Pernah Gagal, Kini Laris Manis: Perjalanan Mas Nur Bangun Baso Aci Mastyo
Feryanto Hadi April 09, 2026 11:35 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Berawal dari ikhtiarnya untuk menafkahi keluarga sebagai Mitra Pengemudi Grab, Nuryadi tidak pernah membayangkan suatu hari ia akan memiliki usaha kuliner sendiri. 

Dari rumah sederhana di gang kecil, pria yang akrab disapa Mas Nur ini kini mengelola usaha Baso Aci Mastyo.

Perjalanannya menggambarkan bagaimana pengalaman di lapangan, pemanfaatan platform digital, dan dukungan komunitas dapat membuka peluang bagi Mitra untuk berkembang dan “naik kelas” menjadi pelaku usaha.

Bagi Mas Nur, perjalanan menuju titik ini tentu tidak terjadi secara instan. Ia melewati berbagai fase kehidupan mulai dari bekerja sebagai karyawan, menjadi Mitra Pengemudi, hingga akhirnya memberanikan diri merintis usaha rumahan sendiri. Semuanya ia jalani dengan harapan sederhana untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya. 

Mas Nur pertama kali bergabung sebagai Mitra Pengemudi sekitar tahun 2019. Saat itu ia melihat bagaimana layanan pesan-antar makanan semakin diminati masyarakat. Dari pengalamannya mengantarkan pesanan pelanggan setiap hari, ia mulai memahami potensi besar usaha kuliner berbasis online.

“Dulu waktu jadi driver saya terbiasa menunggu orderan masuk. Tapi ketika mulai punya usaha sendiri, saya harus berpikir setiap hari bagaimana caranya supaya usaha tetap berjalan dan bisa berkembang,” ujarnya melalui keterangan tertulis Grab, Kamis (9/4/2026)

Pengalaman tersebut perlahan mengubah cara pandangnya terhadap dunia usaha.

Baca juga: Grab Tawarkan Jaminan Uang Kembali hingga Rp3,3 Juta Jika Penumpang Ketinggalan Pesawat

Langkah pertama Mas Nur dalam dunia usaha dimulai dari bisnis Salad Buah Arjuna. Ia memilih menu salad buah tersebut sebagai bisnis perdananya karena pada saat itu makanan berbahan buah seperti salad, asinan, dan rujak sedang populer di platform pesan-antar makanan.

Namun, perjalanan usaha Mas Nur melewati banyak liku dan tidak selalu berjalan mulus. Ketika pandemi COVID-19 datang, tren salad buah sudah mulai menurun.

Alih-alih menyerah, ia mencoba mencari peluang baru dengan melihat menu yang sedang diminati pelanggan di platform pesan-antar makanan. Dari situlah ia menemukan bahwa seblak dan baso aci menjadi salah satu makanan yang sedang digemari. 

Berbekal peluang tersebut, Mas Nur kemudian merintis Baso Aci Mastyo yang mulai dijalankannya pada tahun 2020. Nama “Mastyo” diambil dari nama anak pertamanya.

Bagi Mas Nur, usaha yang ia bangun ini bukan sekadar untuk mencari penghasilan, tetapi juga sebagai simbol harapan untuk masa depan keluarganya.

Ia sendiri hanya dapat menempuh pendidikan hingga tingkat SMK, karena kondisi ekonomi keluarga saat itu tidak memungkinkan untuk melanjutkan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan yang mendorongnya untuk terus berusaha memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Usaha Mas Nur berada di gang yang cukup sempit sehingga sulit mengandalkan pelanggan yang datang langsung.

“Kalau hanya mengandalkan pelanggan sekitar tempat tinggal, tentu sangat terbatas. Tanpa digitalisasi, ‘kolam usaha’ kita juga jadi jauh lebih kecil,” kata Mas Nur. 

Karena itu, sejak awal ia fokus memanfaatkan platform digital, sehingga UMKM kecil seperti miliknya pun bisa menjangkau pelanggan yang lebih luas. 

