal ini memicu kenaikan harga di pasar. Misalnya buah-buahan yang rata-rata mengalami kenaikan,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa permintaan terhadap sejumlah bahan pokok lain seperti telur meningkat signifikan, bahkan membuat konsumen harus mengantre atau melakukan pemesanan terlebih dahulu.
Lebih lanjut, Haekal menjelaskan bahwa potensi kenaikan harga pangan juga dipengaruhi faktor eksternal, seperti kondisi geopolitik global.
Meski Selat Hormuz kembali dibuka pasca kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, menurutnya masih ada persoalan lain yang membayangi.
“Tekanan ekonomi makro masih ada, seperti defisit anggaran dan kewajiban pembayaran utang negara dalam waktu dekat. Ini tentu berpengaruh terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa isu El Nino “Godzilla” tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan berbagai faktor ekonomi dan politik yang dapat memperumit situasi.
Selain itu, Haekal menilai daya beli masyarakat saat ini belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu menyiapkan kebijakan khusus, termasuk memperluas penyaluran bantuan sosial (bansos).
“Masyarakat mulai merasakan beban ekonomi sejak awal tahun. Perlu ada stimulus agar daya beli tetap terjaga,” ujarnya.
Ia mengibaratkan kondisi saat ini seperti strategi bertahan dalam sepak bola, di mana pemerintah belum sepenuhnya masuk pada strategi menyerang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Haekal mengingatkan bahwa potensi krisis tetap ada, terutama jika dikaitkan dengan dinamika politik nasional yang berkembang saat ini.
“Ancaman itu masih ada, termasuk jika dikaitkan dengan isu politik. Hal-hal seperti ini yang perlu diantisipasi,” pungkasnya.