Dalam Tiga Bulan, 105 Anak di Lumajang Terpapar Campak, Waspadai Gejalanya
Haorrahman April 09, 2026 09:38 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur mencatat 105 bayi dan anak diduga terpapar campak dalam tiga bulan di 2026. Jumlah tersebut merupakan data suspek campak yang dihimpun dari sejumlah rumah sakit dan puskesmas di wilayah Lumajang. 

Saat ini, ratusan sampel darah dari para pasien masih menjalani pemeriksaan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan di Surabaya.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes P2KB Lumajang, dr Marshall, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium karena banyaknya sampel yang harus dianalisis.

“Yang diduga campak sampai sekarang, sampai Minggu ke-14 ada 105 suspek. Mereka meliputi bayi dan anak,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).

Baca juga: Campak di Jember Terus Naik, Jadi 45 Kasus Mayoritas Anak Usia 0-9 Tahun

Gejala Campak

Menurut Marshall, sebagian besar pasien menunjukkan gejala khas campak, seperti demam tinggi dan ruam kemerahan pada kulit.

Petugas kesehatan kemudian mengambil sampel darah dari pasien untuk memastikan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium.

“Mereka yang mengalami gejala itu, kami ambil sampel darahnya untuk kami periksa,” kata Marshall.

Meski statusnya masih dugaan, para pasien tetap mendapatkan penanganan dengan standar perawatan pasien campak. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari pengobatan sekaligus upaya mencegah penularan lebih luas.

Baca juga: Kasus Campak Kian Meningkat, 40 Anak di Jember Positif Campak

Pelacakan

Selain perawatan medis, tenaga kesehatan juga melakukan kunjungan ke rumah pasien untuk menelusuri kemungkinan adanya penderita lain di lingkungan sekitar.

“Nanti teman-teman tenaga kesehatan juga akan melakukan kunjungan di tempat tinggal pasien untuk melihat kemungkinan penderita lain dengan gejala campak yang ada di sana,” jelasnya.

Jika dalam pemeriksaan lapangan ditemukan warga lain yang menunjukkan gejala serupa, petugas akan melakukan pengobatan serta isolasi terbatas.

“Mencegah penularan, misalnya dengan membatasi diri agar untuk sementara waktu penderita tidak bepergian keluar rumah,” tuturnya.

Baca juga: Cegah Wabah Campak Jember Siapkan 11 Ribu Dosis Vaksin, Kenali Gejalanya 

Imunisasi Campak

Dinkes Lumajang juga menyiapkan vaksinasi campak di lingkungan sekitar pasien, terutama jika ditemukan anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

“Kalau belum lengkap kami lakukan imunisasi rutin, tetapi kalau sudah terlewat bulan maka akan kami lakukan imunisasi kejar. Karena pencegahan campak paling efektif itu melalui imunisasi,” imbuh Marshall.

Ia menegaskan bahwa imunisasi campak merupakan program rutin nasional, termasuk di Kabupaten Lumajang.

Vaksin campak diberikan pertama kali saat bayi berusia 9 bulan, kemudian diulang pada usia 18–24 bulan, dan kembali diberikan ketika anak duduk di kelas 1 SD untuk menjaga kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut.

“Hal ini untuk tetap mempertahankan kekebalan anak terhadap penyakit campak,” tambah Marshall.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.