Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengintegrasikan jalur transportasi massal MRT Jakarta dan Kereta Rel Listrik/Commuter Line yang melintasi kawasan Kota Tua.
“Nanti akan ada selain MRT, KRL yang pakai listrik. Kemarin ketika saya menerima Dirut KAI kita sudah membahas, dan Bapak Presiden sudah memberikan arahan. Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa selesai, kurang lebih lintasan lama tapi dibuat listrik,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota, Kamis.
Pramono menjelaskan rute KRL listrik itu akan melintas sepanjang kurang lebih 16 km di tahap awal dan 28 km di tahap berikutnya.
Pramono meyakini wajah Kota Tua akan berbeda jika transportasi di kawasan tersebut sudah terintegrasi dengan baik.
Apalagi, proyek MRT dengan rute hingga Kota Tua dijadwalkan selesai dibangun pada 2029. Oleh karena itu, Pemprov DKI Jakarta mempersiapkan integrasi transportasi tersebut.A
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mulai merevitalisasi kawasan Kota Tua untuk mengembalikan identitas Jakarta sekaligus memperkuat posisi sebagai kota global yang berakar pada sejarah dan budaya.
Adapun rencana revitalisasi tersebut dibahas dalam acara "Intimate Dialogue Kota Tua Update" dengan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta beserta jajaran.
“Di sini kita memberikan keyakinan bahwa Pemprov DKI serius untuk membangun Kota Tua. Kita sudah mempunyai tim revitalisasi Kota Tua dan Insya Allah di saat waktunya tepat, saya sendiri sebagai penanggung jawab akan berkantor di Kota Tua,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta sekaligus Ketua Tim Revitalisasi dan Penataan Kota Tua Rano Karno.
Lebih lanjut Rano menjelaskan dalam proses revitalisasinya, Kota Tua akan dibagi menjadi tiga zona yakni zona inti, zona pengembangan dan zona penunjang.
“Yang akan kita fokus adalah di zona intinya dulu. Luasnya kira-kira kalau dari total Kota Tua itu hampir 363 hektare, tapi kalau zona inti kira-kira cuman 80 hektare. Tapi zona inti ini juga termasuk yang namanya Museum Bahari itu zona inti. Kemudian, Alun-alun Fatahillah,” jelas Rano.
Selain itu, Pemerintah Jakarta juga mengutamakan pembangunan area parkir dan penempatan lokasi pedagang kaki lima (PKL) dalam proses revitalisasi Kota Tua.
Menurut Rano, kedua fasilitas itu penting agar suasana di Kota Tua tampak rapi dan tak mengganggu kehidupan masyarakat sekitar.





