Siswa SMP Tewas karena Senapan Rakitannya Sendiri saat Ujian Praktik, Pecahan Senjata Berhamburan
Ani Susanti April 09, 2026 09:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Kematian seorang siswa SMP saat ujian praktik kini menjadi sorotan.

Korban adalah siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islamic Center Kabupaten Siak, Riau berinisial MA.

Remaja berusia 15 tahun ini tewas karena senapan 3D yang dirakitnya untuk ujian praktik.

Kronologi kejadian pun terungkap.

Baca juga: Kepala SMAN 6 Garut Dinonaktifkan Buntut Siswa Tewas usai Tak Naik Kelas, Ngotot Bantah Ada Bully

Peristiwa bermula pada Rabu (8/4/2026), sekitar pukul 10.30 WIB.

Kkorban bersama siswa lainnya kala itu melaksanakan ujian praktik sains.

Siswa terbagi 5 kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 9 orang.

Masing-masing kelompok memperagakan hasil karya sains yang telah mereka kerjakan.

Peraga pertama adalah kelompok korban.

Korban sendiri berperan sebagai peraga.

Siswa Panik

Korban memperagakan senapan 3D yang ia rakit sendiri.

Sebelum diperagakan, kelompok lain diminta untuk menjauh.

Pada saat tembakan dilakukan, tiba-tiba senapan berasap dan meledak.

Pecahan senjata berhamburan, yang mengenai dinding kelas, aula sekolah. 

Ternyata, serpihan senjata turut mengenai kepala korban dan mengakibatkan luka parah.

Kejadian itu memicu kepanikan di sekolah.

Korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Siak.

Namun, dari hasil pemeriksaan medis, korban dinyatakan sudah meninggal dunia.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasatreskrim) Polres Siak, AKP Raja Kosmos Parmulais mengatakan, pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

"Penyebab ledakan yaitu hasil karya sains korban berupa senapan 3D rakitan. Di lokasi kami temukan bagian-bagian plastik, potongan besi dan bubuk hitam. Bubuk hitam ini kita kirim ke Labfor Polda Riau untuk periksa," kata Kosmos melalui pesan WhatsApp, Rabu (8/4/2026), melansir dari Kompas.com.

Kosmos berkata, pihaknya tengah melakukan penyelidikan apakah ada unsur kelalaian atau lainnya dalam peristiwa ini.

"Terkait ada atau tidaknya kelalaian, masih kami selidiki," kata Kosmos.

Berita Lain

Raut wajah Tanu Hariyadi serta istrinya tak bisa berbohong menahan rasa kehilangan. Anak laki-laki mereka, Steven Sukha Hariyadi, pada 28 Maret lalu mengalami insiden tersengat listrik outdoor Air Conditioner (AC) di sekolah.

Diduga karena itu Steven meninggal dunia.

Steven adalah satu-satunya anak laki-laki di keluarga Tanu.

Mendiang adalah anak yang paling bontot. Tanu meyakini insiden anaknya tewas diduga ada unsur kelalaian  pihak sekolah.

Sebab hari itu Steven bersama 6 teman kelas mendapat perintah dari salah seorang guru agar mengerjakan tugas ujian praktek Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah.

Namun, sampai sekolah ternyata kelas dalam kondisi terkunci.

Baca juga: Soal Siswa Tewas Diduga Tersengat Listrik AC, Sekolah di Surabaya Bantah Lalai 

Pihak sekolah melalui kuasa hukumnya, Darmaji, membantah tudingan tersebut. Darmaji menjelaskan bahwa sebenarnya ada perbedaan waktu antara izin mengerjakan tugas dan Steven dan kawan-kawannya datang ke sekolah.

Tanggal 24 malam sekira pukul 20.12, mulanya Steven meminta izin bahwa setelah pulang sekolah tanggal 25 berniat mengerjakan tugas ujian praktik di salah seorang rumah siswa.

Sebagai guru Donatus menyarankan agar dikerjakan di sekolah saja. "Guru (Donatus) meminta penjaga untuk membuka pintu lab untuk dipakai latihan ujian praktik. Tetapi ternyata sampai tanggal pukul 17.00 (ruang kelas) tidak digunakan. Demikian juga tanggal 26-27 Maret," kata Darmaji.

Baca juga: Anaknya Tewas Diduga Tersengat Listrik AC di Sekolah, Orang Tua Pilih Mengadu ke Polisi Surabaya

"Saat libur (28 Maret) Steven inisiatif mengajak temannya datang ke sekolah, tetapi tanpa izin," imbuhnya.

Baca juga: Pelajar SMPN 7 Kota Mojokerto masih Trauma Pasca Insiden 4 Siswa Tewas Terseret Ombak Pantai Drini

Sekolah Steven ini berada di kawasan Surabaya Utara, atau tepatnya berada di wilayah Krembangan. Sekolah tersebut lengkap dari jenjang SD hingga SMA. Steven melakukan latihan ujian praktik di rooftop lantai 4 lingkungan sekolah SMA.

Selanjutnya pelajar berusia 14 tahun itu tiba-tiba melepas sepatu untuk kemudian melompati pagar. Pada saat melompat, Steven lantas diduga menginjak kabel outdoor AC sehingga isolator listrik rusak dan menyetrum dirinya.

”Guru SMAK Frateran berusaha menolong. Setelah satu jam nyawa Steven tidak tertolong,” imbuh Darmaji.

Informasinya pada Rabu (7/5/2025), Polrestabes Surabaya telah memeriksa lima orang saksi detik-detik Steven Sukha Hariyadi yang tersetrum. Kelima orang tersebut adalah teman-teman pelajar dari siswa kelas IX SMP Katolik Angelus Custos tersebut.

Kasihumas Polrestabes Surabaya AKP Rina Shanty Dewi menuturkan bahwa pihaknya tengah mendalami pengaduan yang dibuat Tanu Hariadi. Polisi menyelidiki dugaan adanya unsur kelalaian.

”Masih klarifikasi saksi-saksi termasuk dari sekolah,” ungkapnya. Rina menambahkan,  selanjutnya juga bakal memanggil saksi-saksi lain sebelum menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP). 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.