Harga Plastik Naik, Pelaku Daur Ulang di Lampung Panen, Omzet Tembus Rp52,5 Juta
Noval Andriansyah April 10, 2026 12:19 AM

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Tumpukan botol plastik dan potongan kursi bekas terlihat memenuhi halaman satu tempat penggilingan di Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah.

Di antara suara mesin yang berderu, beberapa pekerja sibuk memilah dan mencuci limbah plastik sebelum masuk ke proses penggilingan.

Bagi sebagian orang, limbah plastik mungkin hanya dianggap sampah. Namun bagi Ikhsan, bahan-bahan itulah yang menjadi sumber penghidupan.

Dalam beberapa pekan terakhir, Ikhsan merasakan perubahan pada harga jual hasil gilingan plastik yang ia produksi.

Harga yang biasanya stabil tiba-tiba merangkak naik setelah Lebaran 1447 Hijriah. Kenaikan ini, menurutnya, tak lepas dari gejolak harga minyak mentah dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Baca juga: Harga Plastik Melambung, Perajin Tahu-Tempe di Bandar Lampung Mulai Beralih ke Kemasan Daun

Meski terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari di daerah, dinamika global tersebut ternyata ikut memengaruhi nilai jual plastik yang menjadi bahan baku usaha kecil seperti miliknya.

Ikhsan, seorang pengusaha penggilingan plastik di Kecamatan Gunung Sugih, mengatakan kenaikan harga plastik global memberikan dampak langsung pada nilai jual produk hasil olahannya.

Sebagai komoditas turunan petrokimia, harga plastik memang sangat sensitif terhadap dinamika harga energi internasional.

"Kenaikan ini sudah mulai terasa sejak awal Ramadan hingga masa arus balik Lebaran. Meski dipicu oleh kabar ketegangan di Timur Tengah yang mempengaruhi bahan baku impor, bagi kami di daerah, hal ini justru mengerek nilai jual hasil gilingan," ujar Ikhsan saat ditemui di lokasi produksinya, Kamis (9/4/2026).

Ikhsan membeberkan, berdasarkan data operasional terkini, ritme produksi di tempatnya sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku dan efisiensi waktu.

Dalam sebulan, proses penggilingan dilakukan paling banyak tiga kali. Dengan estimasi hasil mencapai 2,5 ton untuk setiap kali produksi, total output rata-rata yang dihasilkan adalah 7,5 ton per bulan.

"Jika dikalkulasikan dengan harga jual rata-rata saat ini di kisaran Rp7.000 per kilogram, maka total pendapatan kotor atau omzet yang kami peroleh adalah sebesar Rp52,5 juta per bulan," urai Ikhsan.

Menurutnya, meskipun margin keuntungan meningkat mengikuti tren harga pasar, angka tersebut tetap merupakan hasil paling realistis dari kapasitas mesin dan ketersediaan bahan baku.

Usaha daur ulang yang dijalankannya saat ini mempekerjakan empat tenaga kerja lokal.

Mereka khusus mengolah limbah gelas mineral berbahan polypropylene (PP) serta kursi plastik keras yang banyak ditemukan di tempat pembuangan.

Dalam prosesnya, Ikhsan menggunakan metode penggilingan basah untuk memastikan kualitas produk sesuai standar industri.

"Potongan plastik seukuran kuku manusia tersebut harus dipastikan benar-benar bersih dan kering sempurna sebelum dikirim ke gudang pusat," jelasnya.

Ia menambahkan, sedikit saja ada campuran material lain atau kelembapan akibat faktor cuaca, pihak gudang bisa langsung memotong harga bahkan menolak barang.

"Sedikit saja ada kontaminasi material lain atau kelembapan akibat faktor cuaca, pihak gudang tidak segan untuk memberikan potongan harga atau melakukan penolakan (afkir)," ujar Ikhsan.

Di balik peluang kenaikan harga, Ikhsan mengatakan tantangan justru datang dari ketersediaan bahan baku.

Di Lampung Tengah, hanya ada sekitar empat pengusaha penggilingan plastik yang beroperasi.

Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan limbah plastik dari para pengepul menjadi cukup ketat.

Meski begitu, Ikhsan berharap usaha daur ulang seperti miliknya tetap bisa bertahan.

Menurutnya, bisnis ini bukan hanya soal keuntungan semata, tetapi juga menjaga roda ekonomi kecil tetap berputar.

Dari pemulung yang mengumpulkan sampah plastik, pengepul yang menyalurkannya, hingga pabrik pengolahan besar yang memanfaatkan hasil gilingan tersebut.

"Yang penting ekosistem daur ulang ini tetap stabil. Banyak orang yang bergantung pada rantai usaha ini," kata Ikhsan.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.