Iran Klaim Menang Perang, Mojtaba Khamenei: Kami Tidak Cari Perang, Tapi Siap Sampai Mati
Hari Susmayanti April 10, 2026 10:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei menyatakan Iran sebagai pemenang dalam perang melawan Amerika Serikat da Israel yang sudah berlangsung sejak 28 Februari 2026 lalu.

Penyataan kemenangan itu disampaikan oleh Mojtaba melalui pesan tertulis yang disampaikan melalui siaran di televisi pada Kamis (9/4/2026).

Pesan tertulis yang disampaikan oleh Mojtaba ini merupakan yang kedua setelah dipilih menjadi pemimpin tertinggi Iran.

Sebelumnya, putra Ali Khamenei tersebut juga menyampaikan pesan tertulis pertamanya setelah ditetapkan menjadi Pemimpin Tertinggi Iran.

Dalam pesannya, Motjaba tegas bahwa Iran tidak ingin mencari atau memulai perang dengan negara lain.

Namun jika diserang, Iran siap hingga tetes darah penghabisan untuk mempertahankan haknya sebagai negara. 

“Kami tidak mencari perang, tetapi kami tidak akan melepaskan hak-hak sah kami dalam keadaan apa pun,” katanya.

Motjaba juga mengumumkan rencana strategis terkait Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. 

Menurut laporan The Jerusalem Post, ia berupaya memperkuat pengaruh Iran di jalur strategis tersebut pascakonflik dengan “meningkatkan pengelolaan.”

 “Kami pasti akan memajukan pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru,” ujarnya.

Dalam pernyataan lain, ia menambahkan, “Kami akan meningkatkan tingkat pengelolaan dan pengendalian Selat Hormuz ke dimensi baru.”  

Khamenei juga menyampaikan sikap keras terhadap pihak yang menyerang Iran.

Ia menegaskan akan menuntut pertanggungjawaban penuh.

“Kami akan meminta pertanggungjawaban, hingga akhir, kepada para agresor yang menyerang Iran,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Kami akan menuntut kompensasi atas kerusakan, dan kami juga pasti akan menuntut harga dari darah para martir.” 

Selain itu, ia mengirim pesan kepada negara-negara di kawasan Timur Tengah.

“Negara-negara tetangga harus berdiri di sisi yang benar dalam sejarah,” katanya, seraya menambahkan, “Kami mengharapkan respons yang sesuai dengan persaudaraan dan niat baik.”

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk melaksanakan gencatan senjata selama dua pekan.

Adapun pertemuan formal perwakilan kedua negara akan dilaksanakan pada Kamis (10/4/2026) hari ini.

Meski demikian, Khamenei meminta rakyat tetap aktif menyuarakan dukungan di ruang publik. 

“Jangan membayangkan bahwa turun ke jalan tidak lagi diperlukan,” katanya.

 “Suara Anda di ruang-ruang publik tanpa diragukan lagi berpengaruh terhadap hasil negosiasi,” tambahnya.

Mojtaba Khamenei juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap informasi dari luar.

Pernyataan ini merupakan pesan tertulis lanjutan dari Khamenei sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu.

 Ia sendiri belum tampil di depan publik sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya.

Dalam pesannya, ia juga memuji mendiang ayahnya.

“Selama empat puluh hari, jiwa agung pemimpin kita yang syahid telah berada dalam kedekatan ilahi, bergabung dengan orang-orang saleh,” ujarnya.

Ia juga menggambarkan ketahanan rakyat Iran selama konflik.

 “Rakyat Iran, meskipun berduka, mengubah kesedihan mereka menjadi perlawanan dan tekad, mengejutkan musuh mereka dan menginspirasi para pengamat di seluruh dunia,” katanya.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut keputusan menerima gencatan senjata telah disetujui oleh pemimpin tertinggi dan seluruh jajaran kepemimpinan.

 “Gencatan senjata bukan tanda kelemahan Iran, tetapi pilihan untuk mengonsolidasikan kemenangan,” ujarnya.

Baca juga: Alasan Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Setelah Dibuka Beberapa Jam

Siapa Mojtaba Khamenei?

Mojtaba Khamenei (lahir 1969) adalah putra kedua dari mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Selama bertahun-tahun, ia dikenal sebagai sosok "orang kuat" di balik layar yang memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran, terutama di lingkungan kantor ayahnya (Beit-e Rahbari) dan korps keamanan.

Motjaba kenyang akan pengalaman di dunia perang.

 Mojtaba ikut serta dalam Perang Iran-Irak (1980–1988). Pengalaman ini membantunya menjalin hubungan erat dengan tokoh-tokoh militer senior, khususnya di korps IRGC (Garda Revolusi Islam) dan milisi Basij.

Koneksi militer ini menjadi fondasi kekuatan politiknya di kemudian hari.

Sejak akhir 1990-an, Mojtaba mulai memegang peran strategis dalam mengelola urusan negara.

 Ia dianggap sebagai salah satu arsitek utama dalam kemenangan Mahmoud Ahmadinejad pada Pemilu Presiden 2005.

Namanya semakin mencuat saat dituding berperan penting dalam menindak aksi protes besar-besaran "Gerakan Hijau" pada tahun 2009.

Untuk menjadi Pemimpin Tertinggi, seseorang harus memiliki kualifikasi keagamaan yang tinggi.

Mojtaba menempuh pendidikan seminari di Qom dan mulai memberikan kuliah hukum Islam tingkat tinggi (Dars-e Kharij).

Pada tahun 2022, ia secara resmi dianugerahi gelar Ayatollah, sebuah langkah krusial untuk memenuhi syarat konstitusional sebagai calon pemimpin.

Penunjukan sebagai Pemimpin Tertinggi

Pengangkatannya dilakukan melalui sidang rahasia oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), badan yang berwenang memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi.

Selama bertahun-tahun, ia bersaing secara tidak langsung dengan tokoh lain (seperti mendiang Ebrahim Raisi).

Kematian Raisi dalam kecelakaan helikopter pada 2024 memperkuat posisi Mojtaba sebagai calon tunggal terkuat.

Penunjukannya sempat menuai kritik karena dianggap mengubah sistem Republik Islam menjadi semacam "monarki agama" atau dinasti, karena kekuasaan turun dari ayah ke anak.

Kini, Mojtaba memegang kendali penuh atas kebijakan strategis, militer, dan arah ideologi Iran di tengah situasi geopolitik Timur Tengah yang sangat dinamis.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.