Aksi Nekat Tukang Sapu di Magelang: Terobos Barikade Demi Titip Surat ke Presiden Prabowo
Hari Susmayanti April 10, 2026 11:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Demi secercah keadilan, Asep Harso Tarmungkas nekat menerobos ketatnya barikade pengamanan dan iring-iringan kendaraan Presiden Prabowo Subianto di Magelang, pada Kamis (9/4/2026) siang kemarin.

Warga Desa Tempuran ini mencegat rombongan RI-1 hanya untuk menyerahkan selembar surat aduan, berharap sang Presiden turun tangan atas ancaman sita rumah oleh pihak bank terkait kredit mendiang istrinya yang tak kunjung dianggap lunas.

Saat iring-iringan kendaraan presiden melintas, Asep yang mengenakan pakaian berwarna hitam langsung berlari menuju ke arah kendaraan yang ditumpangi Presiden Prabowo.

Dia membawa amplop berwarna cokelat berisi surat tulisan tangan dan bukti-bukti soal kredit yang diajukan oleh mendiang istrinya dulu.

Setelah sampai di samping mobil presiden, Asep sempat memberi hormat dan langsung menyerahkan surat itu ke Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo pun langsung menerima surat dari Asep dan memasukan amplop itu ke dalam mobil melalui pintu sunroof.

Aksi Asep menyerahkan surat ke Presiden Prabowo ini ramai diperbincangkan di media sosial.

Terus apa sebenarnya yang ingin disampaikan ole Asep?

Dihubungi Tribun Jogja melalui sambungan telepon pada Jumat (10/4/2026) pagi, Asep mengaku surat yang diserahkan ke Presiden Prabowo itu ditulis tangan oleh dirinya sendiri.

" Surat itu saya tulis Kamis pagi, tulis tangan.Tidak terlalu banyak (panjang), intinya pengen dibantu oleh Presiden untuk menyelesaikan persoalan kredit almarumah istri saya di salah satu perbankan,"katanya.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sapu di salah satu instansi ini mengaku sebelumnya memang mendapatkan informasi kalau Presiden Prabowo akan datang ke Magelang.

Mendengar informasi itu, terbersit di benak Asep untuk meminta bantuan agar persoalan kredit macet almarhum istrinya bisa diselesaikan.

Sebab, persoalan itu membuatnya merasa tidak nyaman karena pihak bank mengancam akan menyita rumah yang ditinggalinya.

Setelah suratnya selesai ditulis, Asep mengaku datang ke lokasi ssekitar pukul 10.30 WIB.

Dia menunggu sekitar 45 menit sebelum akhirnya rombongan Presiden Prabowo melintas di depannya.

" Malamnya saya diminta untuk kerja bakti membersihkan karena ada informasi bahwa Presiden akan datang. Di situlah saya Bismillah akan berjuang untuk memberikan surat ke presiden. Saya berjuang untuk istri saya yang sudah meninggal,"urainya.

Asep mengaku, dirinya menganis terharu setelah surat yang dibuatnya diterima oleh Presiden Prabowo.

Dirinya merasa seluruh perjuangannya dimudahkan hingga akhirnya surat permohonan untuk dibantu oleh Presiden itu benar-benar sampai di tangan orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Asep pun berharap agar persoalan kredit almarhum istrinya bisa segera tuntas setelah dirinya menyerahkan surat ke Presiden Prabowo ini.

" Mudah-mudahan bisa segera selesai,"ucapnya.

Baca juga: Momen Asep Serahkan Berkas Aduan ke Presiden karena Pinjaman Almh Istri di Bank Masih Dikenai Biaya

Kronologi Kredit Almarhum Istri Asep

Asep mengaku persoalan kredit di salah satu perbankan plat merah ini bermula pada 2019 silam.

Saat itu pihak bank menawarkan kredit pengembangan usaha bengkel yang dirintis oleh istrinya.

Sang istri kemudian meminta masukan dari Asep teerkait tawaran pihak perbankan tersebut.

Setelah melalui diskusi dengan dirinya, tawaran itu akhirnya disetujui dimana saat itu istrinya mengajukan kredit sebesar Rp 500 juta.

Pinjaman dari bank itu akhirnya cair dan digunakan untuk mengembangkan usaha bengkel motor yang sebelumnya sudah berjalan.

Menurut Asep, pembayaran angsuran di awal-awal berjalan lancar hingga akhirnya pandemi Covid-19 melanda.

Saat pandemi, tepatnya Januari 2021, sang istri meninggal dunia.

" Pihak bank itu datang melayat, saat itu mereka langsung membahas soal kredit, intinya minta utang dilunasi atau dibayar separo saja. Tapi saat itu saya baru berduka, tidak mau membahas soal itu,"jelasnya.

Setelah proses pemakaman istrinya selesai, lanjut Asep, pihak perbankan bersama jajaran pimpinan kembali datang ke rumahnya empat hari kemudian.

Permintaanya masih sama, meminta agar kreditnya dibayar. Namun saat itu Asep mengaku masih belum mau membahasnya karena masih dalam suasana berduka setelah ditinggal sang istri.

" Saya saat itu belum mau berbicara soal pekerjaan (pembayaran kredit) karena masih berduka. Saya minta setelah 40 hari saja,"jelasnya.

Asep menuturkan, perwakilan pihak bank kemudian mendatanginya lagi dan meminta dirinya menandatangani berkas agar asuransi kredit bisa dicairkan.

Saat itu salah satu perwakilan pihak bank menyatakan bahwa adalah salah ketik dalam berkas pengajuan kredit.

Namun setelah ditandatangani, pinjaman kredit itu masih berjalan dan Asep terus diminta untuk melunasi.

" Saya diminta untuk menandatangani berkas supaya asuransi bisa turun, biar sertifikat(asuransi) nantinya bisa diserahkan kepada saja. Saya ikuti saja (kemauan pihak bank),"jelasnya.

Beberapa waktu kemudian Asep kembali melakukan pertemuan dengan pihak bank untuk menanyakan soal sertifikat asuransi.

" Namun pihak bank menyatakan bahwa sertifikat baru akan diserahkan jika dirinya melunasi pinjaman almarhum istrinya,"ucapnya.

Menurut Asep, pihaknya dengan pihak bank sudah melakukan sejumlah pertemuan untuk mencari jalan keluar atas persoalan kredit macet almarhum istrinya.

Namun hingga saat ini belum membuahkan hasil sehingga dirinya berinisiatif untuk menyerahkan surat langsung kepada Presiden Prabowo. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.