TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Inisiatif Blue Economy atau ekonomi biru melalui kerja sama lintas negara antara Kalimantan Utara (Kaltara) dan Sabah, Malaysia, dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung pengurangan emisi global sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Akademisi sekaligus Ketua Pusat Penelitian Perubahan Iklim Universitas Indonesia, Prof Jatna Supriatna, menyampaikan kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam mengoptimalkan potensi karbon biru yang dimiliki wilayah Kalimantan dan Borneo secara keseluruhan.
Menurutnya, inisiatif tersebut bertujuan untuk meminimalisasi dampak perubahan iklim melalui upaya pengurangan emisi karbon, khususnya dari sektor ekosistem pesisir seperti mangrove dan lahan gambut.
"Kita semua negara saat ini berupaya menurunkan emisi. Salah satu yang paling menarik adalah Kaltara karena memiliki potensi gambut dan mangrove yang sangat besar, bahkan terbesar di Kalimantan dan Borneo," ungkap Prof Jatna Supriatna usai menghadiri penanaman mangrove di Desa Tepian, Kecamatan Sembakung Kabupaten Nunukan Kaltara, Rabu (8/4/2026).
Ia menjelaskan, berbagai analisis telah dilakukan untuk mengidentifikasi sektor yang dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan emisi.
Selain itu, peluang perdagangan karbon ke depan juga dinilai terbuka lebar.
Namun demikian, ia menekankan manfaat awal dari program ini harus dirasakan masyarakat, melalui keterlibatan dalam pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan.
"Yang terpenting masyarakat dulu merasakan manfaatnya. Nanti tentu ada potensi perdagangan karbon, tapi dimulai dari kolaborasi antara pemerintah daerah dan perusahaan," jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, tim yang terlibat juga mendapat dukungan dari jaringan global, termasuk United Nations Sustainable Development Solutions Network yang berbasis di New York.
Kerja sama ini turut melibatkan Sabah, Malaysia, sebagai mitra strategis mengingat keduanya berada dalam satu kawasan ekologi Borneo yang saling terhubung.
"Borneo ini satu kesatuan ekologi. Akan ada konektivitas antara Kaltara dan Sabah, baik secara geografis maupun dalam pengelolaan lingkungan. Ini akan saling menguntungkan," kata Prof Jatna Supriatna.
Guru besar Fakultas MIPA Universitas Indonesia ini juga menambahkan potensi karbon biru di wilayah ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia, terutama di kawasan Kaltara dan Sabah.
Hal ini menjadikan kedua wilayah tersebut sebagai pusat penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim global.
"Karbon biru terbesar itu ada di Kalimantan dan Borneo, khususnya Kaltara dan Sabah. Inilah mengapa Sabah ingin belajar dari sini, dan kita juga belajar dari mereka. Ini kolaborasi saling tukar pengetahuan," ungkapnya.
Indonesia sebagai negara kepulauan, kata dia, memiliki peluang besar dalam pengembangan Blue Economy, terlebih dengan kekayaan ekosistem pesisir yang dimiliki.
Ia optimistis inisiatif lintas batas ini dapat menjadi model kerja sama internasional dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis karbon.
"Ini bisa menjadi hotspot penting dunia dalam pengembangan ekonomi biru dan penyerapan karbon," pungkasnya.
(*)
Penulis : Desi Kartika Ayu