SURYA.CO.ID - Generasi muda Indonesia tidak menyikapi uang seperti generasi sebelumnya. Bukan hanya karena mereka menggunakan aplikasi atau memilih investasi yang berbeda, namun perubahannya lebih dari itu.
Bagi generasi sebelumnya, kesuksesan finansial terlihat dalam bentuk yang cukup jelas, mempunyai rumah, membangun karier yang stabil, memiliki tabungan.
Inilah tonggak-tonggak penting yang menandai kehidupan yang dikelola dengan baik.
Generasi muda Indonesia saat ini bukannya tidak punya ambisi tetapi mereka diam-diam menegosiasikan kembali bentuknya.
Sebuah laporan IDN Research Institute, kedua generasi ini semakin memprioritaskan tujuan, fleksibilitas, dan kesejahteraan emosional ketimbang indikator pencapaian konvensional.
Baca juga: Kolaborasi Tokio Marine Life–NU Care LAZISNU, Bangun Ekosistem Pemberdayaan Finansial Anak Muda
Kar Yong Ang, Elev8 Analyst mengungkapkan, kesuksesan, bagi banyak orang, tidak lagi berkaitan erat dengan kepemilikan, tetapi lebih pada kualitas hidup.
“Dan beginilah cara generasi muda secara rasional merespons lingkungan yang benar-benar berubah. Kaum muda zaman sekarang menghadapi penyusutan kelas menengah, ketidakstabilan pekerjaan, upah stagnan, dan biaya urban yang meningkat,” kata Kar Yong Ang.
Dalam konteks ini, menunda kepemilikan rumah atau mengadopsi gaya hidup minimalis bukanlah tren, melainkan strategi praktis untuk menavigasi dunia yang menawarkan lebih sedikit jaminan daripada sebelumnya.
Salah satu tanda paling jelas bahwa generasi muda Indonesia menyikapi uang dengan berbeda adalah cara mereka menghasilkan pendapatan.
Ketika generasi lalu umumnya mengandalkan satu pekerjaan dan gaji tetap, Milenial dan Gen Z jauh lebih mungkin memiliki beberapa aliran pemasukan sekaligus, posisi bergaji disertai pekerjaan lepas, proyek sampingan kreatif, atau bisnis digital kecil.
Baca juga: Pakar Ekonomi Islam Unair : Gen Z Berpotensi Perkuat Tata Kelola Zakat di Indonesia
Hal ini sebagian didasari oleh kebutuhan, dan sebagian merupakan disposisi. Karena tumbuh dalam lingkungan ekonomi yang tidak stabil, anak muda Indonesia telah menginternalisasi gagasan bahwa sangat berisiko jika hanya bergantung pada satu sumber pendapatan saja.
Pendekatan multi-aliran untuk menghasilkan pendapatan ini tercermin dalam cara mereka mengelola apa yang mereka hasilkan.
Keuangan pribadi bukan lagi tiba sebulan sekali saat hari gajian. Bagi banyak kaum muda Indonesia, hal itu sudah jadi kebiasaan harian.
Ini termasuk memeriksa aplikasi anggaran saat bepergian, menyesuaikan alokasi tabungan untuk pengeluaran tak terduga, dan selalu membuat keputusan kecil yang cermat tentang ke mana dan mengapa harus mengeluarkan uang.
Manajemen keuangan jadi lebih seperti rutinitas sehari-hari, bukan terjadwal di waktu tertentu.
Milenial dan Gen Z sering dibahas sebagai satu kelompok, tetapi perilaku keuangan mereka sangat berbeda.
Milenial cenderung memprioritaskan stabilitas dan perencanaan jangka panjang. Mereka menyiapkan dana darurat, membantu beberapa anggota keluarga, dan menggunakan perencanaan keuangan dengan hati-hati, 69 persen Milenial memiliki dana darurat untuk tiga bulan.
Untuk generasi ini, keputusan keuangan lebih terikat dengan kebutuhan emosional dan identitas pribadi.
Mereka menabung untuk konser, terapi, jalan-jalan, dan perawatan diribukan karena mereka tidak peduli dengan keamanan finansial, tetapi karena mereka melihat pengeluaran ini sebagai infrastruktur yang diperlukan untuk menjaga stabilitas dan fungsionalitas.
Hanya 23 % Gen Z yang memiliki dana darurat untuk tiga bulan, sebuah kesenjangan yang bukan mencerminkan absennya tanggung jawab, tetapi prioritas dan sikap yang berbeda dalam menghadapi risiko.
Gen Z juga cenderung lebih eksperimental dalam pendekatannya terhadap produk keuangan.
Ketika generasi yang lebih tua mungkin berhati-hati pada instrumen yang tidak dikenal, Gen Z lebih bersedia mencoba platform baru, menguji kelas aset yang tidak konvensional, dan belajar melalui pengalaman langsung.
Dikombinasikan dengan akses yang lebih besar terhadap informasi keuangan daripada generasi sebelumnya, Gen Z menjadi lebih terinformasi dan lebih adaptif, meskipun juga lebih terpapar risiko.
Di sinilah kesamaan dua generasi ini, dan di sini pula taruhannya paling tinggi. Laporan yang sama menemukan bahwa 54 % Gen Z dan Milenial Indonesia telah mengalami setidaknya satu penipuan finansial di media sosial.
Namun hanya 37 % yang merasa yakin bisa mengidentifikasi penipuan, dan hanya 28 % yang
Kar Yong Ang percaya kaum muda Indonesia menyikapi stabilitas keuangan dengan cara yang masuk akal untuk dunia mereka dunia yang lebih bergejolak, lebih digital, dan lebih didorong oleh nilai, daripada dunia yang dihadapi orang tua mereka.
"Di Indonesia, Milenial dan Gen Z mendapatkan penghasilan dari berbagai sumber, mengelola uang secara real time, terbuka pada tools dan format baru, serta belajar sambil jalan. Tujuannya tidak lagi sekadar mengumpulkan. Mereka menyelaraskan uang dengan nilai, pengeluaran dengan identitas, perencanaan dengan tujuan," kata Kar Yong Ang.
Perubahan ini layak dianggap serius. Dan bagi siapa pun yang menavigasinya, investasi paling berharga adalah memahami lanskap keuangan melalui edukasi dan pengetahuan.
Judul:
Generasi Muda Indonesia Ubah Cara Pandang Keuangan, Utamakan Fleksibilitas
Milenial dan Gen Z Pilih Fleksibilitas, Cara Kelola Uang Pun Berbeda