Rahmawati Tak Tega Naikkan Harga Dagangan Meski Plastik Melonjak, Iba dengan Warga Kampung
Ignatia Andra April 09, 2026 04:31 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Pedagang di Surabaya bernama Rahmawati, merasa tak tega dengan warga kampung.

Di sebuah gang padat kawasan Kedungdoro Surabaya, Jawa Timur, ada saja kegiatan berjualan warga bercampur dengan riuh obrolan.

Di sanalah, sejumlah usaha kecil menjadi tumpuan hidup.

Namun belakangan, harga plastik yang tiba-tiba melonjak, pelan-pelan mengusik keseimbangan para pedagang.

Rahmawati yang berjualan makanan dan minuman kecil perempatan gang, kenaikan harga bukan hal baru.

Rasanya berbeda

Tetapi, kali ini terasa berbeda karena plastik yang selama ini dianggap sepele, justru menjadi beban yang tidak bisa dihindari.

“Ya betul, gimana lagi, tidak apa-apa. Saat ini tidak saya naikkan harga jualan saya, yang penting laku dan bisa muter. Kalau tiba-tiba dinaikkan semua gimana, kan yang beli juga orang kampung,” ujar perempuan berusia 33 tahun itu kepada Kompas.com, Rabu (8/4/2026), dikutip TribunJatim.com, Kamis (9/4/2026).

Rahmawati bercerita, harga plastik yang biasa dibeli melonjak cukup tajam.

Dari sebelumnya Rp 10.000, kini menjadi Rp 14.500.

Kenaikan itu langsung terasa karena hampir seluruh dagangannya bergantung pada kemasan plastik mulai dari foam, gelas minuman hingga bungkus makanan.

“Untung dikit enggak apa-apa, yang penting cepet laku dan muter,” katanya.

Baca juga: Alasan Iran Tutup Kembali Selat Hormuz usai Isu Gencatan Senjata Muncul, Dollar AS Melemah

Lonjakan harga tidak hanya terjadi pada plastik, kebutuhan lain pun ikut bergerak naik.

Rahmawati mengingat momen saat berbelanja, dalam hitungan jam harganya sudah berubah.

“Awalnya saya tanya minyak Rp 41.900, mau pulang pas di kasir harganya sudah Rp 43.000, belum sampai satu jam lho,” ujarnya.

Baca juga: Tari Petik Pari Pacitan, Sentuhan Anang Sanggar Blarak Wujud Ekspresi Syukur Panen dalam Gerak Seni

Menurut dia, perubahan cepat seperti ini membuat para pedagang kecil sulit mengambil keputusan.

Sebab, tidak mempunyai banyak waktu untuk menyesuaikan strategi, sementara usaha harus tetap berjalan setiap hari.

Di tengah situasi yang tidak menentu, Rahmawati menyebut, pilihan para pedagang sebenarnya sangat terbatas. Termasuk mengganti kemasan bukan perkara mudah, meskipun ada alternatif.

“Ke depan juga tidak ada rencana untuk pakai kertas karena terlalu ribet juga. Semoga cepat diturunkan harga normal. Kalau saat ini ya wes pokoknya bisa makan,” pungkasnya.

Pilihan Sulit Pedagang Kecil

Hal serupa dirasakan Naim, pemilik warung kopi kecil yang ada di teras rumahnya. Gelas plastik menjadi kebutuhan utamanya dalam mengemas minuman yang dijual karena praktis dan tidak merepotkan.

Saat ini, meski biaya meningkat, Naim belum ingin menaikkan harga. Menurut dia, pelanggan di kampung memiliki batas kemampuan yang harus dipahami.

“Harga jualan masih tetap, meskipun gelas plastiknya naik ada yang sampai 50 persen,” ucap pria berusia 40 tahun itu.

“Tidak ngurangin takaran minuman, saat ini masih untung kok. Kalau sudah mepet nemen (sekali, red-) baru saya naikkan. Karena di kampung sulit kalau harganya mahal-mahal,” kata Naim lagi.

Baca juga: Setelah Digeruduk, Pemkab Jombang Baru Bergerak Tertibkan PKL Liar di Zona Merah

Namun, dia juga mulai mempertimbangkan opsi lain jika kondisi semakin berat, meski belum tentu bisa langsung diterapkan.

“Kalau harganya parah kemungkinan kalau yang tidak take away itu, saya pakai gelas akrilik,” ujar Naim.

Saat ini, menurut dia, masih bertahan adalah pilihan paling realistis sambil melihat situasi dengan lebih sederhana.

“Ya gimana ya mau ngeluh juga tidak bisa, yang penting adalah bertahan wes. Selama kebutuhan masih tercukupi Alhamdulillah,” pungkasnya.

Seperti diketahui, eskalasi konflik di Timur Tengah mulai memukul urat nadi perekonomian termasuk di Indonesia.

Salah satunya, harga aneka produk plastik ikut naik lantaran Indonesia masih mengandalkan impor plastik dan produk turunannya.

Beralih bukan plastik

Untuk bertahan dalam kondisi seperti ini, langkah paling realistis adalah mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai dan beralih ke alternatif yang lebih tahan lama.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal sederhana seperti menggunakan wadah kaca, logam, atau kain dapat secara signifikan mengurangi kebutuhan plastik.

Selain itu, membiasakan diri membawa tas belanja sendiri, botol minum isi ulang, dan menghindari produk dengan kemasan berlebihan akan membantu menciptakan pola konsumsi yang lebih tahan terhadap kelangkaan.

Dari sisi energi, strategi adaptasi yang penting adalah efisiensi dan diversifikasi sumber energi.

Menghemat listrik, menggunakan peralatan hemat energi, serta memaksimalkan pencahayaan dan ventilasi alami di rumah dapat mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil.

Jika memungkinkan, pemanfaatan energi alternatif seperti panel surya skala rumah tangga juga bisa menjadi solusi jangka panjang.

Selain itu, mengurangi mobilitas yang tidak perlu, berbagi kendaraan, atau menggunakan transportasi umum dapat membantu menghemat bahan bakar yang mungkin menjadi langka atau mahal.

Dalam skala rumah tangga dan komunitas, kemampuan untuk mendaur ulang dan menggunakan kembali barang menjadi sangat penting.

Plastik yang sudah ada sebaiknya tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan, seperti penyimpanan, kerajinan, atau keperluan lain.

Di sisi lain, membangun kebiasaan hidup yang lebih mandiri seperti memasak sendiri, menanam sebagian kebutuhan pangan, dan mengurangi konsumsi barang sekali pakai, akan meningkatkan ketahanan terhadap gangguan pasokan global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.