Meriahnya Puncak HUT ke-271 DIY: Ratusan Tumpeng, Tradisi Kembul Bujono, hingga Donasi Koin ASN
Joko Widiyarso April 09, 2026 08:14 PM

 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Puncak peringatan Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berlangsung semarak.

Sebanyak lebih dari seratus tumpeng dari berbagai elemen masyarakat dan instansi memadati halaman Kompleks Kepatihan pada Kamis (09/04/2026).

Sajian ratusan tumpeng ini bukan sekadar ajang perlombaan semata. Momen ini menjadi manifestasi nyata dari semangat kolaborasi lintas sektor yang selama ini menjadi fondasi utama pembangunan Yogyakarta.

Asisten Sekda DIY Bidang Administrasi Umum sekaligus Ketua Panitia Hari Jadi ke-271 DIY, Srie Nurkyatsiwi, mengungkapkan bahwa antusiasme peserta tahun ini melampaui ekspektasi.

Berbagai pihak turut ambil bagian, mulai dari organisasi wanita seperti PKK, Dharma Wanita, BKOW, dan Bhayangkari, hingga institusi perbankan dan perguruan tinggi.

"Pesertanya luar biasa, lebih dari 100 peserta. Kami melihat bagaimana makna hari jadi ke-271 ini dituangkan secara kreatif melalui tumpeng. Ada yang membuat simbol angka dua, tujuh, dan satu. Ini adalah bentuk kolaborasi nyata antaranggota organisasi," jelas Siwi di Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Menariknya, seluruh tumpeng yang dilombakan tidak hanya menjadi pajangan. Panitia menyajikannya kembali untuk dinikmati oleh para tamu dan pengunjung melalui tradisi Kembul Bujono atau makan bersama.

"Apa yang dilombakan, dipersembahkan kembali untuk dinikmati bersama. Di hari penutupan ini kita Kembul Bujono. Ini juga memberikan multiplier effect bagi ekonomi lokal, termasuk pedagang angkringan yang kita libatkan agar ikut merasakan perputaran ekonomi dalam perayaan ini," tambahnya.

Keterlibatan dari komunitas hingga sektor formal ini membuktikan bahwa membangun DIY memerlukan sinergi. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemda DIY untuk berinovasi melayani masyarakat.

"Harapan kami, kita semua terus bergerak dan berkreativitas. Peringatan ini menjadi bukti bahwa saat kita membangun pemerintah, kita tidak bisa sendiri. Kolaborasi inilah yang menjadikan DIY semakin istimewa," pungkas Siwi.

Inovasi Tumpeng Jagung Anti-Diabetes

Di antara ratusan sajian tersebut, Tumpeng Punar Jagung karya Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sekretariat DPRD DIY berhasil mencuri perhatian dan meraih Juara Harapan 1.

Tumpeng ini menggunakan bahan baku inovatif berupa jagung dan singkong atau jagung analog, menjadikannya opsi yang lebih sehat bagi penderita diabetes.

Perwakilan DWP Sekretariat DPRD DIY, Marlina, menjelaskan pemilihan bahan non-beras ini adalah wujud diversifikasi pangan.

"Kami ingin menambah pilihan bahan baku pokok selain beras. Proses masaknya pun ternyata lebih cepat dibanding beras biasa, namun rasa tetap gurih atau dalam bahasa Jawa disebut punar," ungkap Marlina.

Selain inovasi bahan, tumpeng ini sarat filosofi. Bentuknya yang mengerucut ke atas melambangkan hubungan dengan Tuhan, diperkuat dengan lauk ingkung ayam yang bermakna berserah diri.

Detail lain seperti sajian sanggar (olahan daging, gudeg, dan telur) yang dibentuk menyerupai campit melambangkan dinamika hidup, sementara sambal goreng krecek pedas merepresentasikan dinamika rasa dalam perjalanan hidup.

Proses pembuatannya pun membutuhkan kesabaran ekstra, di mana memasak gudeg memakan waktu lebih dari lima jam demi mendapatkan warna merah alami dari gula merah.

"Manusia harus berserah diri kepada Allah atas segala kehendak-Nya, namun di sisi lain kita tetap wajib berupaya. Persiapan sudah kami mulai sejak sore hari sebelumnya. Bagi kami, tumpeng ini adalah simbol kelembutan masyarakat sekaligus kekuatan untuk terus berupaya di tengah berbagai masalah kehidupan," tambah Marlina.

Dalam perlombaan ini, dewan juri menetapkan Komunitas Umum (Nafa Mosa Mahesa Ayu) sebagai Juara 1 dengan skor tertinggi 383.

Juara 2 diraih Bhayangkari DIY, dan Juara 3 oleh TP PKK Kemantren Jetis. Sementara itu, DWP Setwan DIY, TP PKK Kapanewon Pleret, dan Pariselo menyabet gelar Juara Harapan 1, 2, dan 3.

Bangga Buatan Jogja dan Transformasi ASN

Peringatan tahun ini juga menegaskan komitmen Pemda DIY menjadikan produk lokal sebagai tulang punggung ekonomi. Melalui "Bangga Buatan Jogja", ekosistem kreatif dari UKM hingga pegiat kuliner dirangkul sebagai mitra strategis.

Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyebut momentum ini adalah langkah memperkuat branding daerah.

"Dengan menggunakan produk dan jasa dari daerah sendiri, kita tidak hanya memperkuat identitas DIY, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal sebagai kekuatan utama menuju kesejahteraan. Keistimewaan itu lahir dari langkah konsisten yang penuh makna. Mari jadikan energi 271 tahun ini untuk terus meningkatkan jati diri dan kemajuan DIY," ujar Ni Made.

Sejalan dengan tema Mulad Sarira, Jumangkah Jantraning Laku, acara ini menekankan transformasi pelayanan publik melalui klaster Level Up Your Service agar ASN lebih adaptif dan komunikatif.

Rangkaian acara yang bergulir sejak Februari ini juga diisi dengan aksi nyata. Salah satu yang paling menonjol adalah Gerakan Kricik-Becik, yakni pengumpulan uang logam dari para ASN di lingkungan OPD Pemda DIY.

"Gerakan ini sangat luar biasa, sudah terkumpul kurang lebih Rp64 juta. Dana ini nantinya akan dikerjasamakan dengan asosiasi untuk sektor pendidikan. Ini bukti bahwa nilai keistimewaan bisa diwujudkan dari hal kecil seperti uang koin," sambung Srie Nurkyatsiwi.

Panitia juga menggaungkan gerakan Indonesia Asri dengan mengimbau ucapan selamat hari jadi tidak menggunakan karangan bunga konvensional, melainkan tanaman hias atau anggrek yang kini mempercantik kawasan Kepatihan.

Untuk lingkup internal, digelar lomba Mars Pemda DIY dan Line Dance untuk melatih kolaborasi ASN agar selaras dengan SOP namun tetap adaptif.

"Di dalam Line Dance, misalnya, ada narasi tentang bagaimana membangun kolaborasi. Setiap langkah memaknai bahwa dalam bekerja kita tidak bisa sendiri dan harus berhati-hati sesuai aturan yang ada. Begitu juga dengan Casual Talk hari ini, sebagai ruang edukasi bagi ASN untuk tampil istimewa dan profesional saat mengenakan pakaian kasual setiap Jumat. Inilah bentuk bukti nyata bahwa membangun DIY tidak bisa sendiri. Kita harus terus bergerak, berkolaborasi, dan siap melakukan adaptasi untuk masa depan yang lebih gemilang," tutup Siwi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.