Sejak bergabung sebagai merchant, ia juga aktif memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia untuk meningkatkan visibilitas Baso Aci Mastyo. Ia bahkan menjadi salah satu merchant yang mencoba fitur GrabAds ketika layanan tersebut pertama kali diluncurkan.

Menurutnya, fitur ini membantu meningkatkan visibilitas usaha kuliner di tengah persaingan platform digital. Selain itu, berbagai inisiatif promosi di platform turut membantunya menjangkau lebih banyak pelanggan, termasuk mereka yang berada di lokasi yang lebih jauh dari outletnya.

Menurutnya, penggunaan fitur promosi juga perlu diimbangi dengan strategi lain, seperti memberikan promo ongkos kirim agar pelanggan tetap tertarik memesan dari jarak yang lebih jauh.

“Biasanya saya kasih promo free ongkir sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 dengan minimal pembelian sekitar Rp150.000, supaya pelanggan tetap tertarik untuk pesan meskipun jaraknya agak jauh,” jelasnya.

Strategi tersebut perlahan membuahkan hasil. Salah satu menu andalannya, Baso Aci Tulang Rangu dengan ciri khas tulang rangu yang dimasukkan langsung ke dalam baso, kini menjadi  menu favorit pelanggan.

Saat ini, Baso Aci Mastyo mampu menjual sekitar 70 hingga 80 porsi per hari, dengan hampir 90 persen penjualan berasal dari pesanan online melalui platform digital.  

Perkembangan usaha ini bahkan sempat membawa Mas Nur membuka dua cabang Baso Aci Mastyo di Gandul dan Pintu Air. Namun, perubahan kondisi pasar selama pandemi membuat sebagian cabang tersebut akhirnya harus ditutup, sehingga kini Mas Nur memfokuskan operasional pada satu outlet utama, sambil tetap mengandalkan strategi penjualan digital. 

Dalam menjalankan usaha, Mas Nur dibantu oleh istri, adik, serta beberapa karyawan untuk mengelola operasional sehari-hari.

Selain keluarga, komunitas merchant Grab juga menjadi bagian penting dalam perjalanan usahanya.

Melalui Komunitas tersebut, para pelaku usaha sering berbagi pengalaman dan strategi untuk mengembangkan bisnis mereka. Bagi Mas Nur, komunitas ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang dukungan yang membantu para pelaku usaha bertahan dan bertumbuh bersama.

“Di komunitas ini kami sering saling membantu dan berbagi pengalaman. Ketika ada yang sedang mengalami kesulitan, biasanya teman-teman lain ikut memberikan dukungan. Saya merasa usaha ini tidak akan bisa berkembang sejauh ini tanpa dukungan komunitas,” jelasnya.

Sejalan dengan perjalanan usahanya, bagi Mas Nur, prinsip yang selalu ia pegang dalam berusaha yaitu amanah dan kejujuran.

Menurutnya, dalam bisnis online, pelanggan memang tidak melihat langsung bagaimana makanan dibuat, tetapi integritas tetap menjadi hal utama.

Bagi Mas Nur, perjalanan membangun Baso Aci Mastyo juga mengajarkannya bahwa untuk bisa “naik kelas”, seseorang harus berani mengambil keputusan dan tidak takut mencoba hal baru.

Menurutnya, dalam menjalankan usaha selalu ada risiko, namun yang terpenting adalah keberanian untuk memulai dan terus mencari peluang. Baginya, perjalanan dari Mitra Pengemudi menjadi pelaku usaha membuktikan bahwa peluang untuk berkembang bisa datang dari pengalaman sehari-hari, selama dijalani dengan konsisten dan kemauan untuk belajar.

Ia pun punya pesan sederhana bagi sesama Mitra Pengemudi atau pelaku usaha yang ingin mulai berbisnis.

“Kalau ingin memulai usaha, mulai saja dulu. Jangan terlalu takut. Bisnis yang tidak pernah berjalan adalah bisnis yang tidak pernah dimulai,” ujarnya. 

Dari seorang Mitra Pengemudi yang dulu terbiasa menunggu order, kini Mas Nur menjadi pelaku usaha yang aktif menciptakan peluang dari rumah sederhananya untuk masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.