China Kebobolan Data Terbesar dalam Sejarah, 10 Petabyte Data Dicuri dari Superkomputer Tianjin
Hasiolan Eko P Gultom April 09, 2026 11:38 PM

China Kebobolan Data Terbesar dalam Sejarah, 10 Petabyte Data Dicuri dari Superkomputer Tianjin

TRIBUNNEWS.COM - China mungkin tengah mengalami pencurian data terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Hal itu terindikasi lewat laporan yang menyebut kalau sebuah kelompok peretas diduga mencuri sejumlah besar informasi yang sangat sensitif.

Tak main-main, data yang diretas diyakini lebih dari 10 petabyte data, yang dilaporkan diekstrak dari Pusat Komputasi Super Nasional China (NSCC) di Tianjin.

Baca juga: Hacker Bobol Superkomputer China, 10 Petabyte Data Sensitif Diduga Dijual di Dark Web

Data-data super-sensitif dan rahasia tersebut, termasuk dokumen pertahanan rahasia dan skema rudal, dari superkomputer milik negara.

Perlu diketahui, Fasilitas Tianjin merupakan satu di antara tulang punggung kemajuan digital China.

Fasilitas tersebut berfungsi sebagai pusat infrastruktur utama yang mendukung lebih dari 6.000 klien, termasuk lembaga ilmiah terkemuka dan organisasi terkait pertahanan di seluruh Tiongkok.

"Analis keamanan siber yang memeriksa sebagian data yang bocor dan berkomunikasi dengan terduga pelaku penyerangan menyatakan bahwa akses ke sistem tersebut mungkin diperoleh dengan sangat mudah," kata laporan WN, Kamis (9/4/2026). 

​​Menurut temuan mereka, ekstraksi data terjadi selama beberapa bulan tanpa terdeteksi.

Sebuah akun yang menyebut dirinya sebagai “FlamingChina” menerbitkan sampel dari dataset yang diduga tersebut di Telegram pada tanggal 6 Februari.

Kelompok tersebut mengklaim data tersebut mencakup “penelitian di berbagai bidang termasuk teknik kedirgantaraan, penelitian militer, bioinformatika, simulasi fusi, dan banyak lagi.”

Para peretas mengklaim informasi tersebut terkait dengan entitas besar Tiongkok seperti Aviation Industry Corporation of China, Commercial Aircraft Corporation of China, dan National University of Defense Technology.

Para ahli yang meninjau sampel tersebut mengatakan kelompok itu menawarkan pratinjau terbatas dengan harga ribuan dolar, sementara akses penuh dihargai ratusan ribu dolar, dengan pembayaran yang diminta dalam mata uang kripto.

Sampel tersebut dilaporkan mencakup dokumen yang diberi label "rahasia" dalam bahasa Mandarin, serta file teknis, simulasi, dan rendering visual perangkat keras militer seperti bom dan rudal.

Implikasi Intelijen

Fasilitas Tianjin, yang didirikan pada tahun 2009, adalah pusat superkomputer nasional pertama Tiongkok dan merupakan bagian dari jaringan yang lebih luas dari pusat-pusat serupa di kota-kota seperti Guangzhou, Shenzhen, dan Chengdu.

Marc Hofer, seorang peneliti keamanan siber dan penulis blog NetAskari, menekankan potensi nilai intelijen dari kumpulan data yang sangat besar tersebut.

Dia mengatakan, “Hanya mereka yang mungkin memiliki kapasitas untuk mengolah semua data ini dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.”

Untuk menggambarkan skala besarnya pencurian data ini, satu petabyte sama dengan 1.000 terabyte, sementara laptop kelas atas biasanya memiliki kapasitas penyimpanan sekitar satu terabyte.

Bagaimana Dugaan Peretasan Itu Terjadi?

Menurut Hofer, individu yang mengaku bertanggung jawab mengatakan mereka menyusup ke sistem melalui domain VPN yang telah disusupi.

Setelah masuk, mereka diduga menyebarkan botnet, jaringan program otomatis, untuk secara sistematis mengekstrak data dari NSCC.

Peretas mengklaim operasi tersebut membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk diselesaikan.

Sebagai disclaimer dari tulisan ini, klaim dari peretas tersebut  tidak dapat diverifikasi secara independen.

Pakar keamanan siber Cary menjelaskan kalau pelanggaran tersebut mungkin lebih bergantung pada kelemahan desain sistem daripada teknik peretasan tingkat lanjut.

“Anda dapat membayangkannya seperti memiliki sejumlah server berbeda yang dapat Anda akses dan Anda menarik data melalui celah keamanan NSCC, menarik sebagian ke satu server, sebagian lagi ke server berikutnya.”

Data Siber China Rentan Diretas

Jika terkonfirmasi, insiden ini dapat menyoroti kerentanan yang lebih dalam dalam infrastruktur teknologi Tiongkok, terutama karena negara tersebut bersaing secara global dalam kecerdasan buatan dan komputasi canggih.

Keamanan siber telah lama dianggap sebagai titik lemah di sektor publik dan swasta Tiongkok.

Pada tahun 2021, sebuah basis data besar yang berisi data pribadi hingga satu miliar warga Tiongkok dilaporkan dibiarkan tanpa pengamanan selama lebih dari satu tahun sebelum akhirnya terungkap pada tahun 2022.

China telah mengakui risiko-risiko ini.

Dalam Buku Putih Keamanan Nasional 2025, pemerintah mengidentifikasi perlunya memperkuat perlindungan di seluruh sistem jaringan, data, dan AI, dengan menyatakan bahwa mereka bertujuan untuk membangun kerangka kerja keamanan siber yang lebih tangguh untuk infrastruktur penting.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.