
TRIBUNNERS - Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 berujung kepada ditutupnya Selat Hormuz oleh Iran.
Penutupan selat yang menjadi jalur bagi 84 persen minyak mentah dan 83% LNG untuk pasar Asia ini ini telah mengakibatkan guncangan yang luar biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keamanan energi di kawasan Asia Tenggara.
Guncangan ini memaksa negara – negara di kawasan Asia Tenggara untuk mengambil kebijakan – kebijakan darurat yang memengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi.
Sebagai contoh, Filipina melakukan penjatahan energi (energy rationing) dan menerapkan empat hari kerja bagi pegawai negeri.
Di sisi lain, Vietnam secara masif mewajibkan bekerja dari rumah bagi pegawai sektor publik. Di balik kebijakan-kebijakan darurat itu, ada satu pesan yang sama: perang yang jauh secara geografis dapat memicu krisis multi – sektor di kawasan asia Tenggara.
Baca juga: Ultimatum Iran Menggema di Selat Hormuz, Kapal Tanpa Izin Terancam Dihancurkan
Bagi Indonesia, ini adalah alarm dari Teluk: pengingat bahwa struktur energi kita masih rapuh. Bauran energi primer Indonesia pada 2024 masih didominasi batubara 40,37%, minyak 28,82 %, dan gas 16,17 %.
Artinya, energi fosil masih menopang 85,36% kebutuhan nasional, sementara Energi Baru dan Terbarukan (EBT) baru 14,65%.
Lifting minyak mentah domestik saat ini berkisar antara 600.000 – 619.000 BOPD juga sangat bergantung pada produksi dari beberapa blok utama seperti Blok Cepu dan Rokan.
Jumlah produksi ini bahkan kurang dari separuh konsumsi bahan bakar minyak nasional. Hal ini memaksa Indonesia untuk mengimpor defisit pasokan minyak mentah mayoritas dari Timur Tengah dan Afrika.
Guna mengamankan sumber pasokan minyak mentah, pemerintah Indonesia dan Pertamina telah melakukan diversifikasi sumber impor baru ke wilayah yang lebih aman secara geopolitik seperti Brazil, Amerika Serikat, dan Australia.
Pada saat yang sama, stok operasional BBM kita hanya sekitar 21 hari, masih jauh di bawah negara tetangga kita di kawasan ASEAN seperti Filipina (60 hari) dan Thailand (60 hari).
Dalam arsitektur seperti ini, setiap gejolak di Timur Tengah mudah menjalar menjadi tekanan terhadap harga domestik, logistik, inflasi, dan APBN.
Bahkan, setiap kenaikan 1 dolar AS pada harga minyak mentah Indonesia diperkirakan menambah beban defisit sekitar Rp6,8 triliun.
Indonesia tidak lagi berada pada posisi menunda, momentum ini harus menjadi titik balik untuk menata ulang strategi nasional secara fundamental.
Di tengah impitan fiskal itu, Indonesia menghadapi sebuah paradoks. Kita ingin segera bergerak ke energi hijau, tetapi fondasi pasokan hari ini masih bertumpu pada minyak, gas, dan batubara.
Karena itu, eksplorasi migas tidak semestinya diperlakukan sebagai antitesis keberlanjutan.
Dalam masa transisi, ia justru adalah jembatan. Menghidupkan kembali hulu migas berarti mengurangi ketergantungan impor, menjaga ruang fiskal, dan memberi waktu bagi EBT untuk tumbuh lebih kokoh.
Baca juga: Lebanon Umumkan Hari Berkabung Nasional setelah Diserang Israel, 254 Orang Tewas dan 1.165 Terluka
Selain EBT, Indonesia tetap harus mengoptimalkan seluruh kekayaan alamnya: migas, batubara, panas bumi, dan mineral beserta turunannya. Masalahnya, apakah semuanya sudah teridentifikasi maksimal?
Belum. Kuncinya tetap eksplorasi. Dari sanalah rantai nilai berikutnya bergerak: batubara ke gasifikasi atau likuifaksi, migas menjadi BBM, gas alam, LPG, dan bahan bakar nabati seperti B40, dan panas bumi menjadi listrik.
Bahkan hidrogen, serta mineral seperti nikel dan tembaga menjadi baterai, kabel, dan komponen industri sangat diperlukan untuk transisi energi.
Maka, ketahanan energi bukan soal memilih fosil atau hijau, melainkan mengamankan pasokan hari ini untuk membiayai kemandirian esok hari. Inilah yang menjadi dasar konsep keberlanjutan.
Tetapi, strategi ini mustahil berjalan bila horizon kebijakannya pendek dan tersandera kepentingan politik yang gemar memanen hasil cepat.
Energi membutuhkan keberanian berpikir lintas generasi: eksplorasi yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun, hilirisasi yang menuntut pendanaan jangka panjang, dan riset yang tak bisa diukur dengan logika politik lima tahunan.
Sebagai contoh, eksplorasi laut dalam di Indonesia saat ini sedang mengalami kebangkitan yang sangat signifikan.
Pada tahun 2023, perusahaan migas Italia Eni telah mengumumkan penemuan gas yang masif di sumur Geng – North1 di Cekungan Kutei, Lepas Pantai Kalimantan Timur dengan estimasi cadangan mencapai 5 tcf gas dan 400 juta barel kondensat.
