Cerita Sopir Travel Jambi Lima Kali Sepekan Bermalam di SPBU demi Antre Solar
Mareza Sutan AJ April 09, 2026 10:04 PM

Solar subsidi kian sulit diperoleh di Jambi, memaksa para sopir harus mengantre berjam-jam bahkan bermalam di SPBU demi mengisi bahan bakar.

Kondisi ini menjadi rutinitas yang tak terhindarkan bagi sebagian pengemudi.

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI -- Agung, satu di antara sopir travel rute Jambi–Bangko, mengaku dalam sepekan bisa sampai lima kali menginap di SPBU hanya untuk mendapatkan solar.

Ia terpaksa beristirahat di dalam mobil sejak tengah malam hingga pagi hari setelah selesai mengantar penumpang.

Saat ditemui di SPBU kawasan Broni, Kecamatan Danau Sipin, sekitar pukul 00.00 WIB, Kamis (9/4/2026) dini hari, sudah terlihat tiga mobil minibus putih lebih dulu mengantre.

“Seminggu bisa lima kali tidur di pom (SPBU). Kalau sampai malam ndak dapat minyak, ya terpaksa nginap di situ,” ujarnya.

Ia biasanya mulai mengantre sekitar pukul 00.00 WIB, namun baru bisa memperoleh solar menjelang pagi.

“Jam 12 malam antre, baru dapat sekitar jam 6.30 pagi. Habis itu langsung balik ke loket, lanjut berangkat lagi,” katanya.

Selama menunggu, Agung hanya tidur di kursi mobil dengan kondisi seadanya.

“Tidur di kursi saja, ndak nyenyak. Badan sakit semua, tapi tetap harus jalan lagi pagi,” ujarnya.

Menurutnya, antrean panjang solar sudah terjadi sejak 2021 dan menjadi persoalan berulang setiap tahun.

Kondisi biasanya sedikit membaik menjelang momen tertentu seperti Lebaran atau Tahun Baru.

“Sejak awal bawa travel sudah begini. Paling sepi itu mau Lebaran, habis itu panjang lagi,” katanya.

Para sopir menduga panjangnya antrean dipicu aktivitas pelangsir yang membeli solar untuk kebutuhan tambang batu bara.

“Kalau kata sopir-sopir, banyak yang melangsir ke tambang. Jadi solar cepat habis,” ujarnya.

Tak hanya menyita waktu, kondisi ini juga berdampak pada biaya operasional.

Untuk satu kali perjalanan pulang-pergi Jambi–Bangko, Agung membutuhkan sekitar 60 liter solar dan harus mengisi penuh agar tidak kehabisan di jalan.

Jika tidak mendapatkan solar di SPBU, sopir terpaksa membeli secara eceran dengan harga jauh lebih mahal.

“Kalau beli ketengan, dua galon bisa sampai Rp700 ribu. Di pom sekitar Rp400 ribu, jadi nombok Rp300 ribu,” katanya.

Dengan penghasilan sekitar Rp2,5 juta per perjalanan pulang-pergi, selisih tersebut cukup memberatkan.

“Semua sopir travel pasti pernah ngalamin,” ujarnya.

Selain mahal, kualitas solar eceran juga diragukan.

Agung mengaku pernah mengalami kerusakan injektor akibat bahan bakar campuran, dengan biaya perbaikan sekitar Rp800 ribu.

“Sudah pernah kena. Itu sudah biasa bagi sopir,” katanya.

Ia juga menyebut kejadian serupa pernah dialami meski mengisi di SPBU, sehingga antar sopir saling berbagi informasi untuk menghindari lokasi tertentu.

“Kalau ada yang kena, kami bilang ke kawan-kawan jangan isi di situ lagi,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengaku ada tekanan terhadap sopir yang menyuarakan kondisi ini, termasuk melalui media sosial.

“Ada yang pernah posting, disuruh hapus. Kadang mobil juga bisa ditandai, nanti ndak boleh isi lagi,” katanya.

Solar Nonsubsidi Aman

Sementara itu, petugas SPBU di wilayah Mendalo Darat memastikan ketersediaan bahan bakar jenis tertentu masih aman, khususnya Pertamina Dex.

“Aman, walaupun perang ini Pertamina Dex,” ujarnya, Kamis pagi.

Hal serupa disampaikan Anggi, pengguna Pertamina Dex, yang mengaku tidak mengalami kendala terkait harga maupun ketersediaan.

“Tidak ada masalah, harga dan stok aman saja. Cuma memang letak pengisian digabung dengan Pertalite, jadi harus ikut antre,” katanya, Rabu malam.

Dengan kondisi yang terus berulang, Agung pesimistis persoalan antrean solar dapat segera teratasi.

“Dari 2021 sampai sekarang belum ada perubahan. Sudah capek,” ujarnya.

Ia berharap ada solusi nyata, salah satunya dengan menghadirkan SPBU yang beroperasi 24 jam di Kota Jambi agar sopir tidak perlu lagi bermalam dalam antrean.

“Kalau ada pom 24 jam, kami ndak perlu lagi tidur di sini. Datang malam bisa langsung isi,” pungkasnya.

(Tribunjambi.com/Rifani Halim)

 

Baca juga: Lansia di Mendalo Terkepung Api yang Melalap Rumahnya Tadi Pagi

Baca juga: Analisis Dosen Unja terkait Korupsi Proyek Jalan menuju Pelabuhan Ujung Jabung

Baca juga: Guru SMP di Jambi Dikabarkan Alami Gejala Keracunan setelah Cicip Menu MBG

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.