Israel Bantai 254 Warga Lebanon dalam 10 Menit Serangan setelah AS-Iran Setujui Gencatan Senjata
Ansari Hasyim April 09, 2026 04:36 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Penjajah Israel kembali memicu kecaman internasional setelah melancarkan agresi udara besar-besaran di Lebanon, Rabu (waktu setempat). 

Serangan yang terjadi di tengah klaim gencatan senjata itu menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.150 lainnya hanya dalam waktu 10 menit serangan di seluruh Lebanon, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon dan Pertahanan Sipil setempat.

Dalam tempo dua jam, sekitar 150 serangan udara dilaporkan menghantam berbagai wilayah, memperlihatkan skala dan intensitas yang jarang terjadi. 

Bom dijatuhkan ke ibu kota Beirut, pinggiran selatannya, kawasan selatan Lebanon, Lembah Bekaa, hingga Gunung Lebanon. 

Baca juga: AS Terima Tiga Proposal Berbeda Terkait Iran, Salah Satunya Ditulis Dalam ChatGPT

Lingkungan permukiman dan infrastruktur sipil menjadi sasaran utama, membuat jumlah korban terus bertambah.

Korban Menyebar di Banyak Wilayah

Data sementara menunjukkan penderitaan paling berat terjadi di Beirut: 92 orang tewas dan 742 luka-luka. Di pinggiran selatan ibu kota, tercatat 61 martir dan 200 korban luka.

Wilayah lain tak luput dari gempuran: Baalbek (18 tewas), Hermel (9 tewas), Nabatieh (28 tewas, 59 luka), Alay (17 tewas), Saida (12 tewas, 56 luka), serta Tirus (17 tewas, 68 luka).

Tak lama setelah tengah malam Kamis, jet tempur Israel kembali menggempur pinggiran selatan Beirut, menambah kehancuran di kawasan padat penduduk. Rumah sakit kewalahan; tim medis dan layanan darurat berjuang di tengah keterbatasan dan serangan yang belum mereda.

Gencatan Senjata Dilanggar

Pemboman terjadi setelah sebelumnya diumumkan adanya perjanjian gencatan senjata yang disebut-sebut mencakup Lebanon.

Namun, agresi yang berlanjut menargetkan rumah, bangunan, dan fasilitas sipil dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan atas upaya penghentian tembakan dan mencerminkan eskalasi yang disengaja.

Gerakan perlawanan Hizbullah mengecam keras serangan tersebut dan menegaskan komitmennya membela Lebanon. 

“Dengan kebencian buta dan kebrutalan tanpa batas, musuh Israel melakukan pembantaian terhadap warga sipil yang aman,” bunyi pernyataan mereka. Hizbullah menegaskan kejahatan ini tidak akan dibiarkan tanpa respons.

Anggota parlemen Lebanon Elias Jradi mengatakan kepada Al Mayadeen bahwa mencegah rakyat membela diri adalah “kejahatan terhadap kemanusiaan.” 

Ia mengkritik sikap resmi yang dinilai “tidak cukup” dan menegaskan persatuan rakyat Lebanon menghadapi agresi. 

“Kami akan tetap menjadi benteng terakhir umat manusia,” ujarnya.

Iran: Tiga Klausul Gencatan Senjata Dilanggar

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan tiga klausul utama dalam kerangka 10 poin telah dilanggar bahkan sebelum perundingan dimulai. 

Pertama, gencatan senjata di Lebanon tak dihormati. 

Kedua, pelanggaran wilayah udara Iran oleh drone pengganggu. 

Ketiga, penolakan hak Iran atas pengayaan nuklir. 

Ia juga menyinggung rujukan gencatan senjata oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang belum terealisasi.

Korps Garda Revolusi Islam IRGC mengutuk agresi Israel dan memperingatkan akan respons keras bila serangan tak dihentikan. Brigadir Jenderal Majid Mousavi, Komandan Pasukan Dirgantara IRGC, menegaskan, “Setiap serangan terhadap Hizbullah adalah serangan terhadap Iran,” seraya menyebut medan perang sedang bersiap untuk tanggapan yang menghancurkan.

Agresi yang berlanjut, melonjaknya korban sipil, serta pelanggaran gencatan senjata menandai memburuknya situasi di Lebanon dengan cepat memicu seruan tindakan hukum dan diplomatik internasional, sekaligus meningkatkan risiko eskalasi regional yang lebih luas.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.