Strategi eksplorasi ladang terdekat (near field exploration) juga dianggap efektif dengan penemuan di sumur Konta – 1 di Wilayah Kerja Muara Bakau di cekungan yang sama.
Selain di Cekungan Kutei, penemuan gas multi – tcf di sumur Layaran 1 dan Tangkulo 1 di wilayah Laut Andaman di lepas pantai Sumatera juga masih memantapkan posisi Indonesia sebagai salah satu wilayah dengan potensi migas kelas dunia.
Temuan – temuan ini tentunya membangun optimisme kegiatan eksplorasi di Indonesia. Sembilan blok migas baru telah diberikan kepada kontraktor pada Maret 2026 dengan komitmen investasi awal US$85 juta.
Pemerintah juga berencana menawarkan setidaknya sepuluh blok migas baru lagi pada tahun 2026 yang berfokus pada wilayah lepas pantai yang berpotensi besar.
Blok-blok seperti Rupat, Puri, dan Karapan Baru termasuk di dalamnya.
Dari aspek hilirisasi, Pemerintah Indonesia saat ini merencanakan 18 proyek hilirisasi strategis berskala raksasa yang tersebar di seluruh penjuru nusantara untuk meningkatkan nilai tambah komoditas domestik, mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah, dan menyerap ratusan ribu tenaga kerja baru.
Fokus hilirisasi ini mencakup tiga pilar utama: sektor mineral, batu bara, dan kimia (melalui pembangunan industri DME, smelter aluminium, baja, hingga modul surya); sektor migas dan energi (meliputi pembangunan kilang minyak, fasilitas tangki penyimpanan, dan bioavtur); serta sektor agroindustri (pengolahan turunan kelapa sawit, kelapa, pala, ikan tilapia, dan rumput laut).
Secara keseluruhan, langkah ambisius ini tidak hanya bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional, tetapi juga untuk menarik investasi global, termasuk melalui kesepakatan strategis yang membuka akses lebih luas bagi investor Amerika Serikat di sektor mineral kritis seperti nikel.
Penguatan kegiatan eksplorasi dan hilirisasi ini menuntut penguasaan teknologi, pendekatan interdisipliner, dan kesiapan sumberdaya manusia Indonesia dalam menjawab tantangan tersebut.
Peran Universitas
Di sinilah universitas harus hadir, bukan sebagai penonton, melainkan penggerak solusi konkret.
Sebagai contoh, model yang diterapkan di Universitas Pertamina (UPER) menunjukkan bagaimana kurikulum pendidikan dapat dirancang untuk menjawab tantangan sepsifik sektor hulu hingga hilir energi.
UPER tidak hanya fokus kepada aspek teknologi, tapi juga bisnis energi.
Terlebih, tantangan ke depan adalah untuk menemukan cadangan baru di medan yang semakin sulit, seperti laut dalam.
Tak hanya eksplorasi hingga produksi migas, tetapi juga inisiatif keberlanjutan termasuk panas bumi dan carbon capture and storage (CCS).
Peran itu diperkuat dengan Kurikulum 2026 (K26) agar eksplorasi tidak dipahami sempit sebagai urusan menemukan cadangan, melainkan sebagai basis bagi hilirisasi, efisiensi, dan inovasi energi.
Prodi-prodi lain—mulai dari Teknik Mesin, Teknik Elektro, Teknik Lingkungan, Teknik Logistik, Teknik Sipil, Komputer, Kimia, Aktuaria, hingga Ekonomi, Manajemen, Komunikasi dan Hubungan Internasional—menjadi pendukung penting agar talenta Indonesia menjadi intelektual energi.
Tak hanya paham teknis, tetapi juga navigasi bisnis energi global. K26 di Universitas Pertamina dirancang secara unik dengan memadukan kedalaman akademik dan juga best – practices di Pertamina.
Lewat kurikulum K26 ini, mahasiswa sebagai talenta energi masa depan dididik untuk mampu bekerja interdisipliner dalam menyelesaikan permasalahan bangsa lewat studi kasus yang riil.
Pusat-pusat riset unggulan dan Sustainability Center UPER yang telah menjalankan program, pelatihan, dan kolaborasi yang menghubungkan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat dengan praktik keberlanjutan. Mulai dari penyimpanan karbon hingga biofuel untuk bahan bakar pesawat.
Pada akhirnya, kedaulatan energi sebuah bangsa tidak ditentukan hanya oleh apa yang tersimpan di perut buminya, melainkan kualitas intelektual generasi penerusnya.
Eksplorasi sumber energi baru dan hilirisasi industri menyediakan jalan menuju kemandirian dan kemamanan energi, namun pendidikanlah yang memastikan jalan itu tetap terbentang.
Kunci kemandirian dan keamanan energi tidak hanya terletak pada ketersediaan sumberdaya alam semata, tetapi juga pada penguasaan teknologi dan inovasi yang lahir dari ruang kelas dan lab kita sendiri.
Opini disusun bersama Muhammad Husni Mubarak Lubis (Dosen Teknik Geofisika Universitas Pertamina), Harya Dwi Nugraha (Dosen Teknik Geologi Universitas Pertamina)